Hubungan antara Ketersediaan Toilet dan Kebiasaan Mencuci Tangan dengan Kejadian Stunting

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh detik health

Stunting adalah keadaan tubuh pendek atau sangat pendek yang melebihi – 2SD di bawah median berdasarkan tinggi badan menurut umur. Stunting menggambarkan keadaan malnutrisi kronis dan anak membutuhkan waktu untuk berkembang dan pulih kembali tinggi badan anak normal menurut usianya. Data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan prevalensi stunting pada balita di Indonesia sebesar 30,8% atau sekitar 7,8 juta balita menderita stunting. Prevalensi stunting di Indonesia sudah menurun pada tahun 2018 dibandingkan tahun 2013, dengan prevalensi persentase 37,2% terdiri dari 18,0% sangat pendek dan 19,2% pendek.

Target angka stunting pada bayi di  Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJMN) tahun 2019 (yaitu sebesar 28%) belum tercapai. Jadi persentase stunting di Indonesia adalah masih menjadi masalah kesehatan yang harus diatasi. Berdasarkan data sekunder dari Kota Tanjungpinang Tahun 2018, ditemukan balita yang mengalami stunting yang paling parah terjadi di wilayah Puskesmas Kampung Bugis yaitu 131 balita dari 448 anak usia 24-59 bulan mengalami stunting pertumbuhan. Kondisi infeksi pencernaan, terutama diare, masih banyak ditemukan di kawasan Puskesmas Kampung Bugis, yaitu sebanyak 528 kasus pada Tahun 2018.

Dari 82 anak balita yang menjadi penelitian di Kampung Bugis terdapat 28 anak (34,1%) yang mengalami stunting. Dari jumlah 82 responden terdapat 58 orang (70,7%) memiliki jamban yang memenuhi  syarat sanitasi sedangkan 24 orang (29,3%) tidak memiliki jamban yang memenuhi syarat sanitasi. Dari 58 orang responden yang memiliki jamban yang memenuhi syarat sanitasi  terdapat 53 orang  (91,4%) yang memiliki anak yang normal dan ada 5 orang  (8,6%) yang memiliki anak stunting. Pada responden yang tidak memiliki jamban yang memenuhi syarat sanitasi (24 orang) terdapat 1 orang (4,2%) yang memiliki anak yang pertumbuhannya normal sedangkan 23 orang (95,8%) memiliki anak stunting. Terdapat hubungan yang signifikan antara stunting pada anak dengan ketersediaan jamban yang memenuhi syarat sanitasi (p = 0.016).  Terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan mencuci tangan pakai sabun dengan stunting (p=0,013). Hal ini bisa dijelaskan dari hasil penelitian, bahwa yang mempunyai kebiasaan cuci tangan pakai sabun sebesar 65 orang, terdapat 52 orang (80%) yang perkembangan anaknya normal dan 13 orang (20%) yang anaknya stunting. Sedangkan  orang yang tidak memiliki kebiasaan cuci tangan pakai sabun sebesar 17 orang,  15 orang (88,2%) anaknya mengalami stunting.

Penyediaan toilet yang memenuhi persyaratan sanitasi dan kebiasaan mencuci tangan pakai sabun adalah sebuah tindakan yang erat kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan gizi dan kejadian diare (7,15). Jenis jamban yang memenuhi syarat sanitasi dan kebiasaan cuci tangan pakai sabun, terutama setelah buang air besar, ataupun setelah membuang tinja anak, sebelum memberi makan anak dan setelah makan akan memperpendek rantai penularan penyakit. Status gizi anak merupakan salah satu indikator dari kesehatan anak. Biasanya anak sehat dengan bertambahnya usia juga menambah berat badan dan tinggi badan disertai dengan pertumbuhan dan perkembangan yang baik sesuai usianya. Ketentuan umum dalam mengukur status gizi adalah menggunakan parameter standar antropometri.

Ada hubungan yang signifikan antara ketersediaan jamban yang memenuhi syarat sanitasi dan stunting pada anak  berusia 24-59 bulan di Kampung Bugis Kota Tanjungpinang. Salah satu penyebabnya adalah jamban yang tidak memenuhi syarat sanitasi menyebabkan pembuangan feses yang bisa mengkontaminasi ke tanah dan ke air laut. Ini bisa menyebabkan seringnya penyakit diare yang bisa berkontribusi untuk pertumbuhan stunting pada anak. Dampak dari penyakit diare berulang telah dilaporkan mempengaruhi tumbuh kembang anak yang optimal dan mengakibatkan anak yg mengalami stunting. Hal ini mirip dengan penelitian sebelumnya yang melaporkan adanya hubungan yang signifikan antara jenis jamban dan stunting pada anak. Jenis jamban yang tidak sesuai (bukan leher angsa) yang dimiliki kecenderungan untuk dikaitkan dengan stunting pada tingkat 1,3 kali lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang sudah layak kakus.

Studi lain dari Fatmawatim et al. di Tahun 2017 juga menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan air bersih, penggunaan jamban sehat dan perilaku cuci tangan pakai sabun dengan kasus penyakit menular, terutama diare. Kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan di Wilayah Puskesmas Kampung Bugis Kota Tanjungpinang dipengaruhi oleh ketersediaan jamban yang memenuhi syarat sanitasi di setiap rumah dan kebiasaan cuci tangan pakai sabun.  

Penulis: Lilis Sulistyorini

Link terkait artikel di atas: Association Between Toilet Availability and Handwashing Habits and the Incidence of Stunting in Young Children in Tanjung Pinang City, Indonesia

https://medic.upm.edu.my/upload/dokumen/2020042010323930_MJMHS_0449.pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).