Korelasi Fibrosis Hati berdasarkan Elastografi Transien dan Kadar HBsAg Kuantitatif pada Pasien Hepatitis B Kronis Positif HBeAg

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh hepmag.com

Insiden yang tinggi, adanya riwayat alamiah dan kroniknya infeksi dengan gejala hepatitis B kronis (CHB) cenderung sangat dipengaruhi dari akibat pengobatan yang tidak optimal. Indonesia memiliki endemisitas hepatitis B mulai sedang hingga tinggi. CHB ditentukan oleh seropositif antigen permukaan hepatitis B (HBsAg) yang lebih dari 6 bulan. Diketahui bahwa 2-6% orang dewasa, 30%-60% anak kecil dan 90% bayi (<1 tahun) didiagnosis terkena infeksi CHB. Di Indonesia, jumlah penderita infeksi hepatitis B diperkirakan 4,0-20,3%, dimana prevalensi HbsAg positif di pulau-pulau di luar Jawa secara signifikan lebih tinggi dibandingkan di pulau Jawa.

Riwayat alami infeksi hepatitis B kronis merupakan proses dinamis yang dapat berkembang menjadi fibrosis hati, sirosis, dan karsinoma hepatoseluler. Infeksi CHB HBeAg-positif ditandai dengan berbagai tingkatan dari ALT, DNA HBV, qHBsAg, dan fibrosis hati. Infeksi CHB HBeAg-positif adalah fase awal dan berhubungan dengan peradangan hati yang lebih aktif serta berisiko tinggi menjadi karsinoma hepatoseluler. Deteksi dini penyakit hati yang signifikan dapat meningkatkan hasil luaran pasien. Hepatitis B adalah infeksi virus yang berpotensi menjadi infeksi kronis dan menyebabkan komplikasi serius seperti sirosis hati dan karsinoma hepatoseluler. Infeksi virus hepatitis B (HBV) bertahan dalam inti hepatosit yang terinfeksi sebagai minikromosom DNA lingkaran tertutup kovalen (cccDNA) yang bertindak sebagai template untuk transkripsi gen virus. HBV menyebar melalui darah, cairan sperma, atau cairan tubuh lain dari pasien yang terinfeksi HBV. HBV menyebar secara perkutan melalui kontak dari pasien dengan Hepatitis B untuk mengkontaminasi darah atau cairan tubuh lainnya.

Fibrosis hati adalah suatu keadaan dimana kerusakan sel hati digantikan dengan jaringan ikat, sehingga terdapat indikasi bahwa pada fibrosis hati jumlah sel hati yang sehat dapat berkurang, nuklei hepatosit yang terinfeksi berkurang, akibatnya cccDNA juga akan berkurang. HBsAg umumnya disebut diagnosis infeksi HBV, yang mengandung selubung protein virus. HBsAg kuantitatif (qHBsAg) dapat mencerminkan konsentrasi dan aktivitas transkripsi cccDNA. Pemeriksaan HBsAg kuantitatif juga dilaporkan berkorelasi dengan DNA HBV dan cccDNA. Kuantifikasi HBsAg telah diakui berharga untuk memantau riwayat alami hepatitis kronis dan memprediksi hasil pengobatan.

Patogen utama yang berkontribusi pada sirosis adalah fibrosis hati. Fibrosis pada tahap awal juga perlu diidentifikasi. Biopsi hati adalah standar emas untuk mendiagnosis derajat fibrosis hati. Namun prosedur invasif dan kemungkinan komplikasi parah terbatas. Berbagai metode non-invasif untuk memprediksi fibrosis hati telah dikembangkan. Beberapa penelitian telah menyarankan bahwa elastografi sementara dapat digunakan untuk menilai fibrosis hati, termasuk untuk menilai fibrosis hati pada infeksi CHB. Kadar HBsAg kuantitatif dilaporkan berkorelasi dengan fibrosis hati dan mungkin mewakili kerusakan hati. Beberapa penelitian telah menunjukkan korelasi negatif antara fibrosis hati dengan kadar HBsAg kuantitatif pada CHB positif HBeAg. Sedangkan penelitian lain menunjukkan kadar HBsAg kuantitatif yang tinggi menunjukkan fibrosis yang lebih parah.

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti dari Departemen Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran, RSUD Dr. Soetomo, Institute of Tropical Disease, Universitas Airlangga berhasil mempublikasikan penelitiannya pada salah satu jurnal internasional, yaitu International Journal of Pharmaceutical Research ISSN 09752366. Penelitian mengenai korelasi fibrosis hati dengan kadar HBsAg kuantitatif di Indonesia masih terbatas, sehingga peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian ini. Dalam penelitian ini diharapkan pemeriksaan HbsAg secara kuantitatif dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk pemeriksaan fibrosis hati, khususnya dengan menggunakan transient elastography, yang dapat berguna untuk menentukan strategi pengobatan.

Metode yang dilakukan peneliti pada penelitian ini adalah dengan melakukan studi cross-sectional terhadap 32 pasien hepatitis B kronis yang belum pernah menggunakan pengobatan dengan HBeAg positif. Fibrosis hati diukur menggunakan elastografi transien, dan kadar HBsAg kuantitatif diukur dengan menggunakan Immunoassay Enzim Chemiluminescence otomatis.

Hasil penting yang didapat dalam penelitian ini adalah korelasi negatif yang kuat antara elastografi transien dan kadar HBsAg kuantitatif terungkap pada pasien hepatitis B kronis HBeAg-positif (r = -0,706, p = 0,000). Kadar HBsAg kuantitatif ditemukan lebih tinggi pada fase toleran kekebalan dimana fibrosis hati minimal dibandingkan dengan fase pembersihan kekebalan dimana fibrosis hati lebih parah. Pasien dengan fibrosis hati yang lebih parah menunjukkan kadar HBsAg kuantitatif yang lebih rendah. Kesimpulan penting yang dapat diambil dari penelitian ini adalah adanya korelasi negatif antara fibrosis hati berdasarkan elastografi transien dan kadar HBsAg kuantitatif pada hepatitis B kronis HBeAg-positif.

Penulis: Muhammad Miftahussurur

Informasi yang lebih rinci dari penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di Toxins, berikut kami sertakan link rujukannya, http://www.ijpronline.com/ViewArticleDetail.aspx?ID=17325

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu