Bagaimana Industri Kreatif Mempertahankan Kreativitas Karyawannya?

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi industri kreatif. (Sumber: Accurate Online)

Kinerja ekonomi kreatif di Indonesia memiliki kinerja yang sangat baik, hal ini dibuktikan pada  tahun 2016 berdasarkan data Badan Ekonomi Kreatif (Bekraft) dan Badan Pusat Statistik (BPS)  menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 2010 hingga 2015, besaran Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif naik dari 525,96 triliun pada 2010 dan menjadi 852,24 triliun pada 2015 atau meningkat rata-rata  10,14% per tahun.

Terdapat 16 subsektor yang terus berkembang dengan pesat dan memiliki potensi untuk dikembangkan, yaitu kuliner, fashion, kerajinan tangan (kriya), televisi dan radio, penerbitan, arsitektur, aplikasi dan game developer, periklanan, musik, fotografi, seni pertunjukan, desain produk, seni rupa, desain interior, film animasi dan video, desain komunikasi visual.

Dari 16 subsektor tersebut, radio merupakan salah satu subsektor yang berada di lima besar yaitu  7,78%, yang artinya walaupun dengan teknologi yang canggih, radio menjadi salah satu media sebagai sarana berkreasi yang masih bertahan dan dipilih sebagai hiburan yang berfokus pada audio diantaranya, konten berita, musik, jokes, dan cerita interaktif. Konten yang disajikan inovatif sehingga banyak kalangan membutuhkan radio saat macet dan jenuh saat berkendara di dalam mobil (https://www.merdeka.com/peristiwa/kenapa-radio-masih-bisa-bertahan-di-zaman-internet.html).

Industri penyiaran yang merupakan industri kreatif harus mengambil langkah luar biasa untuk mendorong dan menumbuhkan karyawan yang kreatif. Kreativitas karyawan dan inovasi perusahaan telah menjadi topik penting karena industri siaran bergantung pada hiburan untuk menarik pemirsa dan pendengar. Surabaya sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, telah memiliki industri penyiaran yang sangat berkembang. Hal ini terbukti dengan adanya 49 stasiun radio swasta yang ada di Surabaya. Setiap stasiun radio tersebut telah memiliki segmen pendengar serta mencoba mengambil target pendengar tertentu dan Surabaya termasuk salah satu kota besar yang mempunyai jangkauan yang luas dan stasiun radio terbanyak di Jawa Timur (http://jawa-timur.stt-mandala.web.id/ind/2518-2408/Jawa-Timur_64054_stt mandala_jawa-timur-stt-mandala.html#Surabaya).

Mengacu dari Nielsen Radio Audience Measurement, pada kuartal ketiga tahun 2016 menunjukkan bahwa 57% penonton radio berasal dari Generasi Z dan millennials yang berusia sekitar 18-30 tahun, yang erat kaitannya dengan kemajuan teknologi, seperti media sosial, mulai dari youtube hingga layanan aplikasi pemutar lagu streaming.

Stasiun radio dituntut untuk menjaga kreativitas dari setiap karyawannya supaya bisa bersaing tidak hanya dengan sesama stasiun radio tetapi juga dengan platform-platform lain untuk mempertahankan pendengar atau mendapatkan pendengar baru. Pada dasarnya kreativitas seseorang dipengaruhi oleh individu itu sendiri dan perusahaan tempatnya bekerja. Di dalam Regulatory Focus Theory terdapat dua perbedaan fokus, yaitu promotion focus dan prevention focus (Higgins, 1987).

Promotion focus muncul ketika individu fokus terhadap tujuannya dalam menggapai cita-cita, mengeksplorasi dirinya, di mana hal ini merupakan hal penting dari suatu kreativitas. Promotion focus merupakan individu yang menghindari lingkungan yang aman, berani mengambil risiko dalam mencapai tujuan mereka. Individu dengan promotion focus cenderung menghasilkan ide-ide baru dan mengembangkan dirinya. Selain promotion focus, terdapat individu yang dengan prevention focus, yaitu individu yang cenderung membawa dirinya takut untuk mengambil risiko atau memilih jalan yang aman dapat menghambat meningkatnya suatu kreativitas dalam diri individu.

Kinerja kreatif tidak hanya dipengaruhi oleh dari internal karyawan tetapi juga dari perusahaan. Lingkungan kerja harus memberikan kesempatan bagi individu untuk meningkatkan kreativitasnya. Hal ini menunjukkan bahwa kreativitas tidak hanya berasal dari dalam diri seseorang, melainkan ada stimulasi yang diberikan oleh pihak eksternal atau dalam hal ini adalah perusahaan. Salah satu yang dapat dilakukan oleh perusahaan dalam meningkatkan kinerja kreatif karyawan adalah dengan memberikan intellectual stimulation.

Intellectual stimulation dapat meningkatkan kreativitas pada individu yang memiliki promotion focus. Ketika seorang manajer melibatkan individu dalam aktivitas pemecahan masalah maka individu tersebut dapat meningkatkan kreativitas yang ada dalam dirinya. Pada konteks hubungan antara promotion focus dan creativity, dengan adanya intellectual stimulation, manajer akan memperluas ketrampilan, mengembangkan kemampuan dalam memecahkan masalah, memelihara pertumbuhan karyawan dan prestasi di tempat kerja. Selain itu, intellectual stimulation dapat membuat karyawan memikirkan strategi untuk mencapai tujuan.

Dengan demikian, adanya intellectual stimulation akan mendorong karyawan untuk menghadapi tantangan dan masalah, dengan menawarkan ide-ide kreatif untuk memperbaiki produk atau layanan. Kegiatan tersebut akan berpengaruh pada motivasi individu, terutama mereka yang memiliki kecenderungan promotion focus.  Adanya intellectual stimulation mampu memberikan tantangan sehingga akan meningkatkan kreativitas. (*)

Penulis: Jovi Sulistiawan

Artikel lengkpanya dapat dilihat pada link berikut ini:

https://www.sysrevpharm.org/index.php?mno=134769

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu