Obat Anti-Tuberkulosis dan Candida Albicans

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh VOA Indonesia

Tuberkulosis paru adalah salah satu jenis tuberkulosis dengan jumlah kejadian terbanyak. Tuberkulosis dapat ditularkan melalui udara dan dropletyang terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis dari satu individu ke individu yang lain. Menurut data Kementrian Kesehatan tahun 2017, di Surabaya terdapat 2330 kasus tuberkulosis paru, yang terdiri dari 1384 laki-laki dan 946 perempuan. Pengobatan tuberkulosis paru berupa kombinasi obat antibiotik yang diberikan dalam dua fase pengobatan yaitu fase intensif (dua bulan) dan fase lanjutan (lebih dari dua bulan).

Dalam beberapa kasus tuberkulosis paru, dalam rongga mulut sering ditemukan adanya infeksi jamur yang disebut oral candidiasis. Penggunaan jangka panjang obat anti-tuberkulosisdapat meningkatkan risiko timbulnya oral candidiasis. Pasien tuberkulosis paru yang menjalani perawatan dengan obat anti-tuberkulosis sering merasakan ketidaknyamanan pada rongga mulut, seperti rasa tebal di lidah. Penggunaan obat anti-tuberkulosis dapat meningkatkan risiko oral candidiasis karena pembentukan koloni Candida terutama jenis Candida albicans.

Penelitian yang dilakukan pada pasien dengan tuberkulosis paru yang menjalani pengobatan dengan obat anti-tuberkulosis di RSUD Dr. Soetomo Surabaya dari bulan Juli hingga Oktober 2017, didapatkan 7 pasien tuberkulosis paru dengan perawatan obat anti-tuberkulosis kategori 1 dan kategori 2. Hasil yang diperoleh adalah 4 pasien dengan perawatan obat anti-tuberkulosis kategori 1 dan 1 pasien dengan perawatan obat anti-tuberkulosis kategori 2 ditemukan adanya Candida albicans. Sedangkan spesies lain dari Candida yaitu Candida glabrata ditemukan pada 1 pasien dengan perawatan obat anti-tuberkulosis kategori 1.

Penggunaan obat anti-tuberkulosis mungkin menjadi salah satu penyebab infeksi jamur di rongga mulut. Pasien tuberkulosis paru yang diberikan obat anti-tuberkulosis, misalnya jenis fifampisin, memiliki aktivitas antibiotik yang lebih luas dibandingkan jenis obat anti-tuberkulosis lainnya. Sebagian besar infeksi Candida albicans ditemukan pada pasien dengan pengobatan anti-tuberkulosis kategori 1. Obat anti-tuberkulosis kategori 1 terdiri dari kombinasi rifampisin, pirazinamid, etambutolol dan INH. Penggunaan Rifampisin selama 6 bulan dapat meningkatkan jumlah koloni Candida albicans dan peningkatan kemampuan Candida albicans untuk menginvasi jaringan karena peningkatan protein Multi Drug Resistance 1 Receptor (MDR 1). Rifampisin bersifat bakterisidal terhadap Mycobacterium tuberculosis dan beberapa bakteri lain seperti Lactobacillus acidophilus.

Dalam keadaan normal, Lactobacillus acidophilus mampu menghambat pertumbuhan Candida albicans melalui mekanisme bakteriosin seperti acidocin, Lactacin B, Lactacin F, asam laktat dan H2O2 yang dapat merusak permeabilitas membran Candida albicans, tetapi ketika proliferasi Lactobacillusacidophilus dihambat oleh aktivitas obat anti-tuberkulosis maka mekanisme bakteriosin oleh Lactobacillus acidophilus juga tidak akan optimal. Kesimpulan dari penelitian ini adalah spesies Candida ang paling umum ditemukan pada penderita tuberkulosis paru dengan pengobatan obat anti-tuberkulosis adalah Candida albicans.

Penulis: Adiastuti Endah Parmadiati, drg., M.Kes., SpPM(K)

Informasi detail dapat dilihat pada tulisan kami di: A.E.Parmadiati, B.Soebadi, H.T.Hendarti, S.Winias, N.F.Ayuningtyas, N.Radityarinidan Novitasari. Distribution Of Candida Spp In Pulmonary Tuberculosis Patient Treated With Anti-Tuberculosis Drug In The Dots Polyclinic Dr. Soetomo General Hospital Surabaya. Biochem. Cell. Arch. 2020; 20(Supp 1): 3055-3059.

http://www.connectjournals.com/toc2.php?abstract=3184600H_3055A.pdf&&bookmark=CJ-033216&&issue_id=Supp-01%20&&yaer=2020

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu