Rekonstruksi Lambat untuk Necrotizing Fasciitis Kelopak Mata

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Alodokter.com

Necrotizing fasciitis (NF) adalah infeksi yang sangat berat, dan progresif dengan angka kematian yang tinggi (14,42%). Infeksi ini menyerang jaringan subkutan di bawah fasia yang ditandai dengan nekrosis jaringan di sekitarnya. Keadaan ini dapat terjadi pada anak-anak (sangat jarang) dan orang dewasa. Necrotizing fasciitis periorbital terlihat terutama pada orang dewasa dengan dominasi wanita (54%); sekitar setengah (47%) dari pasien sebelumnya sehat. Ini sebagian besar diikuti setelah trauma dan hanya 28% kasus tidak memiliki penyebab yang diidentifikasi. Organisme penyebab kasus periorbital Necrotizing fasciitis terutama adalah Streptococcus b-hemolitik (50%) dan kadang-kadang dikombinasikan dengan staphylococcus aureus (18%). Necrotizing fasciitis jarang mengenai daerah kepala dan leher, dan sangat jarang mengenai daerah periorbital. Penundaan antara debridemen awal dan memulai terapi antibiotik spektrum luas parenteral harus dianggap sebagai faktor paling kritis yang mempengaruhi morbiditas dan mortalitas.

Penulis melaporkan kasus seorang wanita berusia 42 tahun dengan keluhan pembengkakan kelopak mata kanan dengan jaringan berwarna kehitaman disekitarnya disertai produksi nanah masif sejak satu minggu sebelum dirawat di rumah sakit. Terdapat nyeri minimal dan demam ringan. Tidak ada riwayat penyakit sistemik dan riwayat penyakit lain. Standar emas untuk mendeteksi infeksi dengan nekrosis jaringan lunak adalah dengan melakukan beberapa biopsi jaringan selama eksplorasi dan debridemen luka. Adanya nekrosis fasia dan mionekrosis merupakan indikasi necrotizing fasciitis. Indikator Laboratorium untuk Necrotizing Fasciitis (LRINEC) dikembangkan pada tahun 2004 oleh Wong dan rekan untuk membantu penegakan NF dan menghilangkan kemungkinan infeksi jaringan tubuh lainnya. Dan telah dilaporkan bahwa LRINEC dapat menjadi panduan awal dalam mengenali NF. Skor minimal enam menunjukkan NF. Penatalaksanaan NF merupakan kombinasi dari debridemen, antibiotik yang sesuai dan oksigenasi optimal dari jaringan yang terinfeksi.

Uji laboratorium pada pasien ini yang menunjukkan kadar gula darah tinggi 283 g/dL; CRP 529,6; dan leukosit 11250 g/dL. Sedangkan hasil laboratorium lain masih dalam batas normal. Didapatkan skor 6 yang diindikasikan untuk Necrotizing Fasciitis. CT scan menunjukkan bahwa lesi hanya terlokalisasi pada lamela anterior palpebra superior dan tidak meluas ke orbita. Bola mata utuh dan tidak ada peradangan di dalam bola mata. Eksisi lokal yang luas dan debridemen segera dilakukan pada hari pertama pasien masuk. Kemudian juga dipantau kadar glukosa darahnya dan pengobatan antibiotik diberikan secara intravena selama seminggu.

Dalam hal ini defeknya cukup besar pada area palpebra superior mata kanan, perlu dilakukan rekonstruksi yang baik. Masalahnya, banyak sekali jaringan nekrotik yang dapat mengurangi vaskularisasi jaringan, sehingga jaringan nekrotik harus dibersihkan dulu, dan vaskularisasi jaringan yang defek menjadi lebih baik. Rekonstruksi bedah lebih lanjut dilakukan dua minggu setelah onset. Dilakukan flap rotasi, dari kulit di area frontal sehingga area defek dapat menerima vaskularisasi yang baik. Sebagian kulit diselipkan ke daerah temporal kanan dan dijahitkan pada kelopak mata yang defek. Tarsorafi sementara dilakukan selama seminggu untuk membantu kelopak mata menutup sementara proses penyembuhan selesai. Hasil rekonstruksi pada pasien ini sangat baik, dari sisi anatomi maupun fungsional.

Sebagai kesimpulan, rekonstruksi untuk menutup defek yang diakibatkan oleh necrotizing fasciitis tidak perlu dilakukan dengan segera. Eksisi lokal yang luas dan debridemen harus dilakukan segera untuk memperbaiki vaskularisasi, disamping pemberian antibiotik secara sistemik. Setelah vaskularisasi jaringan yang defek terlihat baik, baru dilakukan rekonstruksi untuk menutup defek. Pemilihan penutupan defek dengan flap dilakukan karena memberikan vaskularisasi yang lebih baik dari pada graft.

Penulis: dr. Sutjipto, SpM(K)

Informasi detail dari artikel ini dapat diakses pada laman berikut: https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/441/1/012170/pdf

(Late Eyelid Reconstruction of Necrotizing Fasciitis)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu