Pakan, Elemen Penting Kegiatan Akuakultur

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh old.woundcareadvisor.

Industri akuakultur/perikanan budidaya merupakan sektor yang terus mengalami perkembangan dibandingkan dengan sektor perikanan tangkap. Data dari BPS (Badan Pusat Statistik) pada tahun 2017 menunjukkan bahwa produksi perikanan budidaya di Indonesia mengalami kenaikan yang cukup signifikan dari tahun 2011 (7,93 juta ton) hingga tahun 2017 (17,22 ton). Meskipun demikian, aktivitas budidaya masih perlu adanya peningkatan efisiensi pada aspek pakan.  Peningkatan efisiensi pada pakan masih diperlukan karena pemberian pakan menghabiskan biaya hampir 60-70% dari total biaya produksi untuk kegiatan budidaya. Pakan yang tidak bernutrisi tinggi juga memperlambat produksi budidaya karena rendahnya kandungan protein, mineral, lemak dan asam amino esensial tidak dapat meningkatkan pertumbuhan (growth rate) dan kelulushidupan (survival rate) secara optimal. Pada satu dekade terakhir, banyak inovasi pakan dikembangkan dari tanaman. Sayangnya penggunaan tanaman sebagai pakan ikan memiliki kelemahan, yaitu kandungan protein yang rendah, asam amino esensial yang tidak seimbang, palatibilitas yang kecil, adanya kandungan anti-nutrisi dan bersaing dengan industri lain.  Salah satu bahan yang dapat dijadikan alternatif sebagai sumber pakan adalah maggot.

Maggot (Hermetia illucens) atau yang masyarakat kenal sebagai larva serangga lalat hitam (Black soldier fly) berpotensi digunakan sebagai sumber pakan alternatif untuk ikan. Maggot memiliki kandungan 55% protein, 35% lemak, omega-3, vitamin, mineral, fiber dan asam amino essensial seperti histidin, asam gluatamat, asam aspartat, methionin dan cystine. Selain memiliki kandungan nutrisi yang tinggi, maggot memiliki banyak kelebihan untuk dimanfaatkan sebagai pakan ikan, yaitu tingkat produksi dan efisiensi pakan yang tinggi, tidak membutuhkan banyak air, produksi gas dan limbah yang rendah, resiko pathogen kecil dan mudah dibudidayakan. Karena potensi tersebut, maggot dapat digunakan sebagai pakan untuk kegiatan budidaya ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana potensi maggot sebagai bahan substitusi pada pakan ikan.

Tepung maggot difermentasi selama 7 hari dan dilakukan analisis proksimat. Penelitian ini ada dua aktivitas, yaitu membandingkan analisis proksimat antara tepung maggot yang difermentasi dengan yang tidak difermentasi dan mengetahui kemampuan tepung maggot terfermentasi sebagai substitusi pakan komersial. Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah P1 (100% pakan komersial), P2 (88% pakan komersial + 12% tepung maggot terfermentasi), P3 (86% pakan komersial + 14% tepung maggot terfermentasi), P4 (84% pakan komersial + 16% tepung maggot terfermentasi, dan P5 (82% pakan komersial + 18% tepung maggot terfermentasi) untuk membandingkan dengan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa maggot yang difermentasi memiliki protein kasar, lemak kasar, BETN (Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen), dan energi metabolisme lebih tinggi daripada yang tidak difermentasi.  Penelitian ini juga menemukan bahwa substittusi tepung maggot terfermentasi memiliki hasil analisis proksimat yang tidak berbeda nyata dengan pakan komersial 100%. Hal ini menunjukkan bahwa tepung maggot terfermentasi dapat digunakan pada pakan ikan sebagai substitusi karena harganya yang lebih murah dan memiliki kandungan nutrisi yang tidak kalah dengan tinggi dengan pakan komersial.

Penulis: Muhammad Browijoyo Santanumurti, S.Pi., M.Sc.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: https://www.scopus.com/record/display.uri?eid=2-s2.0-85082885714&origin=inward&txGid=d44fa269a96a9af90a16753afe403f59

Santanumurti, M.B., Samara, S.H., Nindarwi, D.D., Rubi’ah, L., Wantika, N., Budiana, Rusdiatin, Nila, Y.T., Suryani, E., Dzatalini, N., Al-Arif, M.A., Lokapirnasari, W.P., Alamsjah, M.A., Lamid, M. (2020). Ammonia-eliminating potential of Gracilaria sp. And zeolite: a preliminary study of the efficient ammonia eliminator in aquatic environment. In Indian Veterinary Journal (Vol. 96, No. 2, p. 43-45).

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu