Biomarker pada Pemeriksaan Skin Blot untuk Mendeteksi Kulit Gatal pada Lansia di Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi kulit gatal pada lansia. (Sumber: kabar6.com)

Kulit gatal di anggap sebagai penyakit yang umum di Indonesia. Umumnya keluhan terbanyak yang merasakan kulit gatal adalah lansia. Sejalan dengan data penelitian, bahwa angka kejadian kulit gatal semakin tinggi pada kalangan lansia. Penelitian di negara barat menyebutkan sekitar 6-56.9% lansia mengalami kulit gatal (Weisshar et al., 2009; Hahnel et al., 2017). Tingginya kejadian kulit gatal pada lansia dipengaruhi oleh penuaan kulit yang disebabkan rangsangan kronologis dan lingkungan. Oleh karena itu, evaluasi harian untuk kondisi kulit diperlukan terutama di kalangan lansia.

Beberapa metode pemeriksaan kondisi kulit dan gatal telah dikembangkan baik berupa pemeriksaan subjektif maupun objektif. Kedua metode tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan dalam pengaplikasian secara rutin. Pada pemeriksaan rutin, diperlukan metode yang objektif agar dapat diukur perkembangan dan penurunan kondisi kulitnya. Kemudian diperlukan juga metode pemeriksaan kulit yang noninvasif dan ekonomis. Atas dasar hal tersebut, bekerjasama dengan tim peneliti dari Universitas Tokyo Jepang, Dianis Wulan Sari Ph.D. (Dosen Keperawatan Unair) mengembangkan pemeriksaan kulit noninvansif yang dinamakan “Skin Blotting”. Menggunakan uji biomarker yang tepat guna mendeteksi kulit gatal yang akan dipakai di Skin Blotting.

Biomarker yang diuji adalah biomarker yang mempengaruhi kerusakan skin barrier dan inflamasi kulit. Tim fokus pada 4 jenis biomarker yaitu albumin, nerve growth factor β (NGFβ), interleukin 2 (IL2), dan thymic stromal lymphopoietin (TSLP). Jenis biomarker tersebut divalidasi dengan pemeriksaan kulit yang telah menjadi standar pemeriksaan kondisi kulit yaitu pemeriksaan SC hydration dan pH kulit. Untuk mendeteksi kulit gatal dilakukan konfirmasi partisipan menggunan kuesioner berdasarkan standar The International Forum for the Study of Itch (Elke W et al., 2012).

Penelitian ini dilakukan pada lansia di tiga Panti Wreda milik pemerintah DKI Jakarta. Pemeriksaan kulit dilakukan pada area kulit di lengan kanan dan kiri lansia. Penggunaan Skin Blotting pada kulit sangat simple dan noninvasif. Yaitu dengan menempelkan membran blotting yang telah dibasahi ke permukaan kulit yang diperiksa selama 10 menit. Hipotesis penelitian ini adalah biomarker kulit gatal akan larut dan menempel pada membran blotting saat dilakukan Skin Blotting. Setelah itu, membran blotting ditempelkan pada kertas filter dan disimpan di suhu 4⁰C hingga analsisis pewarnaan.

Pewarnaan imunologis (Immunological Staining) dari protein terlarut pada membran blotting yang diekstraksi dari dermis dan epidermis menunjukkan kondisi kulit, baik secara objektif maupun kualitatif. Untuk penghitungan secara objektif digunakan analisis gambar yaitu Image J image analysis software. Sedangkan yang lain, pemeriksaan kulit menggunakan makroskopi dan microskopi kulit, SC hydration menggunakan skin moisture analyzer portable dan pH kulit menggunakan Skincheck1.

Dalam penelitian ini, Skin Blotting mendeteksi albumin, IL2, NGFβ, dan TSLP. Di antara biomarker yang diukur, semua tingkat intensitas biomarker tersebut lebih tinggi pada kulit gatal dibandingkan pada kulit normal. Selanjutnya, dikonfirmasi bahwa albumin dan NGFβ pada Skin Blotting serta SC hidration dan pH kulit secara signifikan berhubungan dengan adanya kulit yang gatal. Studi klinis ini menunjukan akan kemungkinan pemeriksaan Skin Blotting untuk albumin dan NGFβ untuk menilai kulit yang gatal. Dengan hasil tersebut, akan dapat dikembangkan pemeriksaan Skin Blotting yang lebih lanjut untuk kulit gatal.

Pemeriksaan ini diharapkan akan bermanfaat untuk digunakan dalam keseharian dan dapat diaplikasikan oleh seluruh tenaga kesehatan maupun staf panti wreda di masa depan. Orang lansia dengan disfungsi kognitif tidak dapat mengungkapkan sensasi gatal mereka kepada tenaga kesehatan maupun keluarga. Oleh karena itu, pemeriksaan Skin Blotting akan menjadi satu metode pendeteksi gatal yang berguna dan akan membantu profesional perawatan kesehatan memberikan perawatan yang tepat. Untuk penelitian selanjutnya, keefektifan pengukuran Skin Blotting dengan adanya jenis gatal tertentu dan rasa gatal tanpa lesi pada kulit harus diperiksa.

Pengembangan penelitian ini masih memerlukan kolaborasi dengan tim peneliti dari Jepang karena penggunaan laboratorium pemeriksaan yang terstandar dan beberapa reagen yang harus diimpor. Dengan kerjasama ini diharapkan akan dapat membentuk dan memajukan laboratorium universitas guna penelitian-penelitian yang terstandar di Indonesia.

Penulis: Sari, D.W; Minematsu, T; Yoshida, M; Noguchi-Watanabe, M; Tomida, S; Kitamura, A; Abe, M; Sanada, H.

Link lengkap dapat dilihat di: Validity of skin blot examination for albumin and nerve growth factor b to detect itching of the skin in Indonesian older adults (2020). Journal of Tissue Viability. https://doi.org/10.1016/j.jtv.2020.10.001

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu