Pengaruh Dimensi-dimensi Kebudayaan terhadap Praktik Manajemen Laba di Beberapa Negara Asean

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Economy.okezone.com

Penelitian ini meneliti tentang manajemen laba yang erat kaitannya dengan masalah keagenan. Manajemen sebagai agen dari perusahaan memiliki akses tak terbatas atas informasi dalam perusahaan sedangkan pemegang saham sebagai principal umumnya hanya mengandalkan laporan keuangan untuk memahami kondisi perusahaan. Manajemen dapat melakukan adverse selection atau bahkan moral hazard karena terdapat ketimpangan kepemilikan informasi (asimetri informasi). Melalui adverse selection, manajemen dapat memilih atau menyembunyikan informasi dari shareholders sehingga keputusan shareholders dapat berubah. Sedangkan melalui moral hazard, manajemen dapat melakukan hal-hal yang dapat menyalahi kontrak, etika, atau norma berlaku dan pada akhirnya akan merugikan shareholders. Berdasarkan dua pilihan tindakan tersebut, manajemen dapat melakukan manajemen laba dan berakibat menurunkan kualitas laba yang dilaporkan dalam laporan keuangan. Dampak ini bertentangan dengan fungsi akuntansi sebagai penyedia informasi untuk membuat keputusan yang lebih baik.

Penelitian ini menggunakan pendekatan asosiatif dan eksplanatori untuk menganalisis hubungan antara variabel independen yang terdiri dari dimensi-dimensi kebudayaan (uncertainty avoidance, power distance, collectivism, dan masculinity) dan manajemen laba. Penelitian eksplanatori adalah penelitian yangmenjelaskan hubungan kausal antara variabel-variabel yang mempengaruhi hipotesis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi dan bukti empiris adanya pengaruh antara dimensi-dimensi kebudayaan terhadap praktik manajemen laba pada Indonesia, Singapura, Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Filipina yang diwakili oleh perusahaan perbankan yang terdaftar di bursa efek masing-masing negara pada tahun 2010-2013.

Berdasarkan hasil pembahasan penelitian yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa; pertama, hasil pengujian dan analisis menunjukkan bahwa variabel kebudayaan uncertainty avoidance berpengaruh positif terhadap praktik manajemenlaba. Manajemen laba berfungsi sebagai mekanisme untuk mengurangi ketidakpastian di masa depan sehingga lingkungan sosial yang didominasi nilai uncertainty avidance yang tinggi memiliki tingkat manajemen laba yang lebih tinggi pula. Kedua, hasil pengujian dan analisis menunjukkan bahwa variabel kebudayaan power distance tidak berpengaruh tehadap praktik manajemen laba. Hal inidisebabkan karena bank beroperasi dalam lingkungan yang regulasinya ketat. Bank diawasi oleh bank sentral dan badan regulasi lainnya sehingga preferensi pribadi individu dalam mempengaruhi hasil akuntansi sangatlah terbatas.

Ketiga, hasil pengujian dan analisis menunjukkan bahwa variabel kebudayaan collectivism berpengaruh tidak berpengaruh terhadap praktik manajemenlaba. Adanya potensi untuk melakukan kecurangan secara kolektivis karena terbangunnya network yang solid antar individu dibatasi oleh regulasi ketat yang mengatur perbankan di masing-masing negara. Keempat, hasil pengujian dan analisis menunjukkan bahwa variabel kebudayaan masculinity tidak berpengaruh terhadap praktik manajemen laba. Manageryang didominasi oleh dimensi masculinity cenderung lebih ambisius, agresif, dan berorientasi hasil. Namun, preferensi untuk melakukan manajemen laba sebagai sarana meningkatkan laba perusahaan sehingga manajemen dipandang lingkungan sosialnya sebagai orang yang berhasil memimpin perusahaan akan dibatasi oleh regulasi ketat yang mengatur perbankan.

Penulis: Basuki, Ratih Okta Novani, Chaela Rachmawati
Informasi detail dari tulisan ini dapat dilihat pada: https://www.ijicc.net/images/vol11iss9/11932_Novani_2020_E_R.pdf

Berita Terkait

Nuri Hermawan

Nuri Hermawan

Leave Replay

Close Menu