Perancangan Pengontrol Pengisian Baterai untuk Sistem Unit Pembangkit Listrik Tenaga Hibrid

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh newswantara.com

Pembangkit Listrik Tenaga Hibrid Pandansimo adalah salah satu stasiun terbesar di Jawa Tengah dan Provinsi Istimewa Provinsi Yogyakarta, yang memiliki pembangkit energi terbarukan dari tenaga surya dan angin. PLTH ini terdiri dari 40 turbin angin. Setiap turbin menghasilkan 1kW listrik dan juga 2 rangkaian panel surya dengan kapasitas 15 kW. PLTH yang dibangun di desa ikan di Pantai Pandansimo digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat. Keperluan tersebut ialah untuk menghasilkan seribu balok es per hari dan juga memompa air sumur untuk membakar lahan pertanian di garis pantai, terutama di musim panas. Sebaliknya, listrik juga digunakan untuk penerangan jalan dan pasokan untuk beberapa toko makanan di dekat pantai.

PLTH ini memiliki tiga komponen utama, panel surya, generator, turbin angin, pengontrol pengisian daya baterai, dan juga inverter. Terkait dengan proses pengisian baterai, ada gas beracun yang ditimbulkan. Gas itu membentuk hidrogen dan oksigen. Kondisi itu akan menguntungkan pada konsentrasi tertentu. Tetapi jika berlebihan, akan menyebabkan ledakan. Di sisi lain proses pemakaian akan menyebabkan pemakaian yang berpotensi terlalu dalam. Hal ini dapat menyebabkan pengurangan siklus hidup baterai.

Untuk menghindari penyebab tersebut, pengontrol pengisian daya baterai digunakan untuk melindungi baterai dari pengisian berlebih atau pemakaian berlebih. Pengontrol pengisian daya baterai juga digunakan untuk memberikan informasi kepada pengguna tentang kondisi baterai, sehingga pengguna dapat mengontrol konsumsi listrik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan SCC (Solar Charge Controller)berbasis MPPT (Maximum Power Point Tracking) dengan algoritma PID untuk sistem baterai 120 volt dan panel surya 4 kWp. Komponen SCC dapat ditemukan dengan mudah di toko komponen elektronik lokal di sekitar Yogyakarta.Dalam implementasinya, perangat SCC ini mempunyai spesifikasi, yaitu bertegangan operasional 48 V dan daya operasional 500 Wp.

Pengujian yang dilakukan di lapangan menggunakan panel surya 400Wp60V, dan juga baterai 100Ah. Tes menunjukkan bahwa perangkat bekerja dengan baik. Indikator pengisian daya menunjukkan tegangan pengisian 54,4V dan arus 2,5A. Tes juga dilakukan di sistem PLTH di lapangan. Pada pengujian lapangan ini, perangkat SCC menunjukkan kinerja yang baik. Dan sistem W-SCC dapat diterapkan untuk diterapkan langsung ke sistem HPW.

Penulis: Prisma Megantoro, Irawan Eko Prabowo, Muhammad AbdusShomad

Link terkait tulisan di atas: https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1757-899X/835/1/012033

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu