Prediktor Keberhasilan Pengobatan Kanker Kelenjar Getah Bening

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Bola.com

Kanker kelenjar getah bening atau dikenal sebagai limfoma maligna masih menjadi masalah kesehatan yang cukup penting karena merupakan kanker ke-6 terbanyak penderitanya. Pada tahun 2013, jumlah penderita NHL dari setiap subtipe histologis sekitar 2,96 juta di seluruh dunia, dengan kematian sebanyak 226.000 pasien. Limfoma dapat dikenali dengan beberapa gejala antara lain benjolan di kelenjar getah bening, tersering leher, ketiak, dan selangkangan. Dapat juga didapatkan pembesaran limpa, liver dan abnormalitas pemeriksaan darah tepi. Gejala lain yang tidak spesifik adalah penurunan berat badan, demam, dan keringat malam. Kanker kelenjar getah bening berdasarkan gambaran patologinya dibagi menjadi 2, yaitu Limfoma Hodgkin (LH) dan Limfoma Non Hodgkin (LNH). Modalitas utama pengobatan limfoma adalah kemoterapi, yaitu pemberian obat sitostatika, biasanya melalui infus. Untuk penderita LNH obat kemoterapi yang diberikan disebut regimen R-CHOP.

Lymphoma Non Hodgkin memiliki lagi beberapa subtype antara lain tipe limfoma difus sel B (DLBCL). Subtipe ini memiliki angka kekambuhan yang cukup tinggi, meskipun biasanya mencapai remisi setelah pemberian kemoterapi pertama. Respon terhadap terapi sering kali dipengaruhi oleh banyak faktor termasuk jenis kelamin, ras, usia, tingkat laktat dehidrogenase, stadium Ann Arbor, dan keterlibatan ekstranodal (non kelenjar).  Beberapa pemeriksaan modern yang menjanjikan sebagai predictor telah diteliti, seperti evaluasi profil ekspresi gen dan imunohistokimia, tetapi tes ini memerlukan pemeriksaan molekuler yang mahal sehingga menghalangi penerapannya dan membatasi penggunaannya yang luas. Dilaporkan bahwa 20-40% pasien DLBCL mengalami progresi penyakit, relaps, dan kematian setelah menjalani kemoterapi standar. Kumpulan data telah melaporkan beberapa prediktor untuk memprediksi hasil klinis pasien dengan DLBCL. Sebuah penelitian menemukan bahwa pasien dengan DLBCL yang kambuh memiliki tingkat kelangsungan hidup 5 tahun hanya <50%; oleh karena itu, merupakan tantangan bagi para ahli untuk menemukan faktor prediktif baru yang lebih dapat diterapkan

Sebuah penelitian di RSUD dr. Soetomo Surabaya, Indonesia bertujuan untuk mengetahui profil faktor prediktor yang meliputi umur, laboratorium LDH, stadium, keterlibatan selain kelenjar (ekstranodal) dan rasio limfosit-monosit (LMR). Kadar LDH yang tinggi menggambarkan turn over sel ganas yang cepat dan tumor yang besar. Stadium dilihat dari jumlah dan letak kelenjar getah bening yang terlibat. Dari penelitian ini ternyata didapatkan bahwa pada penderita lansia ≥60 tahun, LDH tinggi ≥200 U/l, penyakit stadium awal, keterlibatan ekstranodal dan LMR <2,6 memiliki risiko lebih tinggi untuk tidak responsif terhadap kemoterapi.

Penulis: DR. S Ugroseno Yudho Bintoro, dr SpPD KHOM

Informasi lebih detail riset dari tulisan ini dapat dilihat di: https://www.semanticscholar.org/paper/Profile-of-Predictive-Factors-of-Response-to-in-in-Dilliawan-Ugroseno/d478b2f2b8bd6392433d680ebcff25b1b1d325fe

Mochammad Dilliawan, Siprianus Ugroseno Yudho Bintoro, Putu Niken Ayu Amrita. Profile of Predictive Factors of Response to Therapy in Patients with Diffuse Large B-cell Lymphoma in dr Soetomo General Teaching Hospital Surabaya. J Int Dent Med Res 2020; 13 (2): 801-807.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu