Koping Keluarga dalam Merawat Orang dengan Gangguan Jiwa Pasca Pasung

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi orang dipasung dengan gangguan jiwa. (Sumber: DW)

Pemasungan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) merupakan tindakan illegal, melanggar hak asasi dan diskriminasi bagi pasien gangguan jiwa. Pemasungan sering dilakukan oleh keluarga pasien yang sudah kronis, sering kambuh dan mengganggu lingkungan, dilakukan dengan cara mengurung, merantai pada kaki, menggunakan balok kayu,  atau dengan mengasingkan pasien yang jauh dari pengamatan tetangga. Upaya lepas pasung oleh petugas berwenang cenderung  mengalami pemasungan berulang oleh keluarga, ketika pasien sudah dinyatakan boleh pulang.

Tak seorangpun ingin mengalami gangguan jiwa, tak satupun keluarga mengharapkan salah satu anggota keluarganya mengalami gangguan jiwa, tetapi fakta sering berkata lain, hasil riset kesehatan dasar tahun 2018 menunjukkan 7 dari seribu orang penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa berat. Keluarga dengan salah satu anggota keluarga mengalami gangguan jiwa dapat menimbulkan konflik tinggi, menjadi beban obyektif karena masalah finansial, sakit tidak sembuh dan  menjadi kronis, beban subyektif karena malu akibat penyakit yang dilami, saling menyalahkan, keterlibatan permusuhan antar anggota keluarga, belum lagi menghadapi stigma masyarakat. Koping yang dilakukan keluarga akan berbeda dan akan berpengaruh terhadap sikap, cara merawat serta perlakuan keluarga terhadap ODGJ pasca pasung. Artikel ini bertujuan mempelajari secara lebih mendalam bagaimana koping keluarga dalam memperlakukan ODGJ pasca-pasung.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan case study, yaitu penelitian yang secara khusus menggunakan teknik untuk memperoleh jawaban atau informasi mendalam tentang pendapat, persepsi, dan perasaan seseorang. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, mengamati field note, alat perekam berupa video kamera atau recorder. Jika partisipan tidak bersedia menggunakan video kamera, peneliti merekam wawancara menggunakan recorder.

Hasil analisis tematik didapatkan 7 tema, 19 sub tema, dan 32 kategori. Tema, sub tema dan kategori tersebut berdasarkan empat tujuan khusus penelitian; 1) kondisi koping keluarga dalam merawat ODGJ pasca pasung, 2) proses stratetegi koping keluarga, 3) sumber dukungan koping keluarga, dan 4) makna yang dirasakan keluarga dalam merawat ODGJ pasca pasung.

Gambaran koping keluarga dalam merawat ODGJ pasca pasung secara umum berupa kondisi koping keluarga, proses trategi koping keluarga, sumber dukungan koping keluarga dan makna yang dirasakan keluarga terhadap apa yang dialami. Kondisi koping keluarga dalam merawat ODGJ pasca pasung digambarkan sebagai koping konstruktif dan koping destruktif. Kondisi koping konstruktif berupa tindakan yang dilakukan keluarga seperti mencari obat, pengawasan konsumsi obat, berinteraksi, berfikir positif.

Koping destruktif meliputi tindakan mendatangi non medis/ alternatif, overprotektif, kelalaian pengawasan obat, perasaan negatif. Penelitian ini menggambarkan kondisi koping keluarga dalam merawat ODGJ pasca pasung tidak selalu pada satu kondisi koping, melainkan secara garis besar semua partisipan pernah berada dalam kedua kondisi (fruktuatif). Hal ini bergantung pada masalah atau situasi yang dihadapi, meskipun keluarga ODGJ pasca pasung telah berada pada kondisi konstruktif, mereka dapat berada di kondisi destruktif menghadapi masalah baru atau situasi baru.

Proses strategi koping keluarga dalam merawat ODGJ pasca pasung digambarkan sebagai tahapan proses strategi. Tahapan tersebut terbagi menjadi empat fase: fase awal keluarga tidak menyadari situasi yang tengah terjadi pada anggota keluarganya. Fase kedua, keluarga akan mencari bantuan kurang tepat yaitu pada orang pintar. Fase ketiga, keluarga berada pada di keadaan nol. Keluarga akan mengalami kehabisan harta untuk berobat disebabkan pergi ke pengobatan alternatif (dukun) secara berulang-ulang tanpa ada progresifitas perbaikan keadaan ODGJ. Fase keempat, keluarga bertahan dengan keadaan. Pada fase ini ada dua kategori pilihan yaitu menjalani situasi atau terus mencari cara menyembuhkan ODGJ pasca pasung.

Sumber dukungan koping keluarga dalam merawat ODGJ pasca pasung pada penelitian ini menunjukkan dukungan di dapat setiap partisipan tidak selalu dari satu arah, melainkan dapat dari berbagai arah. Sumber dukungan tersebut interpretasikan menjadi dua sumber dukungan koping, yaitu intra-keluarga dan Public Support. Sumber dukungan inta-keluarga dikategorikan menjadi kerabat diluar keluarga inti. Public support berupa dukungan yang di dapat keluarga baik berbentuk material atau non-material dari tetangga atau pemerintah/tokoh sosial.

Makna yang dirasakan keluarga selama merawat ODGJ pasca pasung digambarkan menjadi dua yaitu makna positif dan makna negatif. Makna positif dirasakan oleh keluarga sebagai sebuah ujian atau cobaan dari Tuhan dan mengarah pada peningkatan spiritual. Makna positif terinterpretasi menjadi tiga sikap yaitu ikhlas, sabar dan pasrah. Makna negatif dirasakan keluarga sebagai sebab dari suatu hal, sebuah takdir, dan berhubungan dengan keturunan. (*)

Penulis: Ah. Yusuf

Hasil lengkap dapat dilihat pada link berikut ini:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7047469/

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu