Analisis Gen MTHFR dan Fenotipe Klinis pada Keluarga dengan Celah Langit-langit Non-Sindromik

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Sehatq.com

Sustainable Development Goals (SDGs) telah menjadi komitmen dari semua Negara di dunia termasuk Indonesia. Kesehatan bisa menjadi menjadi input sekaligus output dari pencapaian SDGs. Isu kesehatan termasuk pilar tujuan ketiga yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera dan inovasi diperlukan dari para ahli kesehatan masyarakat melalui pendekatan akademik sebagai bahan penelitian, pengabdian, pengembangan, maupun intervensi kesehatan langsung. Salah satu target SDGs kesehatan adalah terkait dengan penyakit genetik. Kondisi ini disebabkan kelainan salah satu/lebih gen atau kromosom. Sampai saat ini, belum ada tindakan preventif yang memadai untuk mengatasi penyakit genetik. Penemuan cell-free fetal DNA (cffDNA) pada sirkulasi maternal memberikan harapan baru sebagai upaya diagnosis dini khususnya pada kelainan deformitas wajah yaitu celah bibir dan atau langit-langit (CB/L).

Prevalensi kasus CB/L berbeda-beda berdasarkan variasi geografis dan ras. Kelainan tersebut didominasi oleh orang Asia dan Penduduk Asli Amerika dengan prevalensi 0,7 per 1000 kelahiran hidup di seluruh dunia dan terus meningkat, sementara Kaukasia dan Afrika cenderung memiliki risiko lebih rendah. Individu yang memiliki kelainan CB/L dapat mengalami gangguan kesehatan yang cukup serius antara lain masalah nutrisi, pendengaran, kondisi gigi, infeksi telinga, fungsi kognitif terganggu dan estetika wajah. Bagi keluarga yang anaknya menderita CB/L berdampak pada aspek psikologis, sosial, bahkan tekanan finansial karena anak tersebut harus menjalani perawatan medis secara terus menerus sejak tahun pertama kehidupannya.

Penyebab CB/L bersifat multifaktorial kombinasi antara faktor genetik dan lingkungan. Kekurangan nutrisi, kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol pada ibu, bersama dengan paparan teratogen eksternal pada awal kehamilan dilaporkan sebagai faktor risiko lingkungan yang berkontribusi pada patogenesis CB/L. Faktor genetik juga memainkan peranan penting sebagai penyebab CB/L karena tingginya angka kejadian yang diturunkan pada satu keluarga, terutama kekerabatan pada generasi pertama yang memiliki risiko lebih tinggi diturunkan dibandingkan dengan keluarga yang tidak memiliki riwayat CB/L.

Fokus penelitian yang dilakukan oleh Sosiawan dkk., (2020) berfokus tentang gen Methylenetetrahydrofolate Reductase atau disingkat dengan MTHFR. Gen MTHFR terletak di kromosom 1 (1p36,3) dan berfungsi mengkode enzim untuk asam folat, vitamin B6, B12, serta metabolisme homosistein. Saat jalur tersebut mengalami gangguan dapat mengakibatkan defisiensi metionin dan akumulasi homosistein yang berpotensi mengakibatkan kecacatan selama embriogenesis. Status gizi ibu juga dapat mempengaruhi kesehatan janin, khususnya defisiensi asam folat, asam folat dianggap berkontribusi pada patogenesis CB/L non sindromik karena kemampuannya dalam mencegah Neural Tube Defect (NTD).  Berbagai penelitian telah menjelaskan mutasi gen MTHFR pada pasien CB/L non sindromik, tetapi hasilnya tetap tidak konsisten di seluruh populasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan varian MTHFR A1298C dan C677T dari orang tua dan anaknya pada masa janin sampai terlahir yang diduga menderita CB/L di pulau Madura.

Penelitian ini melibatkan 50 keluarga yang berasal dari populasi etnis Madura. Metode yang digunakan untuk mengetahui variasi genotip  gen MTHFR A1298C dan C677T adalah Allele-specific Oligonucleotide (ASO). Materi genetik berupa DNA berasal dari ayah, ibu dan DNA janin yang berasal dari cff DNA ibu, kemudian visualisasi hasil dapat dilihat dengan elektroforesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mutasi homozigot pada A1298C teridentifikasi dalam sirkulasi cff DNA janin, sedangkan mutasi heterozigot ditemukan pada kedua orang tua. Pada kelompok ayah bergenotip wild type (normal) sebanyak 14%, heterozigot sebanyak 86%, dan homozigot mutan 0%. Pada kelompok ibu data yang bergenotip normal tercatat 6%, heterozigot sebanyak 94%, dan homozigot mutan 0%. Pada kelompok janin data yang didapat dengan genotip normal 74%, genotip heterozigot sebanyak 12% dan homozigot mutan ada 2%.

Hal menarik pada penelitian ini adalah orang tua dengan mutasi alel C677T heterozigot memiliki bayi yang alel C677T normal. Setelah lahir, bayi memiliki fenotip klinis celah langit-langit, meskipun kedua orang tuanya normal. Riset ini menunjukkan bahwa pasien CB/L non sindromik memiliki genotip yang berbeda dari  orang tuanya. Pada penelitian ini disimpulkan bahwa, hubungan antara polimofisme MTHFR C677T dan A1298C dengan risiko CB/L non sindromik pada populasi Indonesia sangat diharapkan dapat mendukung kemajuan diagnosis dan pengobatan dini di masa depan.

Penulis: Agung Sosiawan

Artikel detail dari artikel ini dapat diakses pada: http://www.jidmr.com/journal/

Agung Sosiawan, Mala Kurniati, Regina Purnama Dewi Iskandar,  Abdul Hadi Furqoni,  Indah Nuraini, Qurrota A’yun, Fery Setiawan, RM. Coen Pramono,  Indra Mulyawan. An Analysis of the MTHFR Gene and Clinical Phenotypes in Familial Non-Syndromic Cleft Palate. Journal of International Dental and Medical Research. 2020;13(3):1160–4.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu