Dibutuhkan Alat Diagnosis Covid-19 yang Cepat dan Akurat

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh detik news

Corona virus disease (COVID-19) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus corona terbaru strain Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2), yang pertama kali muncul di Wuhan, China pada akhir tahun 2019. Penyakit ini menyebar dengan begitu cepat ke berbagai belahan dunia, sehingga dinyatakan sebagai pandemi oleh WHO. Diagnosis COVID-19 didasarkan pada gejala klinis, seperti demam, batuk kering, dan sesak yang didukung dengan konfirmasi adanya infeksi SARS-CoV-2. Beberapa pemeriksaan penunjang yang digunakan untuk mengonfirmasi penyakit ini diantaranya yaitu melalui tes serologis untuk antibodi IgG dan IgM, serta pemeriksaan molekuler menggunakan Real-time Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction (rRT-PCR) sebagai gold standard. Hingga saat ini, patogenesis COVID-19 masih belum jelas, namun diketahui bahwa gejala yang paling banyak muncul menyerang saluran pernapasan bagian bawah.

Kemudian virus dikenali sebagai antigen yang akan merangsang sistem kebebalan tubuh dan membentuk antibodi terhadap SARS-CoV yang dibentuk sebagai IgM dan IgG. IgM akan hilang setelah 12 minggu, sedangkan IgG akan bertahan dalam waktu yang lama. COVID-19 menyebar dengan sangat cepat, menunjukkan bahwa jumlah sampel berbanding terbalik dengan jumlah laboratorium rujukan, sehingga mempengaruhi lamanya waktu diagnosis. Validasi klinik dan analitik penting untuk semua instrumen komersial, termasuk RT-PCR sebelum digunakan secara luas.Risiko positif palsu dan negatif akan memperberat upaya pencegahan penyebaran penyakit ini.Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti dari Departemen Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran, RSUD Dr. Soetomo, Institute of Tropical Disease, Universitas Airlangga berhasil mempublikasikan penelitiannya pada salah satu jurnal internasional, yaitu International Journal of Pharmaceutical Research, yang berfokus untuk mengamati berbagai modalitas pemeriksaan serologis dan molekuler untuk COVID-19.

Kesimpulan penting yang dapat diambil berdasarkan penelitian ini, yaitu diagnosis khusus terhadap COVID-19 yaitu melalui pemeriksaan molekuler menggunakan sampel saluran napas yang dikumpulkan dari swab tenggorok, sputum, aspirasi endotrakeal, dan bronchoalveolar lavage. Virus juga dapat terdeteksi di tinja dan darah pada kasus yang parah. Sedangkan diagnosis pasti COVID-19 yaitu dengan pemeriksaan rRT-PCR yang menggunakan sampel dari saluran napas bagian bawah. Metode ini dipilih karena spesifik, mudah, dan kuantitatif, namun rentan terhadap kontaminasi dan membutuhkan waktu yang lama. Cara lain yaitu melalui pemeriksaan serologis yang mendeteksi adanya antigen dan antibodi berupa IgM, IgG, atau antibodi total. Pemeriksaan molekuler merupakan modalitas utama diagnosis COVID-19. Metode ini kemudian dikembangkan oleh para ahli, meskipun tantangan yang dihadapi yaitu mutasi virus yang sangat cepat. Keakuratan pemeriksaan molekuler bergantung pada kualitas spesimen yang diperiksa, sehingga CDC memungkinkan beberapa spesimen alternatifdengan syarat pemeriksaan harus dilakukan dalam waktu 24 jam.

Di samping itu, pemilihan perangkat PCR juga harus dipertimbangkan.Pusat Keamanan Kesehatan John Hopkins mencoba membandingkan sensitivitas dan spesifisitas berbagai primer yang digunakan di beberapa negara. Sensitivitas dapat dilihat dari seberapa kecil Limit of Detection (LoD).Indonesia menggunakan perangkat yang menargetkan gen Orf1ab (RdRp) dan gen E. Tes cepat molekuler adalah pemeriksaan cepat yang sederhana (kurang dari 1 jam), yang mencakup pemeriksaan berbasis kartrid dengan pilihan instrumen, yang berperan penting dalam memperluas jangkauan diagnosis SARS-CoV-2.Pemeriksaan antibodi spesifik terhadap SARS-CoV-2 menggunakan sampel darah pasien merupakan pemeriksaan diagnosis COVID-19 yang cepat, mudah, dan sensitif. Selain itu, beberapa penelitian melakukan pengujian dan validasi pada beberapa antigen dengan menggunakan metode Enzyme-linked Immunosorbent Assay (ELISA), dan Immunofluorescence Assay (IFA) digunakan mendeteksi antibodi dengan mendeteksi sinyal fluoresen. Pemeriksaan antigen menjadi jenis tes cepat lain yang mendeteksi keberadaan protein (antigen) yang diekspresikan oleh virus COVID-19 dari sampel saluran napas.

Berbagai negara menunjukkan upaya besar untuk mendiagnosis SARS-CoV-2, serta peran pengujian diagnostik sangat penting dalam menangani penyakit penularan skala besar, seperti COVID-19. Jenis pemeriksaan, alat yang dibutuhkan, dan waktu pemeriksaan sangat penting diperhatikan untuk mendapatkan hasil yang optimal.Indonesia telah berhasil memproduksi kit RT-PCR dan rapid test sendiri. Kit RT-PCR ini diberi nama NUSANTARA TRFIC-19. Gen target yang digunakan oleh kit Indonesia adalah gen RdRp dan gen N. Uji validasi dilakukan dengan menggunakan strain virus Asia yang diimpor dari luar negeri dan strain virus lokal yang diperoleh dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Indonesia.

Kesimpulan hasil penelitian ini, yaitu sangat penting untuk memiliki alat diagnosis yang cepat dan akurat. Metode RT-PCR adalah menjadi standar emas dalam mendiagnosis COVID-19. Pemeriksaan serologis juga harus mempertimbangkan target deteksi, baik antigen, antibodi total, IgM, maupun IgG. Waktu pengambilan dan jenis spesimen yang diperiksa juga perlu diperhatikan dalam semua pemeriksaan. Validasi modalitas yang kami gunakan penting untuk mencapai hasil yang akurat.

Penulis: Muhammad Miftahussurur, dr., M.Kes., Sp.PD., Ph.D

Informasi yang lebih rinci dari penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di International Journal of Pharmaceutical Research, berikut kami sertakan link rujukannya,

http://www.ijpronline.com/ViewArticleDetail.aspx?ID=17327

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu