Pakar UNAIR : Tantangan dan Peluang Bonus Demografi Pembangunan Desa di Masa dan Pasca Covid-19

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dr. Lutfi Agus Salim, S.KM., M.Si saat menyampaikan materi pada webinar Senin (1/6/2020) via zoom. (Foto : Istimewa)

UNAIR NEWS – Bonus demografi merupakan keadaan dimana jumlah penduduk usia produktif yaitu 15 sampai 64 tahun lebih banyak dari jumlah penduduk tidak produktif. Ledakan penduduk berusia produktif tersebut kemudian disiapkan agar berkualitas sehingga tidak menjadi beban negara.

Pandemi Covid-19 cukup mengejutkan bagi semua masyarakat. Pada webinar yang dilaksanakan IKA FKM UNAIR dan Persakmi pada Senin (1/6/2020) Dr. Lutfi Agus Salim, S.KM., M.Si selaku pakar kependudukan FKM UNAIR menyebutkan bahwa dengan adanya pandemi tersebut menjadi tantangan karena dapat mempengaruhi perjuangan selama berpuluh-puluh tahun untuk mencapai bonus demografi dikhawatirkan dapat hancur.

“Kalau penduduk yang besar tidak dimanajemen dengan bagus, maka akan dapat menjadi beban bagi negara,” ucap Kepala Departemen Biostatistika dan Kependudkan yang akrab disapa Lutfi tersebut.

Lutfi melanjutkan, terdapat beberapa syarat untuk dapat memetik keuntungan dari momentum bonus demografi tersebut. Di antaranya adalah penduduk usia muda yang meledak jumlahnya tersebut harus punya pekerjaan yang produktif dan bisa menabung. Tabungan rumah tangga dapat diinvestasikan untuk menciptakan lapangan kerja produktif.

Kemudian, terdapat investasi untuk meningkatkan modal manusia agar dapat memanfaatkan peluang yang akan datang. Serta, menciptakan lingkungan yang memungkinkan perempuan masuk pasar kerja.

“Pada masa pandemi ini, banyak orang produktif yang kembali ke desa. Harapannya, mereka dapat membangun desa alih-alih kembali ke kota,” lanjut Lutfi.

Tantangan Bonus Demografi

Setidaknya, terdapat tiga tantangan yang dihadapi untuk dapat memetik keuntungan bonus demografi pada masa pandami saat ini. Tantangan pertama adalah pada masa pandemi saat ini, terjadinya transisi epidemiologi dan transisi demografi.

Transisi demografi terjadi karena adanya proses migrasi sehingga terjadi perubahan struktur penduduk muda dan tua di beberapa wilayah. Sementara itu, transisi epidemiologi adalah pergeseran penyebab kematian akibat penyakit.

Sebelum pandemi terjadi, Indonesia telah mengalami transisi penyebab kematian dari penyakit infeksi ke penyakit degeneratif. Adanya pandemi saat ini kembali bergeser menjadi penyakit infeksi dan penyakit degeneratif.

“Kedepannya, penyakit infeksi dan degenerative akan menjadi beban tersendiri bagi bangsa kita,” jelas Lutfi.

Tantangan kedua adalah terjadinya perubahan jenis pekerjaan. Sebelum pandemi terjadi, dunia telah mengalami revolusi industri 4.0 dan dengan adanya pandemi secara otomatis penggunaan teknologi menjadi sebuah tuntutan dan kebutuhan di masyarakat yang kemudian mempengaruhi jenis pekerjaan masyarakat.

Tantangan ketiga adalah terjadinya migrasi dari kota ke desa. Migrasi tersebut menjadi tantangan karena biasanya, orang yang telah hidup di kota mengalami perubahan gaya hidup dan ketika kembali ke desa tidak jarang muncul rasa gengsi.

“Mereka yang kembali ke kampung dan kehilangan pekerjaan harus menghilangkan gengsi dan mulai mencari atau menciptakan pekerjaan di desa,” terangnya.

Mereka diharapkan dapat membangun desa dengan baik sehingga Indonesia dapat memetik keuntungan dari bonus demografi. Terdapat beberapa tiga hal yang perlu diperhatikan untuk memetik bonus demogradi di pedesan. Yaitu sumber daya manusia usia produktif, potensi pedesaan, dan kelembagaan sistem sosial.

Memerhatikan Usia Produkfif

Sumber daya manusia usia produktif harus diperhatikan. Terlebih adanya migrasi orang kota di desa, diharapkan dapat terjadi transfer teknologi ke desa untuk menunjang kegiatan masyarakat di desa. Kemudian perlu juga dilakukan peningkatan skill dan menjaga kesehatan masyarakat untuk meningkatkan produktivitas masyarakat.

Potensi pedesaan juga harus dimaksimalkan dengan melakukan inovasi pada penjualan produk unggulan desa. Intesifikasi pertanian dan non pertanian di desa juga perlu ditingkatkan.

“Terakhir adalah kelembanggaan sistem sosial harus berkomitmen membangun desa dan melakukan pendampingan,” ucapnya. (*)

Penulis : Galuh Mega Kurnia

Editor : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu