3 Dimensi Kompetensi dalam Merdeka Belajar Menurut Najeela Shihab

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
NAJEELA Shihab, pendiri Sekolah dan Kampus Guru Cikal saat menyampaikan pandangannya mengenai Merdeka Belajar dalam Konferensi Mahasiswa Merdeka Belajar. (Foto: istimewa)
NAJEELA Shihab, pendiri Sekolah dan Kampus Guru Cikal saat menyampaikan pandangannya mengenai Merdeka Belajar dalam Konferensi Mahasiswa Merdeka Belajar. (Foto: istimewa)

UNAIR NEWS – Merdeka Belajar menjadi salah satu kebijakan baru yang dicanangkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim. Sebelumnya, slogan Merdeka Belajar merupakan merek dagang Sekolah Cikal yang didirikan Najeela Shihab. Slogan tersebut kemudian dihibahkan menjadi salah satu program baru dalam dunia pendidikan.

Sebagai seorang yang mencetuskan jargon, Najeela Shihab menerangkan bahwa merdeka belajar merupakan fondasi belajar sepanjang hayat. Dia menerangkan bahwa ada tiga dimensi kompetensi yang diajarkan melalui program merdeka belajar.

Dimensi pertama adalah komitmen. Merdeka belajar, menurut pendiri Lentera Hati itu mengajarkan seseorang untuk memiliki komitmen terhadap tujuan belajar.

“Sering kali ketika saya memasuki ruang kelas, seminar, atau kegiatan sejenis lainnya, kebanyakan peserta menyatakan bahwa mereka ikut forum tersebut karena sekadar mengikuti arahan atau  faktor eksternal yang tidak berasal dari dalam diri. Nah, dengan adanya merdeka belajar mereka akan memahami target dari belajar itu sendiri apa,” terangnya dalam talkshow Konferensi Mahasiswa Merdeka Berlajar.

Selanjutnya, perempuan yang biasa disapa Ela itu menyebut bahwa merdeka belajar dapat melahirkan kemandirian. Artinya, sukses dan gagalnya proses belajar ditentukan oleh diri sendiri. Namun, salah satu tantangan yang dihadapi dalam mencapai kemandirian menurut Ela adalah personilasasi, yaitu masih diterapkannya sistem penyeragaman dalam memberikan tugas kepada siswa.

“Seolah-olah pendidik lupa bahwa ada subjek yang belajar sesuai dengan profilnya masing-masing, tidak semua anak memiliki kemampuan sama. Inilah yang membuat seseorang menyerah sebelum mencapai puncaknya karena merasa proses belajar merupakan suatu beban yang tidak menggembirakan,” jelasnya.

Dimensi terakhir menurut Ela adalah refleksi, yaitu kemampuan metakognisi yang memantau proses belajar untuk mengetahui kesulitas dan menentukan strategi yang bisa dilakukan.

Lebih lanjut, perempuan yang lahir pada 11 September 1976 itu memaparkan bahwa merdeka belajar merupakan satu dari tiga kompetensi utuh sebagai fondasi dalam proses belajar. Dua fondasi lainnya adalah kemerdekaan berkolaborasi dan berkarya.

Kolaborasi menurutnya merupakan suatu kemampuan dalam kerja sama, wawasan luas, kecerdasan melakukan sesuatu, dan kemampuan komunikasi. Sementara berkarya sendiri memiliki tiga dimensi, yaitu berprinsip, kemampuan inovasi, dan berorientasi pada tindakan.

“Tiga kompetensi itu adalah kompetensi masa depan yang diperlukan dan harus benar-benar dilakukan di dalam ekosistem pendidikan,” tekannya.

Terakhir, Ela menyatakan bahwa salah satu tantangan yang dihadapi dalam mencapai semua kompetensi itu adalah adanya misstrust atau ketidakpercayaan antar pemangku pendidikan, baik itu mahasiswa ke dosen, orang tua ke guru, satuan pendidikan dengan dunia usaha, dll.

“Semuanya butuh bergerak bersama, bersinergi, dan ambil peran bareng-bareng,” pungkasnya. (*)

Penulis : Nikmatus Sholikhah

Editor  : Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu