Menguak ‘Sihir’ Para Pesohor

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Jawa Pos

Buku yang dieditori oleh Budiawan ini menghadirkan kajian kritis terhadap lima pesohor yang populer di Indonesia.Yakni, Sacha Stevenson, bule yang kerap berakting sebagai ‘orang Indonesia’. Juga Hansolbule Korea yang tersohor karena sering mengomentari kuliner tradisional Indonesia. Selain itu ada tiga pesohor ‘nasional’ yakni Tasya Farasya, Dwitasari, dan @budesumiyati. Berbasis perspektif filsuf Pierre Bourdieu yang tersohor dengan teori arena produksi kultural, buku ini membabar berbagai bentuk pergeseran mode penghadiran diri, rute yang dilalui, dimensi ekonomi-politik, hingga pemaknaan terhadap ketersohoran khususnya di Indonesia.Bagaimana standar ketersohoran seseorang kini diartikan? Apakah makna praktik dan ketersohoran tersebut?

Menyimak buku ini, pembaca diajak memahami bahwa fenomena banyaknya pesohor-pesohor di era digital ini ternyata memiliki konsekuensi yang signifikan tak hanya pada aspek keilmuan namun juga kebudayaan. Mengutip P. David Marshall, Budiawan menyebut adanya pergeseran budaya dan media dari sisi representasional ke presentasional. Representasi merujuk pada kenyataan bahwa dulu, ketersohoran tak bisa dilepaskan dari mekanisme dan intervensi awak media memoles dan menampilkan citra seseorang. Namun kini, semua orang yang memiliki akun media sosial bisa memoles, mengemas, mengonstruksi identitas, dan akhirnya mempresentasikan diri dengan caranya sendiri untuk hadir di depan khalayak. Implikasi dari pergeseran tersebut adalah munculnya konsep microcelebrity yang merujuk pada praktik komunikasi di mana seseorang membayangkan dirinya sebagai selebriti; suatu upaya selebrifikasi diri yang mampu menyihir khalayak. Dalam proses tersebutpesohor menunjukkan diri sebagai subjek sekaligus objek komoditas yang interaktif dan mampu menjalin hubungan emosional dengan khalayak.

Bergerak lebih mendalam dan kritis, buku ini mengungkap bahwa selain akumulasi kapital ekonomi yang diraup lewat monetisasi, fenomena bule nge-vlog soal masyarakat Indonesia bisa juga semakin memapankan oposisi biner “barat-timur”. Artinya, praktik para pesohor maya ini bisa dibaca juga sebagai suatu bentuk baru dari orientalisme. Selain itu, menjadi-pesohor maya juga merupakan sarana untuk menjadi “the new petite bourgeoisie” yang naik-kelas sosial dari tiap like dan subscribe yang didapatkan.

Penulis: Kukuh Yudha Karnanta (Dosen Departemen Sastra Inggris FIB UNAIR)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu