Perlu Tahu, Kegunaan dan Efektifitas Terapi Oksigen Hiperbarik untuk Pasien HIV/AIDS

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh SehatQ

Apa itu terapi oksigen hiperbarik? Masyarakat luas banyak yang belum mengenal terapi tersebut. Terapi oksigen hiperbarik merupakan suatu terapi yang digunakan untuk meningkatkan penyembuhan secara alami oleh tubuh dengan cara menghirup oksigen murni 100% di dalam ruangan bertekanan barometer tinggi (hyperbaric). Dimana kondisi ruangan (hyperbaric chamber) harus memiliki tekanan yang lebih tinggi dari tekanan dalam jaringan tubuh (1 atmosfer). Dalam kondisi tubuh normal, oksigen mengalir didalam tubuh yang hanya diangkut oleh sel darah merah saja. Diharapkan dengan terapi oksigen hiperbarik ini, asupan oksigen murni 100% ini mampu bersirkulasi ke seluruh tubuh termasuk mampu mencapai jaringan dan organ yang rusak untuk meningkatkan kemampuan sel darah putih dalam membunuh bakteri atau mengurangi pembengkakan sehingga mempercepat penyembuhan suatu penyakit. 

Pada penelitian ini, terapi oksigen hiperbarik akan diaplikasikan pada pasien HIV/AIDS. Berdasarkan panduan dari WHO, pasien HIV/AIDS harus mengkonsumsi antiretroviral seumur hidup untuk menjaga kondisi pasien HIV/AIDS. Konsumsi antiretroviral ini mampu meningkatkan kualitas hidup pasien HIV/AIDS. Tetapi dengan mengkonsumsi antiretroviral secara terus-menerus juga dapat menyebabkan dampak yang negatif bagi si pasien yaitu dapat menyebabkan resistensi antiretroviral. Pasien HIV/AIDS akan kebal dengan jenis antiretroviral tersebut sehingga pengobatan yang selama ini dikonsumsi tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Hal ini disebabkan karena sifat mutagenik virus HIV yang tinggi sehingga cepat sekali virus HIV bermutasi/berubah sifatnya. Kondisi seperti ini tidak malah memperbaiki kondisi pasien tetapi malah memperburuk kondisi pasien HIV/AIDS. Oleh karena itu terapi oksigen hiperbarik ini diharapkan mampu meningkatkan respons imun (sel limfosit T) dan mampu menekan proses replikasi virus HIV didalam tubuh. Sehingga pasien HIV/AIDS mampu menjaga kondisinya tanpa mengkonsumsi antiretroviral lagi.

Dalam penelitian ini, terapi oksigen hiperbarik dilakukan dalam skala invitro yaitu dengan menggunakan isolat virus HIV tipe 1 (kultur virus HIV-1) yang kemudian diberikan paparan oksigen 100% dengan tekanan sebesar 2.4 atmosfer. Pemberian dosis yang digunakan bervariasi per hari  selama 5 hari. Indikator keberhasilan pemberian terapi oksigen hiperbarik ini  adalah dengan membandingkan jumlah virus HIV setelah mendapatkan paparan oksigen hiperbarik dan tanpa paparan oksigen hiperbarik (kontrol).

Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan adanya paparan oksigen hiperbarik  jumlah virus HIV pada kultur sel HIV-1 lebih rendah daripada kultur sel HIV-1 tanpa mendapatkan paparan oksigen hiperbarik (kontrol). Pemberian dosis yang paling efektif adalah paparan oksigen hiperbarik diberikan 3 x 30 menit selama 5 hari pada kondisi 100% oksigen dan tekanan 2,4 atmosfer. Dosis tersebut merupakan dosis paling efektif dalam menghambat proses replikasi virus HIV. Dari hasil penelitian ini membuktikan bahwa terapi oksigen hiperbarik dapat diaplikasikan untuk pasien HIV/AIDS dalam rangka untuk meningkatkan kualitas hidup pasien HIV/AIDS tanpa mengkonsumsi antiretroviral seumur hidup. Tetapi penelitian ini masih dalam skala invitro sehingga masih diperlukan penelitian lanjutan untuk membuktikan keefektifan terapi ini.

Penulis: Siti Qamariyah Khairunisa, S.Si., M.Si

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: Budiart, R, et.al. (2020). Hyperbaric hyperoxia exposure in suppressing human immunodeficiency virus replication: An experimental in vitro in peripheral mononuclear blood cells culture. African Journal of Infectious Diseases  Vol. 12, No. S1. Available oline at https://doi.org/10.4081/idr.2020.8743

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu