Mengenang Petrus Bima Anugerah: Kisah Ksatria Airlangga yang telah Hilang

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ibu Petrus Bima Anugerah, Genoveva Misiati, sedang memegang foto anaknya yang telah hilang sejak 1 April 1998

“Paling tidak aku yang menabraknya, Pak.”

Begitu respon yang dilontarkan oleh seorang mahasiswa kepada ayahnya saat ia mengandaikan rezim Orde Baru yang akan ditabrak anaknya itu seperti tembok tebal yang disanggah tulang-tulang beton. Jawaban yang sederhana ini mengartikan bahwa anaknya tak gentar untuk menabrak dan meruntuhkan rezim otoriter Presiden Soeharto yang pada masa sebelum akhir hayatnya pada 21 Mei 1998, sudah tak lagi takut untuk menghilangkan nyawa siapapun yang berani menggoyahkan stabilitas rezim itu.

Mahasiswa itu diberi nama oleh kedua orangtuanya Petrus Bima Anugerah. Ia adalah seorang mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga (FISIP UNAIR) angkatan 1993. Akrab disapa dengan “Bimpet”, pemuda itu merupakan seorang aktivis pro-demokrasi yang terafiliasi dalam berbagai gerakan politik Partai Rakyat Demokratik (PRD). Perannya dalam gerakan bawah tanah PRD sebagai “kurir nasional” menyebabkan ia dihilangkan secara paksa pada 1 April 1998. Hingga saat ini, Tomo dan Misiati, ayah dan ibu Bimpet, masih terkungkung dalam terungku ketidaktahuan karena keberadaan anak keduanya itu masih belum diketahui. Dikenal sebagai pribadi yang taat pada ajaran Katolik, terhitung sudah 22 Hari Natal dan Hari Paskah berita kehilangan seorang Bimpet hadir di keluarganya. 

Tulisan ini saya liarkan untuk memperingati Hari Anti Penghilangan Paksa Internasional, yang diperingati setiap tanggal 30 Agustus. Sebagai pemuda Indonesia, akan sangat salah apabila saya melewatkan hari ini dengan percuma dan tak ikut berkabung atas penghilangan paksa 13 aktivis pada akhir rezim Orde Baru. Setali tiga uang dengan Bimpet, nama-nama seperti Widji Thukul, Herman Hendrawan, dan Suyat juga masih kekal berita kehilangannya. Sebagai mahasiswa UNAIR, akan sangat salah juga apabila di hari ini saya tidak berusaha untuk menghidupkan kembali kisah seorang pejuang yang kebetulan satu almamater dengan saya. Ini hanyalah sekelumit tulisan yang bisa saya buat dalam upaya mengabadikan perjuangan mereka di negeri yang masih bungkam atas kehilangan mereka. 

Perjuangan Bimpet untuk Menabrak Rezim

Setelah dicapnya PRD dan segala organisasi yang terafiliasi dengannya sebagai “partai terlarang” oleh Pemerintah Indonesia pada September 1996 karena Peristiwa Kudatuli dimana PRD dikambinghitamkan sebagai “dalang” dari peristiwa kerusuhan tersebut, kader-kader PRD yang belum mendekam di bui memutuskan untuk menjaga api perjuangan dengan bergerak secara klandestin. Nama-nama seperti Nezar Patria dan Bimpet membentuk Komite Pimpinan Pusat (KPP) PRD sebagai “strategi bawah”. Agenda-agenda KPP PRD salah satunya berwujud pada pembentukan Komite Nasional untuk Perjuangan Demokrasi (KNPD) sebagai “strategi atas” alias gerakan terbuka PRD untuk berkoalisi dengan kelompok oposisi.

Maju cepat pada Agustus 1997 ketika Indonesia mulai merasakan masamnya Krisis Moneter Asia 1997-98 dengan nilai inflasi terus mendaki dan harga barang-barang membumbung tinggi, PRD memutuskan untuk mengadakan konsolidasi nasional dengan KPP dan perwakilan dari masing-masing Komite Pimpinan Kota. Konsolidasi tersebut yang diadakan secara diam-diam di kamar hotel di Hotel Sentral, Jakarta melahirkan program “Gulingkan Soeharto dengan Pemberontakan Rakyat”. PRD juga memutuskan untuk melakukan sentralisasi kader-kader PRD di daerah ke wilayah Jakarta dan sekitarnya untuk kelancaran program dengan memfokuskan pemberontakannya pada pengorganisiran kaum miskin kota dan mahasiswa.

Dalam program pemberontakan inilah Bimpet diangkat menjadi penanggungjawab gugus tugas kurir atau “kurir nasional”. Tugas kurir disini adalah sebagai alur komunikasi antara Komando Wilayah dengan Komando Nasional. Dibentuknya alur komunikasi seperti ini adalah untuk memperketat keamanan. Disini tugas Bimpet adalah mendistribusikan keputusan dan perintah dari struktur Komando Nasional ke masing-masing Komando Wilayah. Tugas barunya inilah yang menyebabkan Bimpet harus menanggalkan statusnya sebagai mahasiswa UNAIR dan pindah ke Sekolah Tinggi Filsafat Drikarya Jakarta. 

Dalam menjalankan tugasnya sebagai gugus tugas kurir PRD, Bimpet dikenang sebagai pribadi yang disiplin dan tepat waktu. Ia tak pernah mentolerir keterlambatan kedatangan kurir dalam transaksi pesan. Senada dengan etos kerjanya, pemuda asal Malang itu juga memiliki pemahaman politik yang cemerlang dan idealisme yang sangat teguh. Apapun yang ia kerjakan dalam gerakan pemberontakan melawan Soeharto itu memang karena ia merupakan seseorang yang menginginkan Indonesia yang lebih demokratis.

Detik-Detik Bimpet Hilang

“Kalau aku tidak bisa di-pager satu jam setelah pertemuan di Grogol, berarti kondisiku dalam bahaya. Kalau satu jam setelahnya masih kesulitan dihubungi, kabarkan ke kawan-kawan aku hilang.”

Itulah ucapan terakhir yang dilontarkan oleh seorang Bimpet pada Rabu siang, 1 April 1998 saat bertemu dengan Sereida Tambunan, sesama kader PRD. Firasat buruk yang menyelimuti ucapan Bimpet itu ternyata benar adanya. Setelah pertemuan yang dilakukan olehnya dengan Andi Abdul (Bedul), seorang organiser PRD, untuk menyerahkan sebuah terbitan PRD untuk segera digandakan oleh Bedul, Bimpet sudah tidak dapat dihubungi lagi oleh Sereida via pager. Pada pukul 15.00 di hari yang sama, Komando Pusat mendapatkan pesan dari Sereida bahwa seorang Petrus Bima Anugerah telah hilang.

Sudah sepastinya Bimpet tahu bahwa taktik klandestin PRD untuk menggulingkan Soeharto tidak berjalan mulus. Peristiwa tidak sengaja meledaknya bom di rumah susun Taman Tinggi yang mengakibatkan pada ditangkap dan dipenjarakannya seorang kader PRD bernama Agus Priyono. Hal ini tentu dijadikan justifikasi oleh militer untuk memulai operasi penculikan aktivis pada tahun 1998. Sebelumnya, dua kader PRD bernama Suyat dan Herman Hendrawan telah mendahului Bimpet dengan telah hilang lebih dahulu. Herman Hendrawan sendiri juga merupakan mahasiswa FISIP UNAIR seperti Bimpet. Kehilangan Bimpet disusul oleh Widji Thukul. Penyair cadel yang ditempatkan di Komando Wilayah Tangerang PRD itu juga mengalami penghilangan paksa pada Mei 1998. Dalam gerakan pemberontakannya, sepuluh kader PRD ditangkap dan disiksa, dengan empat kader tersebut masih hilang hingga saat ini. Meski horor penghilangan paksa aktivis menggentayangi, impian PRD justru jadi nyata pada 21 Mei 1998 dengan Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden setelah 32 tahun memimpin ibu pertiwi. 

Namun mereka masih hilang. Bimpet masih hilang. Dalam surat terakhir yang ia kirim kepada ibunya saat Natal 1997, ia berjanji untuk pulang ke Malang saat Paskah 1998 yang jatuh pada tanggal 12 April. Ia justru hilang 11 hari sebelum ia dapat menepati janjinya itu.

Refleksi

“Jika kita tidak berbagi hidup dengan kaum tertindas, kita tidak berbagi hidup dengan Tuhan. Ketika kita mengusap wajah sesama kita yang hidupnya penuh penderitaan, kita mengusap wajah Yesus”

Kalimat itu adalah penggalan dari surat yang Bimpet tulis pada Maret 1997 untuk seorang “sobat” ketika ia mendekam di sel tahanan Polda. Secarik surat yang ia tulis secara diam-diam untuk menghindari razia sel di setiap hari Jumat itu ia beri judul “Surat di Balik Teralis Besi”. Saya memaknai kalimat itu adalah bahwa cara dia mengamini ajaran Katolik yang ia sungguh percayai adalah dengan memperjuangkan hidup-hidup kaum yang tertindas. Surat yang apabila dibacakan berdurasi kurang lebih 10 menit itu berisi dengan kobaran api semangat perjuangan seorang Bimpet yang didasari oleh ajaran-ajaran Katolik, api perjuangan dengan rasa ingin untuk melihat Indonesia yang lebih demokratis, adil, dan beradab. Bagian yang menyentuh hati saya adalah bagaimana ia membandingkan perjuangan agar Indonesia tak lagi tergelincir lagi ke struktur pemerintahan yang opresif dengan liturgi jalan salib seorang Yesus Kristus. Menurut saya, itu adalah hal terbaik dan termulia yang dapat dilakukan oleh seseorang yang beragama. Menjadikan motivasi keagamaan itu untuk kesejahteraan umat manusia.

Petrus Bima Anugerah tidak bisa juga dikatakan sebagai seseorang yang tertindas. Walau tidak mewah, kehidupan keluarganya cenderung stabil karena orangtuanya merupakan pegawai negeri. Ia juga mendapatkan keistimewaan ketika ia bisa mengenyam pendidikan sampai ke bangku perkuliahan di FISIP UNAIR. Ia bisa saja puas dengan segala kenyamanan yang Tuhan berikan kepadanya. Namun ia lebih memilih untuk berjuang. Ia sadar akan kondisi politik negaranya yang sudah sangat tidak sehat dan memutuskan untuk melakukan sesuatu.

Dalam surat terakhir seorang Bimpet kepada ibunya untuk membalas pertanyaan ibunya apakah Bimpet baik-baik saja di Jakarta, ia berucap,

Ibu tahu kan gedung-gedung mewah yang kita lihat waktu ke Jakarta. Tapi Ibu tahu gak, di balik gedung itu orang-orang tidak makan, anak-anak sekolah tak bersepatu. Di gedung tinggi orangnya cuma sedikit tapi di balik gedung itu banyak sekali orang yang bergelimpangan. Itulah yang kuperjuangkan Bu”

Namun nyatanya apa? Ia malah dihilangkan oleh negara. Seorang pemuda yang taat dengan ajaran agamanya dengan mimpi untuk menjadikan Indonesia yang lebih adil dan beradab sesuai dengan ideologinya yang pro-demokrasi justru malah diculik dan dihilangkan secara paksa oleh aparat negara. Hingga kini kondisi Petrus Bima Anugerah masih belum diketahui. Sehatkah dia? Hidupkah dia? Matikah dia? Dikubur dimana mayatnya dia? Hanya Tuhan yang tahu.

Kisah yang saya abadikan dalam untaian kata ini hanyalah sepenggal dari banyaknya kisah mereka yang telah dihilangkan secara paksa oleh negara. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), setidaknya terdapat 50 ribu orang yang dihilangkan secara paksa oleh Pemerintah Indonesia dan tentunya mereka punya cerita yang layak untuk diceritakan seperti Bimpet.

Senada dengan aksi daring yang diinisiasi oleh KontraS dan BEM FH UNAIR, kisah ini menurutku sudah pantas agar saya ikut menuntut Pemerintah Indonesia untuk segera meratifikasi Konvensi Internasional untuk Perlindungan Semua Orang dari Penghilangan Paksa Internasional (ICPPED) ke dalam hukum positif Indonesia demi terwujudnya dasar hukum yang jelas untuk mengusut tuntas kasus-kasus penghilangan paksa di Indonesia. 

22 tahun era reformasi ini telah menghidupi atmosfer negeri ini. 22 tahun era dimana benang kusut kasus-kasus pelanggaran HAM berat harus diluruskan telah menghidupi atmosfer negeri ini. 22 tahun era dimana mimpi-mimpi ibu pertiwi jadi lebih lestari telah menghidupi atmosfer negeri ini. 

Namun nyatanya apa? Mereka masih hilang! Namun nyatanya apa? Mereka masih hilang!

Penulis: Pradnya Wicaksana

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu