Penanganan Coronavirus di Italia: Respon dan Strategi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh wartaekonomi.co.id

Coronavirus di Italia telah memakan banyak korban dengan lebih dari tiga puluh ribu orang meninggal dunia dan lebih dari dua ratus ribu orang terinfeksi per tanggal 27 Juli 2020. Penyebab banyaknya orang yang terinfeksi Coronavirus di Italia adalah budaya di sana yang mana masyarakatnya seringkali kontak fisik apabila bertemu dengan orang lain. Seperti berpelukan, cium pipi ketika bertemu keluarga, saudara, atau teman. Ketika mereka berbicara pun juga tidak berjarak antara satu dengan yang lainnya. Ditambah lagi dua per tiga dari warga Italia tinggal di tempat padat penduduk seperti Roma dan Milan. Kedua wilayah tersebut juga menjadi tempat bisnis dan wisata sehingga banyak warga asing yang mengunjungi kedua kota tersebut.

Dalam mengatasi virus ini pemerintah Italia cenderung terlambat dan tidak siap. Virus telah menyebar dan pemerintah gagal melakukan deteksi dini dari persebaran virus. Transmisi virus di dalam wilayah Italia semakin meningkat dan Italia semakin sulit mengendalikan persebaran virus. Pada tanggal 06 Maret 2020, Italia menjadi salah satu negara dengan kasus Covid-19 terburuk di dunia. Pemerintah segera melakukan pelarangan penerbangan dari dan ke Tiongkok, menunda kegiatan-kegiatan besar, menutup insititusi pendidikan dan melakukan disinfeksi tempat-tempat umum seperti bandara. Pada tanggal 08 Oktober pemerintah memberlakukan lockdown di seluruh wilayah Italia.

Terdapat dua alasan mengapa Italia cenderung terlambat memberlakukan lockdown. Alasan pertama yaitu Italia tidak pernah memiliki pengalaman yang relevan terkait krisis kesehatan publik. Kedua yaitu adanya fragmentasi di dalam pemerintahan dalam menangani krisis ini semakin membuat adanya kebingungan bagaimana seharusnya merespon keadaan krisis ini. Lockdown yang efektif membutuhkan intervensi sangat awal, aturan yang jelas, dan penegakan yang ketat. Namun justru para elit politik Italia semakin mempolitisasi isu dan saling menjatuhkan satu dengan yang lainnya.

Kebijakan lockdown berhasil menekan pergerakan manusia, turun sampai 40%. Banyak perusahaan memberlakukan kebijakan bekerja dari rumah yang semakin membuat kurva infeksi virus corona melandai. Kebijakan ini juga mampu membuat Italia mempersiapkan sistem kesehatannya untuk menghadapi gelombang virus yang kedua. Namun di sisi lain, 8 dari 10 warga Italia membutuhkan dukungan psikologis dalam mengatasi keadaan pandemic seperti ini. Banyak yang menderita depresi, kekhawatiran berlebih, dan kesepian. Selain itu juga perekonomian masyarakat Italia terganggu. Warga Italia khawatir bagaimana mereka dapat memenuhi kehidupan sehari-hari ketika mereka terpaksa menghadapi pemutusan kerja. Pada awal Maret 2020, 37 orang telah melakukan bunuh diri, dan 25 orang melakukan percobaan bunuh diri. Selama masa pandemic pengangguran meningkat mencapai 11,6%; 10 juta warga Italia diperkirakan akan menghadapi kemiskinan dan tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari seperti makanan, obat-obatan dan tempat tinggal.

Pemerintah memberikan bantuan ekonomi kepada masyarakatnya sebesar 3,3 miliar euro untuk didistribusikan ke wilayah-wilayah di Italia. Bantuan dana ini untuk membantu perusahaan mikro, kecil dan menengah agar dapat bertahan di masa pandemic. Selain itu juga dana itu digunakan untuk meng-cover 80% gaji warga selama kebijakan lockdown berlangsung. Negara juga menjamin adanya peminjaman hutang jangka pendek dan memberikan persyaratan yang ringan. Selain itu juga pemerintah mengerahkan psikolog untuk membantu masyarakat terkait dengan mental kesehatan melalui call center. Call center ini telah membantu 750 warga yang kesepian, ketakutan, dan gangguan kepanikan. Sektor pertanian di mana sektor yang masih menghasilkan di Italia semakin dimanfaatkan oleh pemerintah untuk mengurangi angka pengangguran. Asosiasi Agrikultural di Italia bahkan telah mendirikan situs lowongan kerja dan sudah lebih dari 20,000 warga mendaftar untuk bekerja di sektor ini.

Penulis: Fadhila Inas Pratiwi, MA.

Informasi detail dari artikel ini dapat diakses pada laman berikut: https://e-journal.unair.ac.id/JGS/article/view/21322

(Italy on Covid-19: Response and Strategy)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu