Diare Akibat Infeksi Norovirus pada Anak

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Kompas Health

Norovirus merupakan salah satu virus yang berperan penting dalam terjadinya diare akut pada anak selain Rotavirus, terutama pada masa-masa saat ini yang sudah banyak melibatkan vaksin Rotavirus pada anak berusia di bawah 5 tahun. Diare akut atau gastroenteritis yang disebabkan oleh Norovirus ini biasanya berkaitan dengan wabah (outbreak) diare pada musim dingin atau dalam suatu komunitas dengan kepadatan populasi yang tinggi. Infeksi Norovirus juga sering ditularkan dari orang yang satu ke orang lainnya,

Infeksi Norovirus telah menjadi salah satu penyebab diare akut pada anak di Amerika yang perlu mendapat perhatian khusus karena menyebabkan tingginya angka kunjungan rumah sakit sekitar 900.000 kunjungan setiap tahunnya dan tingginya angka rawat inap sekitar 14.000 pasien rawat inap setiap tahunnya. Bahkan, infeksi Norovirus telah diketahui menjadi salah satu penyebab kematian yang cukup penting dengan angka sekitar 70.000 hingga 200.000 kematian per tahunnya. Namun, data persebaran kejadian dan manifestasi klinis infeksi Norovirus sendiri masih terbatas di Indonesia. Oleh karena itu, pada studi ini, kami ingin menganalisis dan memberi gambaran prevalensi, manifestasi klinis, dan variasi musiman dari diare akibat infeksi Norovirus di Indonesia, khususnya di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.

Kami melibatkan sebanyak 340 anak dalam penelitian ini, khususnya anak dengan keluhan utama diare dan terdiagnosis sebagai gastroenteritis akut yang dirawat di Departemen Ilmu Kesehatan Anak, RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, pada bulan April 2013 hingga Maret 2014. Semua pasien anak yang dilibatkan dalam penelitian ini berusia antara 1 bulan sampai 5 tahun. Oleh karena sampel yang digunakan dalam penelitian ini berupa sampel feses, pasien yang dimasukkan dalam penelitian ini adalah pasien yang sudah bersedia memberikan sampel fesesnya dan sampel feses tersebut harus berjumlah cukup untuk dianalisis lebih lanjut di Lembaga Penyakit Tropis (LPT), Universitas Airlangga, Surabaya.

Hasil dari penelitian kami menunjukkan bahwa prevalensi terjadinya infeksi Norovirus masih cukup tinggi dengan angka sekitar 19% atau sekitar 64 anak dari 340 anak dengan gastroenteritis akut, terutama pada negara yang telah menerapkan pemberian vaksin Rotavirus, dan 95% di antaranya berusia di bawah 2 tahun. 60 anak dari 64 anak yang mengalami gastroenteritis akibat infeksi Norovirus mengalami diare akut dan sisanya mengalami diare persisten. Gejala yang sering timbul pada infeksi Norovirus dalam penelitian kami adalah demam, muntah, nyeri perut, dan kejang, sedangkan tanda yang umum ditemui adalah perut kembung, pembesaran (distensi) perut, peningkatan suara peristaltik usus, dan kemerahan di sekitar anus. Sebanyak 79,7% pasien anak dengan infeksi Norovirus mengalami diare dengan konsistensi feses cair. Selain itu, variasi musiman dari infeksi Norovirus lebih sering terjadi pada bulan November, Mei, dan April, dibandingkan dengan bulan lainnya.

Dalam penelitian-penelitian serupa yang sudah pernah dilakukan sebelumnya, infeksi Norovirus sering terjadi pada anak yang berusia di bawah 2 tahun dan jarang didapatkan pada usia di atasnya. Gejala yang harus menjadi pertimbangan utama dalam mendiagnosis infeksi Norovirus adalah muntah sehingga sesuai juga dalam penelitian kami bahwa muntah termasuk dalam sederatan gejala yang sering ditemui. Gejala lain berupa kejang diduga berkaitan dengan tingginya kadar partikel virus dalam feses anak dengan infeksi Norovirus dibandingkan dengan infeksi Rotavirus, tetapi mekanisme berjalannya virus hingga ke otak masih belum bisa dijelaskan.

Selain prevalensi dan gejala, prevalensi infeksi Norovirus sangat tergantung pada variasi musim, terutama musim penghujan dan musim dingin. Pada belahan dunia bagian utara, infeksi Norovirus sering terjadi pada bulan Desember hingga Februari, sedangkan pada belahan dunia bagian selatan, infeksi tersebut malah lebih sering terjadi pada bulan Juni hingga Agustus. Penelitian kami juga menyatakan hal yang serupa bahwa infeksi Norovirus yang cukup tinggi ini terjadi pada musim penghujan di Indonesia, yaitu sekitar bulan Desember hingga Februari.

Kesimpulan yang dapat kami ambil dari penelitian ini adalah bahwa diare atau gastroenteritis akut akibat infeksi Norovirus pada anak masih banyak terjadi di Indonesia, terutama pada usia di bawah 2 tahun. Prevalensi ini meningkat sebagai akibat dari tingginya angka vaksinasi Rotavirus. Infeksi ini juga sangat meningkat pada musim penghujan. Oleh sebab itu, diare pada anak akibat infeksi Norovirus tentunya perlu diwaspadai oleh negara-negara di dunia, terutama pada negara-negara yang telah menerapkan pemberian vaksin Rotavirus dan negara-negara dengan curah hujan yang cukup tinggi pada bulan-bulan tertentu.

Penulis: Dr. Alpha Fardah Athiyyah, dr., Sp.A(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: https://e-journal.unair.ac.id/JBE/article/view/14080 Athiyyah, A. F., Wardhani, S., Dharma, A., Ranuh, R. G., Raharjo, D., Shirakawa, T., … Sudarmo, S. M. (2020). The clinical epidemiology of norovirus infection in children with diarrhea at Regional Public Hospital Dr. Soetomo. Jurnal Berkala Epidemiologi, 8(3), 200–207. 

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu