The Bladder Pill: Aplikasi Teknologi Nirkabel pada Pengukuran Tekanan Urodinamika

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi beser. (Foto: klikdokter.com)
Ilustrasi beser. (Foto: klikdokter.com)

Jutaan orang di dunia menderita gangguan saluran kemih atau paling sering disebut sebagai beser. Keluhan beser secara medis dikenal sebagai overactive bladder. Gangguan ini ditandai dengan gejala utama urgensi, yaitu keinginan kencing yang tidak bisa ditunda. Gejala lain yang sering menyertai adalah frekuensi, berulang-ulang.

Urodinamika adalah pemeriksaan rujukan terbaik (reference standard) untuk evaluasi gangguan saluran kemih, utamanya keluhan saluran kemih bagian bawah (lower urinary tract symptoms/LUTS). Pemeriksaan ini, terutama berdasar pengukuran tekanan dalam saluran kemih. Bladder Pill adalah suatu rancang bangun disruptif untuk menggantikan kateter yang kini digunakan sebagai alat ukur tekanan.

Gangguan berkemih dapat menimbulkan keluhan yang berat dan sulit ditangani. Keluhan yang dapat dialami sangat bervariasi.

Perubahan fungsi kandung kemih di mana tekanan meningkat pada saat penyimpanan dan pengeluaran urine adalah salah satu mekanisme dasar dari ANLUTD. Karena itu, kebanyakan tindakan pengobatan diarahkan pada membalikkan proses ini dan menyediakan suatu lingkungan yang aman dengan penyimpanan urine pada tekanan rendah.

Mirabegron adalah suatu senyawa dengan efek agonis adrenergik, dengan ikatan spesifik pada reseptor jenis beta-3. Reseptor ini terutama ditemukan pada saluran kemih, dan tidak ditemukan pada jaringan lainnya. Karena itu, diharapkan bahwa mirabegron menjadi suatu opsi terapi yang memberikan efek perbaikan pada keluhan saluran kemih, tanpa mengganggu keseimbangan fungsi sistem tubuh yang lain, seperti pencernaan dan sistem saraf pusat. Pada dosis yang cukup tinggi, mirabegron berefek relaksasi pada otot polos terutama pada saluran kemih. Selain itu, senyawa ini mengurangi aktivitas dari otot polos dan saraf sehingga mendapat efek relaksasi kandung kemih yang diharapkan.

Dari penelusuran 110 penderita dengan gangguan berkemih neurogenik, didapat bahwa mirabegron memiliki profil penggunaan jangka panjang yang setara dengan obat antimuskarinik yang saat ini pada lini pertama. Penghentian penggunaan mirabegron, terutama disebabkan efektivitas dan bukan dikarenakan efek samping yang tidak dikehendaki. Dalam jangka panjang, penghentian penggunaan mirabegron tidak dapat diprediksi dari jenis penyakit, efek antimuskarinik dari obat-obatan lain maupun penyakat reseptor beta. Berbagai penyakit sistem saraf memerlukan pemberian kombinasi obat-obatan untuk menanggulangi berbagai gejala. Berbagai obat-obatan dapat memiliki efek antimuskarinik yang ditengarai dari penelitian pra-klinik pada hewan dapat mengubah pola reseptor pada saluran kemih.

Simpulan dari keseluruhan data yang dikumpulkan adalah bahwa mirabegron, suatu perangsang reseptor saraf simpatik, khususnya untuk jenis beta-3, adalah suatu opsi untuk pengobatan jangka panjang dari gangguan berkemih. Efektivitas obat ini menunjukkan pola yang serupa dengan obat-obatan antimuskarinik ataupun opsi pengobatan lainnya, termasuk pada penderita gangguan berkemih yang diakibatkan penyakit sistem saraf. (*)

Penulis: M Ayodhia Soebadi, dr, PhD, SpU

Dibuat berdasar publikasi SCOPUS:

https://doi.org/10.1111/iju.14238

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu