Testosteron sebagai Alternatif Terapi Disfungsi Ereksi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh tribunnews.com

Disfungsi ereksi adalah masalah yang dialami banyak laki-laki, dengan prevalensi yang meningkat seiring usia. Masalah ini dahulu juga dikenal dengan istilah impotensi, yaitu merujuk pada keadaan ereksi yang kurang keras untuk melakukan hubungan seksual yang memuaskan. Sebagai suatu fungsi seks utama pada pria, maka fungsi ereksi ini juga dipengaruhi hormon seks khususnya testosteron.

Testosteron adalah hormon steroid utama yang berperan pada pria. Hormon ini berperan kunci untuk dalam embriogenesis, pubertas, dan sepanjang masa dewasa. Testosteron (T) ialah hormon androgen yang paling melimpah dalam sirkulasi (±90%), diproduksi oleh sel Leydig di testis dan diubah oleh enzim 5 alfa-reduktase untuk menghasilkan androgen yang lebih kuat, yaitu 5a-dihydrotestosterone(DHT).

Efek fisiologis dari androgen yang disebutkan tadi, terutama dimediasi melalui reseptor androgen (AR) yang terletak di dalam inti sel. Perikatan reseptor ini diikuti dengan respon genomik, yaitu ekspresi gen yang diikuti dengan produksi peptida dan protein. Mekanisme klasik hormon testosteron ini diikuti adanya ekspresi gen dan sintesa protein yang memakan waktu beberapa hari dengan efek yang memakan waktu beberapa hari. Sementara itu dari berbagai model riset jaringan, testosteron juga diamati memiliki pengaruh cepat dalam hitungan menit hingga detik. Karena kecepatan respon ini, maka efek ini tidak dimediasi jalur genomik.

Efek non genomik dari testosteron ini diamati awalnya pada pembuluh darah besar maupun pembuluh darah jantung, di mana peningkatan aliran dan pelebaran pembuluh darah menyertai pemberian testosteron. Proses pelebaran pembuluh darah juga didapat pada saat timbulnya ereksi dari penis. Pembuluh darah dalam struktur korpus kavernosum dalam penis juga melebar untuk timbulnya ereksi. Pada jaringan vaskuler yang didapat pada korpus kavernosum penis, testosteron juga dilaporkan mengakibatkan efek vasodilatasi. Efek testosteron terhadap jaringan ereksi dalam penis ini menjadi dasar untuk mempelajari potensi terapi testosteron untuk disfungsi ereksi.

Jaringan ereksi penis terdiri dari korpus spongiosum ventral dan 2 korpus kavernosum lateral, dibatasi oleh tunica albuginea kolagen padat. Kedua korpora mengandung ruang vaskuler yang tidak teratur, dilapisi oleh endotelium. setelah stimulasi parasympathetic, arteri mendistribusikan relaksasi dan ruang vascular terisi dengan darah. Hal ini menyebabkan distensi corpora, menekan tunica albuginea, menekan vena mencegah darah mengalir keluar. Oleh karena itu, agar ereksi terjadi dengan baik, relaksasi arteri yang memadai adalah wajib, yang merupakan salah satu alasan penyakit (kardio) vascular merupakan penyebab yang mendasari disfungsi ereksi (ED).

Mekanisme kerja dari efek non genomik ini masih belum diketahui. Dalam penelitian kami, diperoleh sampel korpus kavernosum dari 33 pasien dengan gangguan disfungsi ereksi dari berbagai etiologi saat implantasi prosthesis penis. Semua pasien memiliki kadar hormon seks sebelum operasi normal dan ditawarkan suntikan prostaglandin E1 intrakavernosa sebelum mempertimbangkan implantasi IPP. Kontraksi ataupun relaksasi masing-masing sampel jaringan ini kemudian diamati dengan respon terhadap berbagai rangsangan. Model ini digunakan untuk mempelajari jalur biokimiawi yang bertindak dalam efek nongenomik dari testosteron.

Dari hasil eksperimen tersebut kami dapatkan efek relaksasi pada korpus kavernosum yang meningkat seiring dosis dari Testosteron maupun hormon turunannya yaitu Dihidrotestosteron. Berbagai jalur mediasi biokimia dihambat dalam penelitian ini, meliputi jalur sintesis nitrit oksida (NO), hidrogen sulfida, kalium-adenosin trifosfat dan flutamida. Semua penghambat ini tidak menghilangkan efek relaksasi dari pemberian testosteron.

Sebagai kesimpulan, testosteron memiliki potensi untuk menjadi terapi alternatif pada disfungsi ereksi melalui efek vasodilatasi, selain melalui jalur tradisional ekspresi gen dan sintesa protein. Efek ini telah kami teliti tidak dihambat oleh berbagai jalur biokimiawi yang sudah dikenal. Diperlukan penelitian lanjutan dengan penghambat-penghambat biokimiawi yang lain untuk menentukan jalur yang memediasi efek ini, serta mode administrasi dari testosteron yang sesuai.

Menulis: M Ayodhia Soebadi

Detail tulisan ini dapat dilihat di

https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2050116119302004

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu