Gagas Pengembangan Pendidikan di Masa Pandemi, 3 Mahasiswa Psikologi Raih Best Innovation

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
NI Luh Ayu W.S.K, Elda Artamevia, dan Belinda Fidi Madani, sebagai pemenang Best Innovation dalam sesi tanya jawab saat puncak acara Konferensi Mahasiswa Merdeka Belajar (KMMB). (Foto: Istimewa)
NI Luh Ayu W.S.K, Elda Artamevia, dan Belinda Fidi Madani, sebagai pemenang Best Innovation dalam sesi tanya jawab saat puncak acara Konferensi Mahasiswa Merdeka Belajar (KMMB). (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Tiga mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR) berhasil meraih Best Innovation dalam National E-Presentation Competition (NEPC). Mereka adalah Ni Luh Ayu W.S.K, Elda Artamevia, dan Belinda Fidi Madani. Juara itu mereka dapatkan melalui gagasan tentang pengoptimalan kebijakan sistem belajar secara offline selama masa new normal pandemi.

Dalam tanya jawab pada puncak acara di Konferensi Mahasiswa Merdeka Belajar (KMMB), ketiganya menuturkan bahwa ide itu tercetus karena melihat hilangnya aspek fasilitasi sekolah dalam perkembangan sosioemosional, terutama bagi siswa tingkat Sekolah Dasar (SD). Menurutnya, terpangkasnya jam pembelajaran yang hanya berdurasi dua jam dan hilangnya waktu istirahat  dalam pembelajaran tatap muka saat pandemi menyebabkan kurangnya interaksi siswa dengan sekeliling. Hal itu dapat mengurangi kemampuan siswa dalam ekplorasi emosi dan pengembarangan moral.

“Saat ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan memperbolehkan sekolah di zona kuning dan hijau untuk mengadakan pembelajaran tatap muka. Dengan berbasis pengembangan dari psikologi pendidikan, kami ingin membantu untuk mengoptimalkan kebijakan itu,” terang Elda sebagai perwakilan tim.

Ketiga mahasiswa tersebut menawarkan tiga gagasan baru untuk mencapai pembelajaran efektif dengan tetap memerhatikan aspek sosioemosional dan protokol kesehatan. Di antaranya yaitu penyampaian mata pelajaran dengan Mastery Learning Model, ice breaking, dan educative playing.

Mastery Learning Model, menurut Elda adalah sistem pembelajaran dimana guru memulai kelas dengan menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada hari itu. Kemudian, guru menyampaikan materi dengan cara formative assesment untuk melakukan identifikasi dan perbaikan terhadap kemampuan siswa. Tidak hanya itu, tahapan feedback dan melakukan koreksi kepada siswa juga penting dilakukan.

“Tahapan terakhir, guru dapat memberikan enrichment atau pengayaan dengan memberikan tugas secara daring kepada siswa,” terangnya.

Lebih lanjut, dia menuturkan bahwa ice breaking merupakan salah satu elemen penting untuk menghidupkan suasana kelas dan meningkatkan engagement. Ketiga mahasiswa itu memberikan beberapa rekomendasi permainan ice breaking yang bersifat fun namun tetap memerhatikan physical distancing, seperti Bos Berkata, Tiga Enam Sembilan, Menyebut Objek, dll.

“Sementara educative playing sendiri bertujuan untuk menstimulasi perkembangan anak-anak dan menggantikan jam istirahat sebagai waktu interaksi antar siswa,” tutupnya.

Penulis : Nikmatus Sholikhah

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu