Polimorfisme Gen Penyebab Kegagalan Kemoterapi pada Anak dengan Leukemia Limfoblastik Akut

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Sehatq.com

Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) merupakan penyakit keganasan yang paling sering terjadi pada anak, terhitung sekitar 30% dari seluruh keganasan pada anak. Penggunaan protokol kemoterapi yang ada saat ini menunjukkan tingkat kesembuhan hingga di atas 85%. Beberapa pasien dengan LLA tidak dapat mencapai target respon terapi, yaitu remisi atau remisi komplit. Hal ini kemungkinan dapat disebabkan oleh resistensi terhadap obat antileukemia atau obat kemoterapi.

Metotrexat (MTX) merupakan salah satu jenis obat kemoterapi yang esensial yang digunakan pada terapi LLA. MTX diberikan baik secara intratekal maupun intravena. MTX bekerja sebagai antagonis dari folat yang dapat menghambat sintesis DNA. Resisten terhadap MTX merupakan salah satu penyebab kegagalan terapi pada LLA. Beberapa penelitian sebelumnya terhadap resistensi MTX telah dilakukan dengan menggunakan sel yang dibiakkan dan hewan coba. Namun, penelitian-penelitian tersebut tidak dapat menyelesaikan permasalahan resistensi MTX yang ada hingga saat ini.

Methylene tetra hydrofolate reductase (MTHFR) memiliki peranan yang penting dalam keseimbangan folat intraseluler melalui dua jalur metabolisme folat, yaitu sintesis methionine dan S-adenosyl methionine (SAM), dan juga melalui thymidylate synthase yang diperlukan dalam sintesis DNA. Polimorfisme gen MTHFR C677T dapat menurunkan aktivitas enzim tersebut secara signifikan sehingga menyebabkan peningkatan toksisitas dan kegagalan kemoterapi. Thymidylate synthase (TS) berfungsi dalam katalisasi dUMP menjadi dTMP pada proses sintesis DNA. Polimorfisme gen TS 5’-UTR 3R/3R dapat meningkatkan sintesis DNA, sehingga menyebabkan resistensi terhadap MTX. Dengan kata lain, gen polimorfisme MTHFR C677T dan TS 5’-UTR 3R/3R dapat menghambat kinerja MTX dalam menekan kerja enzim yang berguna dalam sintesis DNA limfoblast, sehingga sintesis DNA akan terus terjadi dan kemudian mengalami resistensi terhadap MTX. Di Indonesia, insidens polimorfisme TS 5’-UTR 3R/3R sebesar 76,3%, dan insidens polimorfisme gen MTHFR C677T juga dilaporkan cukup tinggi.

Penelitian ini merupakan suatu studi analitik yang mengamati hubungan antara resistensi MTX dengan polimorfisme gen MTHFR C677T dan TS 5’-UTR 3R/3R pada pasien anak dengan LLA di RS Dr. Soetomo pada bulan Januari 2013 hingga Juli 2016, yang sedang menjalani kemoterapi dengan Protokol Nasional LLA 2006. Setelah minggu ke-6, dilakukan evaluasi dengan aspirasi sumsum tulang dan akan disebut relaps jika limfoblast lebih dari 5%.

Sebanyak 155 subjek mengikuti studi ini sampai selesai, dengan rata-rata usia 5,67 tahun, usia termuda adalah 8 bulan dan usia tertua adalah 14 tahun. Selama kemoterapi, sampel darah diambil dari masing-masing subyek dan dilakukan ekstraksi DNA serta pemeriksaan Polymerase chain reaction-restriction fragment length polymorphism (PCR-RFLP). Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengevaluasi polimorfisme MTHFR C677T dan TS 5’-UTR 3R/3R. Polimorfisme gen TS 5’-UTR 3R/3R dianalisa menggunakan ABI Peosm 3100-Avant Genetic Analyzer. Polimorfisme gen MTHFR C677T dianalisa menggunakan LightCycler 480 Instrument II.

Hasil penelitian ini menunjukkan korelasi yang signifikan antara polimorfisme gen MFTHR C677T dan TS 5’-UTR 3R/3R dengan resistensi MTX. Pasien dengan polimorfisme gen MFTHR C677T dan TS 5’-UTR 3R/3R menunjukkan hasil 4 kali (p=0,007) dan 6,4 kali (p=0,001) lebih besar kemungkinan terjadinya resisten MTX, dibandingkan pasien tanpa polimorfisme gen. Penelitian ini juga menunjukan bahwa subyek dengan polimorfisme MTHFR C677T lebih resisten terhadap MTX (84,2%) jika dibandingkan dengan subyek tanpa polimorfisme gen. Sama dengan hasil dari subyek dengan polimorfisme gen TS 5’-UTR 3R/3R yang juga lebih resisten terhadap MTX (71,3%) jika dibandingkan dengan subyek tanpa polimorfisme gen (31,6%). Sebanyak 31,6% dari seluruh subyek penelitian ini yang resisten terhadap MTX, tidak menunjukkan polimorfisme TS5’-UTR 3R/3R. Pada subyek-subyek ini, terjadinya resistensi terhadap MTX bisa disebabkan oleh polimorfisme gen yang lain, seperti reduced folate carrier (RCF) transport, dihydrofolate reductase (DHFR), folypolyglutamate hydrolase (FPGH), dan folypolyglutamate synthetase (FPGS).

Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pasien LLA dengan polimorfisme gen TS 5’UTR 3R/3R mengalami resisten MTX 4 kali lebih besar dibandingkan dengan pasien ALL tanpa polimorfisme gen, demikian juga sama halnya dengan pasien ALL dengan polimorfisme gen MTHFR C677T yang memiliki kemungkinan 4 kali lebih besar resisten terhadap MTX.

Penulis: Prof. Dr. I Dewa Gede Ugrasena, dr., SpA(K)

Infromasi detail penelitian ini dapat dilihat pada tulisan kami di: https://inabj.org/index.php/ibj/article/view/1109

Ugrasena IDG, Notopuro H, Sudarmo SM, Sudiana K, Gatot D, dan Idjradinata P. MTHFR C677T and TS 5’-UTR 3R/3R Gene Polymorphism in Methotrexate-Resistant Childhood Acute Lymphoblastic Leukemia. Indonesian Biomed Journal, 2020; 12 (2): 177-82

DOI: 10.18585/inabj.v12i2.1109

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu