Metode Pemilihan Sperma untuk Fertilisasi in Vitro (IVF) – Intra Cytoplasmic Sperm Injection (ICSI)

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Sehatq.com

Infertilitas atau kemandulan adalah ketidakmampuan pasangan yang aktif secara seksual tanpa menggunakan alat kontrasepsi untuk mencapai kehamilan spontan dalam waktu satu tahun. Dibagi menjadi infertilitas primer dimana pria tidak pernah menghamili pasangannya dan infertilitas sekunder yakni pria sudah pernah menghamili pasangannya. Angka kejadian infertilitas ini adalah 15% dari seluruh populasi pasangan usia subur.

Salah satu penatalaksanaan untuk infertilitas adalah Fertilisasi In Vitro (IVF) – Intra Cytoplasmic Sperm Injection (ICSI) yang memiliki angka keberhasilannya yang rendah. Banyak faktor yang mempengaruhi angka keberhasilan dari IVF-ICSI ini, diantaranya adalah oosit, sperma dan juga endometrium. Studi terbaru menunjukkan metode pemilihan sperma yang lebih baik dengan mengevaluasi motilitas sperma, morfologi sperma, maturasi sperma, DNA fragmentasi sperma dan apoptosis sperma.

Ulasan ini untuk mengetahui metode pemilihan sperma terbaik yang dapat dipakai untuk memilih sperma dengan kualitas terbaik yang akan digunakan pada program IVF-ICSI sehingga dengan demikian dapat meningkatkan angka keberhasilan IVF-ICSI. Diagnosis infertilitas pria ditentukan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan dilengkapi dengan analisis semen. Pada tahun 2010, WHO telah menerbitkan analisis semen yang terstandarisasi dengan nilai referensi normalnya. Analisis semen konvensional mengevaluasi sampel semen termasuk konsentrasi sperma, motilitas, dan morfologi sperma, yang ditetapkan sebagai penanda potensial fertilitas pria.

Hasil penelitian Palermo dan diperkuat dengan penelitian berikutnya menyatakan bahwa konsentrasi, motilitas, dan morfologi sperma, selanjutnya terdiagnosis sebagai oligozoospermia, asthenozoospermia, teratoozospermia, atau oligoasthenoteratoozospermia berpengaruh terhadap fertilisasi in vitro atau angka kehamilan pada ICSI. Fragmentasi DNA sperma merupakan indikator alternatif untuk infertilitas pria. DNA sperma yang terletak di kepala sperma dikemas dan diikat oleh protamin melalui proses protaminasi. Kegagalan selama proses protaminasi mendorong kerusakan atau fragmentasi DNA sperma.

Pemeriksaan fragmentasi DNA sperma dapat dilakukan dengan beberapa metode, seperti Sperm Chromatin Structure Assay (SCSA), Sperm Chromatin Dispersion (SCD), Terminal deoxynucleotidyl transferase dUTP Nick end Labeling (TUNEL) dan lain-lain sebagainya. Pemeriksaan fragmentasi DNA sperma ditandai dengan adanya gambaran halo kecil atau besar. Sperma dengan DNA tidak terfragmentasi ditandai dengan halo besar dan sedang, sedangkan sperma dengan DNA terfragmentasi ditandai dengan halo kecil, tanpa halo dan sperma terdegradasi.

Metode Penilaian morfologi organel sperma motil (MSOME) pertama kali diperkenalkan pada tahun 2001. Dengan metode MSOME ini sperma dapat diidentifikasi dengan inti normal, ditentukan dari morfologi sperma bentuk oval dengan kandungan inti yang normal. Pada awalnya MSOME mengevaluasi enam organel sperma, yaitu akrosom, lamina post akrosom, nukleus, leher, mitokondria, dan ekor. Namun demikian, inti sperma adalah organel paling penting yang mempengaruhi hasil IVF-ICSI. Selain normalitas inti dari segi bentuk dan ukuran, vakuola inti juga harus diperhatikan karena berdampak pada keberhasilan kehamilan dan resiko terjadinya aborsi. Vakuola sperma dikaitkan dengan kondisi tidak bereaksinya akrosom. MSOME selection will eliminate vacuole sperm to support ICSI. Metode pemilihan sperma secara MSOME ini akan menghilangkan sperma yang bervakuola dimana nantinya akan meningkatkan keberhasilan ICSI.

Diketahui bahwa salah satu penyebab kegagalan ICSI adalah penggunaan sperma yang sudah apoptosis selama ICSI. Kerusakan DNA Sperma yang menunjukkan karakteristik apoptosis, diantaranya translokasi fosfatidilserin (PS), aktivasi Caspase-3 dan penurunan potensi membran mitokondria. Salah satu teknologi reproduksi baru yang ditemukan adalah MACS yang bekerja dengan cara menghilangkan sel sperma yang apoptosis, sehingga meningkatkan jumlah sperma dengan kualitas yang lebih baik. Prinsip MACS adalah dengan menggunakan mikro magnetik yang dikonjugasikan dengan protein spesifik dalam membran sel target. Pemilihan sperma dengan metode MACS diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan IVF-ICSI dibandingkan dengan seleksi sperma secara konvensional, walaupun dengan keterbatasan MACS ini yaitu pada kasus konsentrasi sperma yang terlalu menurun (oligozoospermia berat) dan sperma dengan motilitas lebih rendah dari 32% (asthenozoospermia).

Saat ini terdapat beberapa metode seleksi sperma yang diakui dapat meningkatkan kualitas embrio. Salah satunya adalah penggunaan asam hyaluronic (HA) yang dinilai memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi dengan risiko biologis yang rendah dibandingkan dengan yang lain. Pemilihan sperma fungsional secara in vivo dilakukan oleh hyaluronan. Prinsip kerja metode ini yaitu dengan memasukkan sperma ke dalam media IVF di dalam cawan yang telah ditambahkan hyaluronan (PICSI-dish), sehingga sperma yang matang dapat dipilih oleh ahli embriologi dan digunakan untuk prosedur ICSI. Pemilihan sperma dengan metode PICSI diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan ICSI.

Ada banyak metode seleksi sperma yang bisa dipilih untuk mendapatkan kualitas sperma terbaik untuk program IVF-ICSI. Piilihannya tergantung pada kemampuan laboratorium IVF, walaupun idealnya laboratorium IVF yang baik harus selalu memperbarui metode pemilihan spermanya untuk meningkatkan keberhasilan IVF-ICSI.

Penulis : Marianne Ingrid Aror, Pety Narulita, Reny I’tishom , Silvia W Lestari

Informasi detail dari artikel ini dapat diakses pada laman berikut: http://www.jgpt.co.in/index.php/jgpt/article/view/3538

(An Update of In Vitro Fertilization-Intra Cytoplasmic Sperm Injection: A Review of Sperm Selection Methods)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu