Licos, Solusi Pengatur Pakan Ikan dan Pengontrol Kualitas Air Karya Mahasiswa

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ILUSTRASI dari LICOS (Life Control System). (Foto: Alda dan Wahyu)
ILUSTRASI dari LICOS (Life Control System). (Foto: Alda dan Wahyu)

UNAIR NEWS – Permasalahan kerugian pada budidaya perikanan adalah hal yang selalu terjadi pada pembudidaya tradisional di Indonesia. Kualitas air sangat mempengaruhi kehidupan ikan serta manajemen pakan mempengaruhi umur dari ikan Nila (Oreochromis nilocitus). Karena itu, perlu adaya inovasi baru yang dapat meningkatkan kelangsungan hidup ikan nila

Guna meningkatkan kelangsungan hidup ikan nila, dua  mahasiswa angkatan 2019 Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (FPK UNAIR) Aulia Maulidah dan Wahyu Saputro, mencetus gagasan sistem bernama LICOS (Life Control System). LICOS telah menduduki Juara I di Lomba Karya Tulis Ilmiah Airlangga Maritime Week 2020.

LICOS merupakan inovasi alat pengatur pemberian pakan dan kualitas air otomatis untuk meningkatkan kelangsungan hidup ikan.

“LICOS berfungsi sebagai autofeeder (memberi pakan secara otomatis,Red) sekaligus dapat mengontrol parameter kualitas air, khususnya ikan Nila pada kolam budidaya semi intensif,” ungkap Mahasiswi yang kerap disapa Alda.

Alda, ketua tim, menjelaskan pakan merupakan unsur terpenting guna menunjang pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. Begitu pula dengan air yang menjadi media penting guna mendukung kehidupan ikan sehingga diperlukan kualitas air yang terkontrol dengan baik.

“LICOS dapat mengatur manajemen pakan ikan, meningkatkan dan menjaga kualitas air pada kolam budidaya tersebut,” ucap mahasiswi asal Jombang tersebut.

“Apabila LICOS dapat dioptimalkan oleh para pembudidaya bisa menjadi sebuah alat yang multifungsional dan memiliki nilai lebih jika dioperasikan,” imbuh Alda, mahasiswi program studi Akuakultur.

Kemudian Wahyu, mahasiswa program studi Teknologi Hasil Perikanan, LICOS memiliki prosesor dan nantinya dirancang dengan pemograman yang direncanakan. Awal mula tercetusnya LICOS, ia bersama Alda sangat prihatin terhadap kegagalan panen yang sebagian besar disebabkan oleh kematian ikan.

“Dengan kegagalan panen tersebut membuat pendapatan pembudidaya semi intensif menurun hingga menimbulkan banyaknya hutang antar pembudidaya,” Tutup Wahyu.

LICOS memiliki sensor untuk memeriksa parameter kualitas air seperti salinitas, suhu, DO dan pH. Parameter tersebut merupakan indikator kualitas perairan yang harus dipertahankan untuk menjamin keberlangsungan hidup ikan.

Beberapa komponen dalam LICOS ada 3, yakni Komponen Chassis dan Casing, Komponen Elektronik, dan Fish Finder. “Fish Finder merupakan sebuah alat yang digunakan untuk mengetahui lokasi adanya ikan di dalam lautan dengan mendeteksi gelombang suara yang dipantulkan, yang disebut dengan sonar,” Ujarnya.

Mekanisme kerja dari LICOS adalah proses screening keadaan perairan kolam budidaya untuk mengontrol kualitas air seperti suhu, DO, pH dan salinitas. Ketika keempat komponen dalam kondisi yang tidak baik, lanjut Wahyu, secara otomatis data diproses oleh sensory tools.

“Sebelum pengaplikasian alat perlu adanya kalibrasi sensory tools. Kalibrasi alat merupakan proses menyamakan nilai yang terukur pada alat dengan alat ukur agar sesuai dengan standar,” Tutup Wahyu. (*)

Penulis: Dimar Herfano

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu