Ingin Lakukan Pemerataan Informasi Pendidikan, Dosen FK UNAIR Ciptakan Media Pembelajaran Daring

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga, dr. M. Nurdin Zuhri, Sp.M., (dua dari kiri bawah) bersama tim platform Kuliah Online (KulOn). (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Sebagai tenaga pengajar sekaligus orang yang berkecimpung dalam dunia kesehatan, dr. Moh. Nurdin Zuhri, Sp.M., tak ingin tinggal diam saat melihat kesenjangan pendidikan. Utamanya pendidikan kesehatan yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia.

“Saya ingin ikut berperan dalam pemerataan pendidikan. Sebab, kalau melihat kota-kota besar, seperti Surabaya, sumber pengetahuannya melimpah. Coba kalau daerah-daerah lain atau luar pulau? Masih ada yang belum bisa mengakses pendidikan,” ungkap Nurdin.

Untuk itu, Nurdin mencoba membuat inovasi berupa aplikasi belajar berbasis daring yang ditujukan bagi mahasiswa maupun kalangan profesional dari Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), Fakultas Keperawatan (FKp), dan pendidikan kebidanan.

“Namanya KulOn, singkatan dari Kuliah Online. Pada tahap awal ini, kami masih menyasar mahasiswa kesehatan saja,” ujar dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga itu.

Nurdin bersama timnya mulai membuat KulOn sejak tahun 2018 lalu. Meski belum lama dirilis, aplikasi itu telah menyediakan banyak fitur, antara lain, video, bahan ajar, latihan soal, sampai try out yang disesuaikan dengan kurikulum di FK, FKG, FKp, serta kebidanan.

“Kemudian, ada fitur workshop yang menampilkan berbagai video tentang skill khusus, contohnya, cara menjahit bagian tubuh dan tutorial masuk ke ruang operasi,” tambahnya.

Selain fitur belajar, KulOn juga mewadahi para dosen maupun organisasi profesi, jika ingin membuat acara seminar online, terutama di masa pandemi, yang dapat diakses siapa saja.

Agar materi yang disampaikan dapat diterima, aplikasi KulOn mengusung pembelajaran dengan konsep audio visual. “Materinya juga benar-benar kita saring dan disampaikan secara ringkas. Durasi materinya sekitar tujuh menit, sehingga lebih efektif,” tutur Nurdin.

Tak hanya kalangan dokter atau tenaga kesehatan, dalam beberapa kesempatan, KulOn juga pernah menyelenggarakan segmen lain yang diperuntukkan bagi masyarakat umum.

“Kalau program untuk masyarakat umum, namanya Expert Sharing. Ternyata, responnya bagus, yang hadir ada 1000 orang. Bahkan, diskusinya sampai harus kita stop,” katanya.

Untuk menggaet lebih banyak pengguna, alumnus FK Unibraw ini menambahkan, KulOn memberikan sejumlah fasilitas, seperti voucher, kode referral untuk member, hingga poin.

Namun, Nurdin mengakui bahwa ia dan timnya kerap mengalami kendala selama proses mengembangkan KulOn. “Karena membuat aplikasi itu kompleks. Pengerjaannya lama karena memerlukan kolaborasi dari banyak pihak. Kadang, menurut kita aplikasinya sudah oke, tapi waktu ditrial dalam bentuk prototype, persepsi pihak lain berbeda,” urai Nurdin.

“Biasanya, komentar yang paling sering dari pengguna, aplikasinya lambat. Oleh karena itu, kami terus melakukan update server serta membenahi hal yang kurang,” sambungnya.

Saat ditanya target ke depan, Nurdin mengatakan bahwa dirinya berniat menggandeng organisasi profesional, seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI), perhimpunan dokter spesialis, dan pihak terkait untuk melakukan penyesuaian kurikulum.

“Sekarang, aplikasi KulOn sudah ada versi iOs maupun android. Sudah diunduh oleh lebih dari 2800 orang. Mungkin, dalam waktu dekat, kami ingin juga ingin mencoba merambah bidang lain di luar pendidikan kesehatan, seperti ekonomi dan bisnis,” tandas Nurdin. (*)

Penulis : Nabila Amelia

Editor: Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu