Hubungan Status Mutasi Gen FLT3-ITD, -TKD (D835) dengan Jumlah Blast, Status Ekspresi CD34, Ekspresi Bcl-xL, Cyclin D1 dan hENT1 pada Penderita Leukemia Mieloid Akut

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi mutasi gen pada manusia. (Sumber: National Geographic Indonesia)

Leukemia mieloid akut (LMA) merupakan penyakit keganasan hematologi yang disebabkan adanya kelainan klonal dari sel induk hematopoitik yang bersifat heterogen dalam hal gambaran klinis maupun kelainan genetik yang mendasari. Keganasan hematologi pada saat ini merupakan masalah kesehatan yang makin meningkat di Indonesia bahkan di dunia. Pada saat ini diperkirakan di Indonesia hanya 20% kasus leukemia yang dirawat dengan terapi adekuat di rumah sakit.

Angka kegagalan terapi pada penderita LMA baik anak dan dewasa cukup tinggi yang ditandai tingginya angka kekambuhan, rendahnya ketahanan hidup bebas penyakit yaitu sekitar 15 – 20% dalam 5 tahun. Hal tersebut disebabkan karena belum ditentukannya pemilihan terapi berdasarkan klasifikasi risiko prognosis secara tepat.  Deteksi mutasi gen memiliki peranan penting pada klasifikasi dan penentuan prognosis LMA lebih lanjut. Panduan tatalaksana klinik membagi LMA menjadi tiga kelompok risiko prognosis yaitu kelompok risiko baik (favorable), intermediet, dan buruk berdasarkan status kelainan sitogenetik dan molekuler penderita. Mutasi gen FMS like tyrosin kinase 3 – internal tandem duplication (FLT3-ITD)   merupakan mutasi yang cukup sering ditemukan pada penderita LMA. Mutasi gen FLT3-ITD terjadi akibat adanya insersi dan duplikasi sejumlah basa kelipatan 3 pada gen FLT3 ekson 14 dan 15.

Deteksi mutasi gen FLT3 sangat penting dilakukan sebagai dasar pertimbangan terapi LMA berdasarkan kelompok  risiko prognosis, karena penderita LMA dengan kelainan sitogenetik dan mutasi gen apapun bila disertai adanya mutasi gen FLT3 akan dikelompokkan ke dalam kelompok risiko buruk. Hanya sepertiga penderita LMA dewasa dengan mutasi gen FLT3 dapat mencapai remisi lengkap sehingga adanya mutasi gen  FLT3 merupakan faktor prognostik tunggal yang kuat penderita LMA, yang berhubungan dengan progresi penyakit, tingginya kekambuhan, dan rendahnya ketahanan hidup dengan median ketahanan hidup 10 bulan.

Kontroversi hubungan mutasi gen FLT3 dengan jumlah blast sumsum tulang dan ekspresi cluster of differentiation 34+ (CD34+) dilaporkan pada beberapa penelitian terdahulu. Aktivasi reseptor FLT3 mempengaruhi jumlah sel blast dengan ekspresi CD34+ sumsum tulang melalui kombinasi peningkatan aktivitas jalur proliferasi dan jalur antiapoptosis. Pengaruh mutasi gen FLT3-ITD mengakibatkan terjadinya hambatan fosfatase seluler yang menyebabkan amplifikasi dan multiplikasi efek proliferasi, hambatan proses apoptosis yang ditandai peningkatan protein anti apoptosis dan blokade diferensiasi.

Cytosine arabinoside (ara-C) merupakan tulang punggung utama kemoterapi fase induksi dan konsolidasi pada pengobatan LMA. Penelitian sebelumnya melaporkan kejadian resistensi sel blast terhadap ara-C karena adanya gangguan kuantitatif dan kualitatif human equilibrative nucleoside transporter 1 (hENT1), suatu transporter influks ara-C masuk sel blast. Hubungan mutasi gen FLT3-ITD, –TKD (D835) dengan  jumlah blast, status ekspresi CD34, ekspresi Bcl-xL (penanda antiapoptosis), cyclin D1 (penanda proliferasi sel), dan hENT1 penderita perlu diteliti lebih lanjut, karena informasi tersebut diharapkan dapat menyempurnakan pemberian terapi LMA berdasarkan klasifikasi risiko khususnya bila disertai mutasi gen FLT3.

Penelitian ini merupakan penelitian observasional eksplanasi dengan rancangan cross sectional. Populasi target adalah penderita leukemia mieloid akut (LMA) baru yang dirawat di rumah sakit pemerintah dan swasta di Surabaya pada periode tahun 2018-2019. Pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling yaitu sejumlah 22 penderita LMA yang memenuhi kriteria penerimaan sampel dimasukkan secara berurutan hingga jumlah sampel terpenuhi. Pengambilan sampel tersebut dilakukan di rumah sakit kota Surabaya dengan prosedur baku. Pelaksanaan penelitian dilakukan di departemen biokimia, departemen patologi klinik FKUA/RS dr Soetomo, laboratorium Biokimia Kedokteran FK UNAIR  dan TDC (Tropical Disease Centre ) UNAIR Surabaya.

Spesimen pemeriksaan berupa 2 ml sisa darah aspirat sumsum tulang penderita LMA, spesimen merupakan sisa bahan pemeriksaan rutin diagnostik untuk menegakkan diagnosis LMA. Teknik PCR (Polymerase Chain Reaction) digunakan untuk deteksi mutasi gen FLT3-ITD. Pada wild type gen FLT3-ITD akan dihasilkan fragment DNA sepanjang 329 bp sedangkan mutan gen FLT3-ITD akan dihasilkan 2 fragmen sepanjang 329 bp dan lebih dari 329 bp. Pemeriksaan ekspresi CD34, hENT1, cyclin D1 dan Bcl-xL dilakukan dengan flowcytometry immunophenotyping menggunakan antibodi monoclonal berlabel fluoresen. Dari hasil pemeriksaan didapatkan sejumlah 5 orang penderita LMA (22,7%) memiliki mutasi gen FLT3-ITD. Mutasi tersebut berhubungan bermakna dengan jumlah sel blast sumsum tulang yang lebih tinggi. Pada penderita LMA dengan mutasi gen FLT3-ITD, ekspresi CD34 dan cyclin D1 lebih tinggi bermakna daripada penderita tanpa mutasi. Penderita LMA dengan mutasi tersebut memiliki ekspresi hENT1 lebih rendah daripada penderita tanpa mutasi.

Pada penderita LMA dengan mutasi gen FLT3-ITD didapatkan adanya hubungan bermakna dengan jumlah sel blast sumsum tulang, ekspresi CD34, cyclin D1 dan hENT1. Temuan ini mendukung peran mutasi pada patogenesis LMA dan berkontribusi pada pengaturan kembali terapi standard dengan ara-C pada penderita LMA.

Penulis : Paulus Budiono Notopuro

Artikel lengkapnya dapat diakses pada link berikut ini:

Iranian Journal of Pathology, Vol 15 no 4, tahun 2020 (SCOPUS Q4)

http://ijp.iranpath.org/article_43603.html doi : 10.30699/IJP.2020.122579.2328

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu