Menilik Ragam Ikan Kerapu Melalui Pendekatan Molekuler

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Tribunnews.com

Kerapu tidak hanya menjadi komoditas penting dalam perikanan, Ikan ini juga menjadi bagian dalam rantai ekologi di habitat tempat hidupnya di ekosistem terumbu karang. Kerapu menghuni ekosistem terumbu karang dan perairan dangkal berbatu sebagai habitat utamanya. Beberapa spesies ditemukan di perairan dangkal yang memiliki substrat lumpur berpasir yang menjadikan variasi habitat kerapu cukup beragam. Keanekaragaman habitat ikan kerapu juga menjadikan ikan kerapu memiliki jenis yang beragam. Perairan Bali memiliki keanekaragaman Serranidae sebanyak 54 spesies atau sekitar 5,5% dari komposisi ikan karang, sementara penelitian lain melaporkan bahwa subfamili Epinephelinae memiliki 159 spesies, termasuk 15 genera Cephalopolis dan 31 genera Epinephelus.

Pada kegiatan perikanan budidaya, kerapu menjadi komoditas penting karena dapat mencapai ukuran yang cukup besar hingga mencapai 400 kg dan panjang total 2,5 meter. Selain itu, ikan ini menjadi komoditas penting budidaya di Asia dan beberapa negara di Indonesia dunia. Kerapu telah banyak dibudidayakan, baik dengan sistem jaring apung maupun di kolam yang menunjukkan peningkatan 8-16% mulai tahun 1900-an. Hal ini dikarenakan hasil tangkapan alan tidak mencukupi tingginya permintaan ikan kerapu baik untuk konsumsi maupun untuk perikanan hias. Sehingga kegiatan perikanan budidaya ikan kerapu semakin diminati dengan harga pasar yang tinggi dan berorientasi ekspor.

Wilayah Kepulauan Indo-Malaya merupakan pusat pemasok ikan kerapu di seluruh dunia. Diperkirakan sekitar 80% produksi ikan kerapu dunia dilaporkan dari Asia, terutama dari Indonesia, Filipina dan Malaysia. Peningkatan nilai ekspor sudah dirasakan sejak tahun 1980, dengan nilai ekspor ke beberapa negara Asia (Singapura, Hongkong, dan China), Amerika Serikat, dan Eropa. Tingkat eksploitasi ikan kerapu yang tinggi oleh manusia menyebabkan beberapa dari genus subfamili Epinephelinae, terutama genera Epinephelus dan Mycteroperca yang terdaftar sebagai spesies yang terancam punah dan memerlukan perizinan dan persetujuan yang sangat ketat. Sebagai contoh, kerapu raksasa (E. lanceolatus) dan Napoleon wrasse (C. undulatus), telah menjadi ikan yang rentan sejak didirikan pada tahun 1996 oleh IUCN. Selain itu, dari 163 spesies kerapu di seluruh dunia, 12% (20 spesies) terancam punah, dan 13% (22 spesies) dianggap hampir terancam berdasarkan kriteria Daftar Merah IUCN.

Keterbatasan studi hubungan filogenetik antara ikan di subfamili Epinephelinae (Epinephelus, Serranidae) menjadi sangat penting khususnya di kawasan Indonesia yang memiliki diversitas Kerapu sangat tinggi. Pada umumnya masyarakat hanya menyebut ikan kerapu yang ditandai dengan bintik-bintik pada bagian tubuhnya. Ikan ini memiliki warna kecoklatan hingga merah yang menarik terkait dengan keragaman habitatnya dari perairan dangkal dan ekosistem terumbu karang yang sangat berwarna. Pada penelitian ini, dilaporan beberpa jenis kerapu dari Jawa dan Aceh.

Warna-warni Kerapu

Sebanyak 11 sampel identifikasi yang berhasil terdiri dari tiga genera, Epinephelus (5), Cephalopholis (3), Variola (1). Pada penelitian ini genus Epinephelus lebih mendominasi tangkapan umum nelayan, antara lain E. coioides, E. ongus, E. poecilonotus, E. areolatus, E. merra. Sedangkan jenis lainnya hanya dalam jumlah sedikit

Gambar: 1. grs7 E. coioides(1); dps11 E.ongus (2); grs31 E. poecilonotus (3); ach9 E. areolatus (4); dps2 E. merra (5); ach10 Variola albimarginata (6); dps4 Cephalopholis cyanostigma (7); bwi4 C. miniata (8); mlg11 C. sonnerati (9) ; ach11 C. sonnerati (10)

Status Epinephelinae di IUCN dan CITES

Hampir semua spesies kerapu dalam penelitian ini berstatus Least Concern (LC), sedangkan kerapu dalam perdagangan internasional (CITES) tidak dievaluasi. Namun, E. merra telah dilaporkan sebagai agen penyebab keracunan ikan Ciguatera di beberapa negara. Keracunan ikan ini terjadi di beberapa negara seperti Thailand, Filipina, Hongkong, Australia, dan negara lainnya. Namun, belum ada laporan tentang ciguatera di Indonesia.

Pada penelitian ini ditemukan variasi genetik pada E. merra dan C. cyanostigma yang menunjukkan adanya haplotipe Indonesia. Hasil ini adalah mengetahui jarak genetik beberapa spesies dalam laporan ini. Jarak genetik E. merra dan C. cyanostigma adalah 0,004 dan 0,002, yang sedikit berbeda dengan urutan dari Jepang dan Filipina. Untuk itu diperlukan penelitian C. cyanostigma yang lebih mendalam, karena keterbatasan penelitian terhadap variasi genetik khususnya di Indonesia. Kajian tentang C. cyanostigma sangat mendukung upaya pengembangan spesies ini sebagai komoditas perikanan budidaya di masa mendatang, seperti Epinephelus. Kajian mendalam tentang ciri-ciri biologi, termasuk biologi reproduksi, ekologi, dan ciri-ciri khusus lainnya, akan bermanfaat baik dalam konservasi maupun domestikasi.

Penulis: Dr. Eng. Sapto Andriyono, S.Pi., MT

Informasi lengkap dapat ditemukan pada tulisan kami di link tautan:

https://ejabf.journals.ekb.eg/article_92320.html

dan untuk mensitasinya sebagai berikut:

Sapto Andriyono, Adrian Damora, Andi Aliyah Hidayani. Genetic diversity and phylogenetic reconstruction of grouper (Serranidae) from Sunda Land, Indonesia. Egyptian Journal of Aquatic Biology and Fisheries. Volume 24, Issue 3, May and June 2020, Page 403-415 DOI: 10.21608/EJABF.2020.92320

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu