48 Akademisi Usulkan Ide Pengembangan UNAIR Lima Tahun ke Depan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

UNAIR NEWS – Pemilihan rektor yang berlangsung beberapa waktu lalu menetapkan Prof Moh Nasih sebagai Rektor Universitas Airlangga periode 2020-2025. Penetapan ini merupakan kelanjutan estafet kepemimpinan yang pada periode sebelumnya juga dipegang oleh Prof Nasih yang merupakan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB).

Penetapan Prof Nasih sebagai Rektor UNAIR kemudian disusul dengan pemilihan dekan pada 14 fakultas dan satu sekolah pascasarjana. Pada Selasa dan Rabu (15-16/9/2020) berlangsung presentasi ide dan gagasan pengembangan UNAIR oleh sebanyak 48 akademisi.

Presentasi calon dekan di antaranya dilakukan oleh dua orang dari Fakultas kedokteran (FK), tiga orang dari Fakultas Sains Teknologi (FST), empat orang dari Fakultas Vokasi, satu orang dari Sekolah Pascasarjana.

Salah satu yang mempresentasikan gagasan dan idenya adalah Prof Bagong Suyanto dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Pada Selasa (15/9/2020), ia menyampaikan beberapa gagasan untuk kemajuan FISIP UNAIR. Dua di antaranya adalah menciptakan lulusan yang punya nilai plus dan reputatif di dunia kerja, serta digitalisasi pemberkasan agar kenaikan pangkat oleh dosen dan tenaga kependidikan (tendik) bisa lebih cepat dan mudah.

“Saya ingin mendorong mendorong mahasiswa, membangun iklim akademik, memfasilitasi mereka untuk terlibat dalam event yang memberikan nilai plus untuk mereka,” ucap Prof Bagong.

Selain itu, dikatakan Prof Bagong bahwa pemberkasan untuk naik pangkat baik oleh dosen dan tendik berlangsung hingga hitungan tahun disebabkan oleh proses pemberkasan yang berlangsung cukup lama.

“Digitalisasi membuaat pemberkasan untuk naik pangkat bisa cepat dan mudah. Kalau dosen dan tendik naik pangkat cepat, mereka akan semangat untuk berkarya,” ucap guru besar bidang Sosiologi Ekonomi tersebut.

Selain itu, pada hari kedua, Selasa (16/9/2020), Prof Purnawan Basundoro dosen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) mempresentasikan gagasannya untuk pengembangan UNAIR, khususnya FIB, selama lima tahun ke depan.

Dikatakan Purnawan bahwa saat ini tantangan pembelajaran adalah menghadapi generasi milenial yang memiliki pola pikir berbeda. Untuk itu, harus ada redesain kurikulum dengan memanfaatkan teknologi informasi agar menarik minal para milenial.

“Harus ada redesain kurikulum, pembaruhan konten pembelajaran seperti video suplemen pembelajaran, hal itu akan mengubah proses pendidikan yang ada di FIB,” ujar dosen yang akan segera dikukuhkan sebagai guru besar tersebut.

“Kita harus memandang jauh ke depan bagaimana kurikulum harus mampu mengikuti perubahan zaman. Tiada yang abadi kecuali perubahan. Sekarang yang kita hadapi adalah generasi milenial yang cara berpikirnya juga sangat berbeda,” tambahnya.

Presentasi gagasan para akademisi UNAIR tersebut terbuka untuk umum. Pada Selasa siang, ruang Zoom diikuti oleh ratusan stakeholder, baik dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, maupun alumni.

Rektor UNAIR mengungkapkan bahwa gagasan-gagasan dari sivitas akademika UNAIR sangat dibutuhkan untuk pengembangan UNAIR ke depan.

“Kita ingin ada solusi fundamental yang sifatmnya memecahkan akar permasalahan. Kemampuan untuk melihat akar permasalahan menjadi sangat penting,” terang Rektor. (*) Penulis: Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu