Apakah Nilai-Nilai Religius masih Mempunyai Tempat pada Praktik Klinis Kedokteran?

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi praktik klinis kedokteran. (Sumber: FK UNAIR)

Ada banyak hal yang mempengaruhi kualitas pelayanan kesehatan, baik dari segi eksternal seperti sarana dan prasarana, maupun dari segi internal sang pemberi pelayanan yakni tenaga kesehatan itu sendiri. Penelitian yang ada saat ini, menunjukkan bahwa tenaga kesehatan profesional seringkali menjalankan praktik berdasarkan nilai-nilai pribadinya, termasuk nilai-nilai yang berkaitan dengan keyakinan, dan niai-nilai tersebut berpengaruh terhadap pengobatan dalam beberapa cara.

Namun, sejauh apa sebenarnya nilai-nilai pribadi tenaga kesehatan professional tersebut berpengaruh terhadap layanan yang diberikannya kepada pasien? Apakah mungkin seorang tenaga kesehatan dapat sepenuhnya bersifat netral dengan benar-benar memilah dan memisahkan nilai-nilai pribadinya ketika berinteraksi dan memberikan layanan kepada pasien? Apakah nilai-nilai pribadi tersebut, baik nilai religius, spiritual, ateistik atau agnostik, harus menghalangi dokter untuk memberikan perawatan yang profesional dan berpusat pada pasien?

Berangkat dari rasa keingintahuan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, sebuah penelitian tentang nilai religius dalam praktik klinis dilakukan oleh tim peneliti dari beberapa negara termasuk pakar psikiatri dari Universitas Airlangga, Azimatul Karimah, dr.,Sp.KJ(K).

Beauchamp dan Childress dalam karya terkenal mereka ‘Prinsip-prinsip Etika Biomedis’ menyajikan empat prinsip dasar berbasis nilai untuk membimbing para profesional kesehatan: (1) penghormatan atas otonomi, (2) berpantang melukai, (3) prinsip pengabdian dan (4) prinsip keadilan. Sebagian besar pasien akan setuju bahwa dokter yang baik menganut empat prinsip di atas, tetapi pasien berhak untuk menentang pengaruh nilai-nilai pribadi dokter apabila hal ini dirasakan tidak sesuai dengan pasien.

Dalam budaya yang sangat sekuler, pasien sering mengharapkan dokter untuk meninggalkan nilai-nilai religiusitas atau nilai-nilai atheisme pribadi keluar dari konsultasi sepenuhnya. Tetapi apakah kesenjangan antara dokter dan pasien ini menguntungkan? Belumlah jelas. Seorang dokter yang memiliki sikap sekuler mungkin gagal untuk memahami seorang pasien yang sedang di akhir hayat yang secara terbuka menyatakan bahwa dia membutuhkan nasihat dari seorang pemuka agama tentang bagaimana perawatan akhir hayat yang paling baik untuk mendukung peralihannya ke kehidupan setelahnya.

Azimatul Karimah dan tim menyatakan bahwa, selama dekade terakhir, penelitian telah menunjukkan bahwa nilai-nilai personal dokter termasuk agama (religious), memengaruhi (1) hubungan empatik mereka dengan pasien, (2) sudut pandang etis dan (3) pemahaman praktik sendiri. Dokter yang religius juga lebih cenderung mendiskusikan masalah religiusitas atau spiritualitas dengan pasien, merujuk pasien mereka ke fasilitas kesehatan mental dan lebih mungkin untuk menerima pendeta, profesional pastoral, atau pemuka agama lainnya dalam perawatan pasien mereka. Dan mereka juga jarang melaporkan bahwa mereka harus membuka informasi atau merujuk terkait prosedur medis yang bertolak belakang dengan religiusitas personal mereka yang bersifat prinsip terhadap prosedur medis tertentu. Sebaliknya, penelitian juga telah menunjukkan bahwa spiritualitas pribadi memperdalam empati dari dokter dan rasa kebutuhan eksistensial pasien.

Di Eropa, gereja Kristen menjadi otoritas utama dalam merawat orang sakit, biara-biara dan rumah sakit didirikan oleh gereja pada kerangka moral yang didasarkan pada ajaran agama, altruisme dan tradisi diakonat. Terinspirasi oleh Injil, termasuk kisah Orang Samaria yang Baik, perawatan dan obat-obatan yang dipraktekkan di dalam lembaga-lembaga ini disampaikan sebagai perluasan ajaran agama.

Muslim mungkin melihat kanker yang baru didiagnosis sebagai kehendak Allah dan bahkan sebagai metode untuk berhubungan dengan Allah, sedangkan dalam konteks Hindu mengikuti konsep Karma, penyakit ini bisa dilihat sebagai konsekuensi dari kegagalan masa lalu untuk hidup menurut Dharma. Dalam kasus yang gamblang seperti ini, wajar saja apabila keyakinan tentang kesehatan dalam situasi klinis dapat diterima secara budaya.

Para dokter di kebanyakan negara maju saat ini, diperbolehkan untuk mempraktekkan pengobatan yang sesuai dengan sistem kepercayaan pribadi mereka, namun mereka masih berkewajiban untuk menjunjung norma-norma etika profesi mereka, termasuk keberpihakan kepada pasien dan menghormati keputusan  pasien itu sendiri. British Medical Association (BMA) dan British General Medical Council (GMC) seperti AMA memungkinkan dokter untuk secara sadar menolak prosedur atau perawatan yang tidak sesuai dengan sistem kepercayaan pribadi mereka dan dengan hormat merujuk pasien ke dokter lain. Baik BMA dan GMC memperdebatkan pentingnya dokter untuk menahan diri terhadap ekspresi nilai-nilai atau keyakinan sendiri, dimana ini dapat merugikan kepentingan pasien.

Dalam penelitian ini, mereka mengungkapkan bahwa tidak mungkin untuk menyelesaikan dampak nilai-nilai pribadi (baik yang dibentuk oleh ateisme atau oleh religiusitas) diluar pertemuan pasien. Sebaliknya, penting untuk fokus pada kehadiran, fungsi dan dampak nilai-nilai dalam perawatan kesehatan untuk menjamin kebebasan dan otonomi dari nilai-nilai dokter dan pasien. Menurut pendapat mereka, konsep dokter yang sepenuhnya mempunyai tata nilai yang netral, bebas dari pengaruh nilai-nilai pribadi dan memilah-milah informasi yang sarat nilai ketika berbicara dengan pasien, hanyalah sebuah ide yang tidak realistis dengan bukti  yang ada. Masih tidak ada alasan untuk menduga bahwa nilai-nilai pribadi harus menghalangi dokter untuk memberikan perawatan yang profesional dan berpusat pada pasien.

Azimatul Karimah dan tim menegaskan kembali bahwa pemerintah, pemasok layanan kesehatan dan asosiasi medis di seluruh dunia harus menerima kenyataan ini dan bepikiran terbuka terhadap masa depan dimana pemanfaatan nilai-nilai pribadi tercakup dalam seluruh rantai karir profesional medis, dari kurikulum di sekolah kedokteran hingga pelatihan klinis profesional.

Penulis: Azimatul Karimah

Sumber dan alih bahasa dari : Religious Values in Clinical Practice are Here to Stay. Journal of Religion and Health, Vol. 52 Num 3. https://doi.org/10.1007/s10943-018-0715-y

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu