Bakteri Penghasil ESBL (Extended Spectrum Beta Lactamase) Bayi Neonates di Surabaya

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Popmama.com

Bakteri penghasil ESBL adalah sumber utana penyebab infeksi yang sulit diobati di rumah sakit. Jika pasien mengalami sepsis di rumah sakit, dan disebabkan oleh bakteri penghasil ESBL, maka hanya ada sekitar empat pilihan antibiotika yang bisa dipakai, misalnya karbapenem, amikasin, fosfomisin, dan kombinasi tertentu sefalosporing generasi 3 dan beta-laktamase inhibitor.

Sudah lama ditelaah bahwa bakteri penghasil ESBL (ESBL-B) menjadi perhatian khusus untuk pasien yang sedang dalam masa perawatan, dan tanpa mempedulikan sumber potensial di komunitas. Melalui riset mahasiswa bimbingan S2 program studi IKD FK Universitas Airlangga (Terza Aflika Happy), kami coba menganalisis sumber potensial di komunitas, khususnya pada populasi rentan, khususnya bayi atau neonatus. Mengapa pada neonates, kami memiliki hipotesis bahwa neonates adalah sosok yang sangat dilindungi oleh ibunya, baik keamanan maupun kebersihan, sehingga diharapkan akan sangat terlindungi dari kolonisasi bakteri penghasil ESBL yang berpotensi mengakibatkan infeksi serius.

Penelitian ini dilakukan pada kelompok neonatus usia dini usia sampai dengan satu minggu, dan bayi usia pasca-neonatus usia 1-2 bulan. Penelitian dilakukan di tiga Puskesmas di kota Surabaya. Sampel diambil di Puskesmas pada saat para ibu membawa bayinya untuk vaksinasi rutin di puskesmas tersebut. Selama tiga bulan (Februari-April 2019), telah terambil sampel sebanyak 200 usap rectum, 100 adri bayi neonatus dini dan 100 usia pasca neonatus.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 14% bayi neonats dini dan 37% pada bayi pasca neonates berusia 1-2 bulan, mengandung bakteri penghasil ESBL dari usap rektumnya. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri yang cukup berbahaya ini telah menghuni bayi yang baru lahir pada minggu pertama, dan pada usia 1-2 bulan meningkat dengan signifikan menjadi 37%. Keadaan ini menunjukkan juga pola kolonisasi pada ibu maupun pengasuh bayi yang sehari-hari merawat bayi tersebut. Kolonisasi ESBL-B pada bayi usia satu minggu, sangat patut diduga berasal dari kontak serumah, khususnya dari ibu dan pengasuh yang bergaul dekat dengan bayi tersebut. Makin tambah usia, kolonisasi meningkat lebih dari 2,5 kali, dan ini sangat berhubungan dengan kegiatan atau aktifitas yang makin luas dari ibu atau pengasuhnya, dan juga faktor waktu. Telah diketahui bahwa waktu adalah salah satu faktor penyebaran bakteri penghasil ESBL.

Pada studi kolonisasi bakteri penghasil ESBL pada pasien pemngunjung Puskesmas di Surabaya, menunjukkan bahwa kolonisasi bakteri penghasil ESBL mencapai sekitar 40%. Hal ini mencerminkan, jika kunjungan ibu bersama bayinya untuk berbagai kegiatan di Puskesmas, baik vaksinasi maupun berobat, jika kebiasaan Personal Hygiene, khususnya kebersihan tangan tidak diperhatikan, akan bisa terjadi, kolonisasi pada bayi bisa mencapai angka mendekati 40%, yang artinya resiko untuk mendapat infeksi yang lebih berat akan makin tinggi.

Hasil studi pada mahasiswa Prodi IKD FK UNAIR berikutnya (Rakhma Binti Sulistya) mencoba melihat apakah terjadi penyebaran bakteri penghasil ESBL pada neonates yang berkunjung ke Puskesmas Bersama ibunya tersbut. Penelitian dilakukan dengan metode genotyping yang lebih sederhana yakni RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA) berbasis PCR, menunjukkan bahwa tidak diketemukan adanya penyebaran bakteri antar bayi neonates yang berkunjung ke Puskesmas dibawa oleh ibunya. Jadi sangat mungki sumber bakteri penghasiul ESBL pada neonates tersebut berasal dari ibu, keluarga atau pengasuh bayi tersebut.

Ke depan tetap saja, bagi kita semua, baik di rumah sakit maupun di masyarakat, perlu tetap menjaga personal hygiene, khususnya hand washing (cuci tangan dengan antiseptik dan air mengalir) atau hand-rub (menghapus tangan dengan alcohol 70%). Kita ingat Five moment for hand washing nya WHO yakni: 1).sebelum kontak pasien; 2). Sesudah kontak apsien; 3). Sesudah kontak lingkungan orang sakit; 4). Setelah kontak darah dan cair tubuh, selaput lendir atau mukosa atau luka; luka; 5). Sebelum tindakan aseptik.

Penulis: Prof. Dr. Kuntaman, dr., MS., SpMK(K)

Informasi detail dari artikel ini dapat diakses pada laman berikut: https://link.springer.com/article/10.1007/s12088-020-00861-y

(Difference of Phenotype and Genotype Between Human and Environmental: Isolated Vibrio cholerae in Surabaya, Indonesia)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu