Scaffold Kombinasi Chitosan dan Lidah Buaya Mempercepat Penyembuhan Luka Pencabutan Gigi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi lidah buaya. (Sumber: Klikdokter)

Pada kasus pencabutan gigi akan diikuti dengan proses resorbsi tulang alveolar. Sampai saat ini angka kejadian tindakan pencabutan gigi di Indonesia masih tinggi, hal ini disebabkan karena tingginya prevalensi penyakit periodontal di Indonesia. Pada tiga bulan pertama setelah pencabutan gigi akan terjadi perubahan dimensi tulang alveolar. Apabila tidak ada perawatan dalam upaya mencegah resorbsi tulang yang berlanjut, maka resorbsi tulang alveolar akan terus berjalan dan lebih dari 40% – 60% volume ridge akan hilang selama 3 tahun pertama pasca pencabutan gigi. Resorbsi dan kerusakan tulang tersebut akan menyebabkan kegagalan atau tidak stabilnya pemasangan gigi tiruan maupun implan gigi.

Inovasi teknologi di bidang rekayasa jaringan tulang telah dikembangkan scaffold  tiga dimensi (berfungsi sebagai kerangka) yang dapat diserap oleh tubuh seperti polimer, juga mampu mempercepat penggantian jaringan yang rusak. Penggunaaan scaffold memungkinkan sel untuk berproliferasi, diferensiasi, dan mempertahankan fungsi jaringan sebagai upaya mencegah resorbsi tulang berlanjut. Salah satu polimer yang sering digunakan pada rekayasa jaringan tulang adalah kitosan (N-acetyl-D-glucosamine) yang struktur polimernya sama dengan hyaluronic acid dan merupakan makromolekul matriks ekstraseluler yang penting untuk penyembuhan tulang. Struktur mikroporusitas scaffold mempengaruhi aktifitas untuk merangsang pertumbuhan sel baru, perlekatan sel dan mendukung terjadinya proliferasi sel sehingga akan mempercepat proses penyembuhan tulang.

Lidah buaya (Aloe vera) merupakan bahan herbal Indonesia yang menjadi stimulator biogenik untuk menstimulasi dan mempercepat pertumbuhan tulang alveolar. Lidah buaya memiliki lebih dari 75 senyawa aktif yang berperan dalam proses penyembuhan yaitu protein (aloktin), asam amino essensial dan non essensial, enzim, alkaloid, flavonoid, saponin, kolagen, vitamin, kalsium, potassium, dan polisakarida mannan.

Kombinasi antara kitosan dan Lidah buaya bersifat osteokonduksi, osteoinduksi, osteogenesis, memiliki kekuatan mekanik, sifat fisik meliputi ukuran dan interkonektivitas pori yang baik serta dapat mempercepat proses penyembuhan tulang. Untuk memenuhi syarat scaffold kombinasi yang ideal maka diperlukan pengujian karakteristik meliputi ukuran dan interkonektivitas pori, interaksi ikatan yang terbentuk, pola difraksi struktur dan besar kekuatan mekanik agar dapat menunjang proses penyembuhan tulang alveolar.

Cara pembuatan scaffold kombinasi kitosan dan ekstrak etanol Aloe vera dan hasil pengujian karakteristiknya dapat dibaca pada publikasi di “Journal of International Dental and Reseach” Volume 12 Nomer 4 tahun 2019. Halaman: 1376-1381, ISSN: 1309-100X

Penulis: Sularsih,  Soetjipto, Retno Pudji Rahayu

Artikel lengkapnya dapat dilihat pada link jurnal berikut ini:

http://www.jidmr.com/journal/wp-content/uploads/2019/12/23.D18_821_Larsih_adi.pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu