Potensi Wabah Penyakit Pascabencana Gempa di Puskesmas Gangga Kabupaten Lombok Utara

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi pengungsi tsunami Palu Donggala. (Sumber: BBC)

Wilayah Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat, merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang terletak pada zona tektonik aktif, karena dikelilingi oleh berbagai sumber gempa, yaitu Back Arc Thrust Zone di utara, megathrust di selatan dan sistem sesar geser di sisi barat dan timur (Pradono, 2018). Pulau Lombok sudah sering kali mengalami guncangan gempa mulai yang berskala ringan, sedang dan kuat.

Pada Tahun 2018, serangkaian gempa berskala sedang dan kuat mengguncang kota dan kabupaten di Pulau Lombok. Menurut The ASEAN Coordinating Centre for Humanitarian Assistance on Disaster Management (AHA Centre) gempa dimulai dengan kekuatan M 6,4 yang terjadi pada 29 Juli 2018, disusul M 7,0 pada 5 Agustus 2018, M 6,2 pada 9 Agustus 2018, dan M 6,3 pada 19 Agustus 2018. Daerah terparah yang terkena dampak gempa bumi saat itu adalah Kabupaten Lombok Utara. Gempa tersebut mengakibatkan longsor di beberapa titik, menimbulkan korban jiwa dan luka-luka. Kerugian akibat gempa bumi dirasakan hampir di semua aspek kehidupan seperti sosial, ekonomi, politik, dan kesehatan. Per tanggal 13 Agustus 2018, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memverifikasi terdapat sebanyak 436 kematian, 1.353 orang luka-luka dengan berbagai tingkatan, dan 352.793 orang yang dievakuasi. Kerugian di bidang ekonomi yang teridentifikasi sekitar Rp 5,4 miliar (+ USD 368 juta).

Gempa juga menyebabkan rusaknya berbagai bangunan fasiltas umum. Salah satu fasilitas umum yang mengalami kerusakan parah adalah Puskesmas Gangga yang berada di Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara. Gedung puskesmas mengalami kerusakan total sehingga tidak bisa digunakan dalam melakukan kegiatan pelayanan kesehatan. Kondisi fisik dan psikis tenaga kesehatan Puskesmas Gangga yang mejadi korban gempa juga menyebabkan kegiatan pelayanan tidak dapat berjalan normal.

Di sisi lain, ancaman penyakit pasca bencana terus mengintai, seperti penyakit menular yang berpotensi mewabah, masalah kesehatan mental, dan penyakit tidak menular, baik yang disebabkan oleh trauma maupun kondisi lingkungan yang buruk di pengungsian. Oleh karena itu, diperlukan upaya pemantauan untuk mewaspadai kemungkinan timbulnya berbagai risiko munculnya penyakit tersebut dengan melakukan kegiatan surveilans penyakit pascabencana serta memberikan respon dengan segera terhadap permasalahan tersebut.

Terbatasnya tenaga kesehatan pasca gempa, menyebabkan timbulnya kebutuhan akan dukungan tenaga relawan. Universitas Airlangga menjadi salah satu institusi yang berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan tersebut. Penempatan mahasiswa  Field Epidemiology Training Program (FETP) UNAIR di daerah bencana, membantu petugas surveilans Puskesmas untuk memulai kembali sistem surveilans di wilayah kerjanya yang terganggu bahkan terhenti akibat bencana.

Kegiatan surveilans pascabencana di Pulau Lombok melibatkan Tim Kementerian Kesehatan RI, Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat, Dinas Kesehatan Lombok Utara, Petugas Puskesmas di Lombok Utara, mahasiswa FETP dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan relawan medis lainnya. Tim surveilans yang ditunjuk bertugas di lokasi penempatan selama 14 hari dan akan digantikan oleh tim lainnya (Almira, 2018).

Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk menganalisis munculnya potensi penyakit pascabencana gempa yang terjadi di Kecamatan Gangga. Data diperoleh dari hasil pelaksanaan sistem surveilans harian pasca bencana yang dilakasanakan di Puskesmas Gangga.  Data dikumpulkan menggunakan WhatsApp dan Software Epi Info yang dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan RI pada periode tanggal 17 sampai 31 Agustus 2018.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 52% dari total kunjungan pasien di Puskesmas Gangga adalah perempuan. Kelompok umur terbanyak adalah 18-45 tahun. Kasus terbanyak yang dilaporkan adalah penyakit menular yang berpotensi wabah, yaitu  Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) sebanyak 23% dari total kasus dan diare sebanyak 15% kasus. Ada satu tersangka campak dan empat tersangka cacar air. Hingga 31 Agustus 2018, total kematian yang dilaporkan di Puskesmas Gangga sebanyak 89 kasus.

Berdasarkan hasil ini dapat diketahui bahwa sampai tanggal 31 Agustus 2018, di Puskesmas Gangga telah muncul penyakit yang berpotensi menjadi wabah, yaitu ISPA, diare, campak, dan cacar air. Oleh karena itu, pencegahan dan pengendalian yang cepat dan memadai, serta manajemen kasus dan sistem pemantauan yang tepat, penting untuk dilakukan guna meminimalkan beban penyakit menular. Kegiatan pemantauan oleh petugas surveilans  puskesmas melalui entri dan analisis data harian sebagai peringatan dini untuk wabah, investigasi epidemiologi untuk mengetahui penyebab penyakit dan menemukan kasus tambahan perlu dioptimalkan agar wabah tidak berkembang. Kolaborasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dinas kesehatan dan pemangku kepentingan lainnya dibutuhkan untuk mempercepat pemulihan.

Penulis: Almira F, Hidajah, A.C

Informasi lebih detail mengenai artikel ini dapat dilihat di link jurnal berikut ini:

https://jummec.um.edu.my/article/view/25852

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu