Potensi Nano Meniran sebagai Kandidat Terapi terhadap Bakteri pada Unggas

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi meniran. (Merdeka.com)

Infeksi Eschericia coli sering menyebabkan kematian dan penurunan produksi peternakan ayam broiler di Indonesia. Infeksinya terjadi secara sistemik dan menyebabkan bakteremia. Karena kemampuannya tumbuh dan membentuk koloni di banyak organ, avian pathogenic Eschericia coli (APEC) menimbulkan beberapa efek seperti perikarditis, perihepatitis, air-saccullytis, selulitis, salpingitis, sinovitis, dan omphalitis. Pemberian antibiotik melalui pemberian pakan pada awalnya dilakukan sebagai cara memberantas APEC namun masih meninggalkan residu dan menimbulkan resistensi. Ini memperburuk kondisi sehingga pengobatan menjadi sulit.

Selain itu, Indonesia merupakan negara kepulauan dengan kurang lebih 17.508 pulau dan ditutupi oleh hutan hujan tropis, hutan musiman, rawa, vegetasi semak subalpine, vegetasi pantai, dan vegetasi pegunungan. Dengan campuran reflektif spesies asli Asia dan Australia, Indonesia dinyatakan memiliki keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia, dengan sekitar 40.000 spesies tumbuhan endemik termasuk 6.000 tumbuhan obat. Akibatnya, Indonesia kaya akan tanaman obat yang digunakan penduduknya secara tradisional dari generasi ke generasi dalam menyembuhkan penyakit.

Meniran (P. niruri) merupakan tumbuhan yang termasuk dalam genus Phyllanthus yang dikenal dengan P. niruri yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap APEC. Meniran mengandung beberapa zat kimia seperti lignin, flavonoid, alkaloid, terpenoid, saponin dan tanin. Lignin berfungsi sebagai antioksidan dalam makanan. Flavonoid berfungsi sebagai antioksidan, antibakteri, dan imunostimulan. Alkaloid berfungsi sebagai antimikroba, antimalaria, antidiare dan antidiabetes. Tanin berfungsi sebagai pelindung tanaman dan memiliki aktivitas antioksidan yang menghambat aktivitas tumor. Terpenoid mampu menghambat aktivitas APEC dan Staphylococcus aureus, sedangkan saponin memiliki kemampuan sebagai antimikroba.

Untuk mengoptimalkan efek jamu-jamuan. Perlu disusun formulasi yang mampu meningkatkan kelarutan, stabilitas, ketersediaan hayati, dan sistem yang menitikberatkan pada efektivitas aplikasi sederhana. Nanoteknologi biasanya digunakan untuk mengamati efektivitas aplikasi sederhana. Ini menghasilkan ukuran partikel kecil dari simplisia (1-100 nm). Cara ini membuat simplisia mudah dilarutkan dan meningkatkan efisiensi penyerapan di usus. Selain itu, ekstrak nanopartikel berdifusi dalam darah lebih mudah dan akurat mencapai pengobatan. Metode nano ballmil adalah metode untuk menggiling bubuk menjadi partikel dan campuran yang lebih kecil. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kemampuan ekstrak meniran dari herba nano sebagai antibakteri terhadap APEC.

Hasilnya, pada peneltian Sabdoningrum et.al. (2020), pemberian ekstrak meniran 2% dan 3% tidak dapat membasmi pertumbuhan bakteri APEC. Sedangkan pemberian 5%, 10%, 20%, 25%, dan 30% dari meniran nano-herb dapat membasmi pertumbuhan bakteri APEC.

Di Indonesia, obat-obatan herbal digunakan secara luas dan seringkali menjadi satu-satunya pilihan pengobatan bagi lebih dari 70 persen populasi, terutama di daerah pedesaan. Selama bertahun-tahun, sifat kemoterapi potensial dari obat herbal dan kemampuannya untuk melawan resistensi antibiotik telah menyebabkan banyak inovasi menggunakan molekul herbal. meniran merupakan salah satu tumbuhan asli yang telah digunakan di Indonesia untuk pengobatan berbagai penyakit.

Selain itu, khasiat antimikroba in vitro ekstrak meniran dalam air, metanol dan diklorometana bersifat bakteriolitik pada berbagai bakteri patogen (Bacillus pumilus, Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis, Micrococcus luteus, Escherichia coli, dan Klebsiella pneumonia) dan pada jamur (Candida albicansella pneumonia). Aksi antibakteri yang diamati terhadap patogen Bacillus pumilus dengan ekstrak metanol dan diklorometana menunjukkan zona hambat yang lebih luas berukuran 18-20 mm. Selain itu, perbedaan konsentrasi ekstrak etanol dan ekstrak air meniran pada Escherchia coli, Staphylococcus aureus, Salmonella typhi, Pseudomonas aeruginosa, dan Klebsiella aerogenes. Pseudomonas aeruginosa ditemukan paling rentan di antara ekstrak etanol.

Penulis: Emy Koestanti Sabdoningrum

Artikel lengkapnya dapat diakses melalui link jurnal berikut ini:

http://www.sysrevpharm.org/?mno=137698

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu