Stres Kerja pada Pekerja Perempuan dan Laki-Laki di PT. X Sidoarjo

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi stres pada pekerja. (Sumbner: Liputan6.com)

Stres kerja pada pekerja  perempuan dipengaruhi oleh  variabel masa kerja (p-value = 0,027) dan kebisingan (p-value = 0,017).  Sedangkan Pada responden laki – laki yang berpengaruh adalah variabel umur (p-value = 0,011), masa kerja (p-value = 0,030) dan penerangan (p-value = 0,005). Secara statistic, Pekerja perempuan di PT. X mengalami stres kerja sebesar 32% dan pekerja laki – laki sebesar 20%.

Stres kerja adalah sebagai respon fisik dan emosional yang berbahaya terjadi ketika ada ketidaksesuaian antara kemampuan (kapasitas) dengan beban kerja yang dialami pekerja . Stres kerja dapat menyebabkan keluhan pada kesehatan dan bahkan dapat mengakibatkan cedera atau kecelakaan. Seseorang mampu bekerja secara maksimal dengan keserasian antara tugas dan kapasitas kerja, akan menurunkan risiko psikososial.

Faktor penyebab utama stres kerja adalah interaksi antara karakteristik pekerja dengan kondisi kerja. Berdasarkan analisis komponen utama dari tempat kerja yang ergonomis mengungkapkan bahwa faktor manusia dan faktor lingkungan yang signifikan berhubungan dengan stres kerja. Stres kerja dipengaruhi oleh faktor individu dan beban kerja fisik, faktor individu yang berpengaruh meliputi umur, masa kerja dan tingkat pendidikan. ingkungan kerja fisik mempengaruhi stres kerja pegawai, semakin baiknya kondisi lingkungan kerja fisik yang didasarkan pada penerangan, suhu udara, warna, kebisingan suara, kebersihan, ruang gerak, dan keamanan kerja maka stres kerja yang dirasakan oleh para pegawai akan menurun.

Berdasarkan hasil penelitian, faktor yang berpengaruh terhadap stres kerja pada pekerja perempuan adalah masa kerja dan kebisingan. Masa kerja yang mempengaruhi stres kerja pada perempuan bernilai bernilai negatif, artinya semakin lama masa kerja responden maka kejadian stres kerja semakin berkurang. Seseorang bekerja dengan masa kerja yang lama maka stres kerja yang dialami akan semakin ringan dikarenakan orang tersebut sudah berpengalaman dan cepat tanggap dalam menghadapi berbagai masalah pekerjaan.

Faktor lain yang berpengaruh adalah kebisingan. Pengaruh kebisingan terhadap stres kerja bernilai positif. Ini berarti semakin banyak responden perempuan yang merasa bising, semakin besar responden perempuan akan mengalami stres kerja. Pekerja yang berada di lingkungan kerja dengan intensitas kebisingan tinggi dan dalam waktu lama beresiko lebih mudah stres serta mengalami kebosanan dalam rutinitas pekerjaan yang cenderung monoton. Nilai Ambang Batas faktor fisik dan faktor kimia di tempat kerja menyebutkan bahwa pekerjaan pada wilayah dengan paparan kebisingan 85 dB maksimal 8 jam perhari. Kebisingan yang memapar pada lingkungan kerja PT. X adalah 88,2 dB selama 8 jam perhari, ini telah melebihi Nilai Ambang Batas yang ditentukan.

Perempuan dalam bekerja lebih peka mengenai kepedulian lingkungan perusahaan dibandingkan dengan laki-laki. Kepekaan perempuan terhadap kebisingan lingkungan mendorong timbul efek negatif dari kondisi ruang kerja bisin. Sebagian besar responden perempuan beranggapan bahwa pada saat melaksanakan kegiatan produksi pada tingkat kebisingan tinggi menyebabkan karyawan cepat merasa lelah, pusing dan kurang nyaman dalam bekerja, sehingga memicu timbulnya stres kerja.

Faktor yang berpengaruh terhadap stres kerja pada pekerja laki-laki adalah umur, masa kerja dan penerangan. Pengaruh umur responden laki-laki terhadap stres kerja adalah bernilai negatif artinya pekerja laki-laki yang berumur tua cenderung memiliki stres kerja yang lebih rendah. Penelitian lain menyatakan tingkat stres kerja yang dialami oleh pekerja berumur tua biasanya cenderung rendah. Hal ini karena pada pekerja berusia tua, mereka lebih matang sehingga memiliki kemampuan mengolah stres lebih baik dibandingkan dengan pekerja berusia muda.

Sebagian besar responden laki – laki di PT. X berumur dibawah 25 tahun, ini menjadi salah satu faktor adanya hubungan yang bermakna antara umur dengan stres kerja. Responden laki – laki dengan umur lebih muda belum memiliki pengalaman dan pemahaman yang banyak dalam bekerja, sehingga pada jenis pekerjaan tertentu usia menjadi pemicu terjadinya stres. (*)

Penulis : Prof.Tri Martiana, Adli Prasetyo

Artikel lengkapnya dapat dilihat pada link berikut ini:

http://www.ijfmt.com/scripts/IJFMT_July-Sept.%202020_%20Final.pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu