Halalbihalal ALFAS: Berbagi Cerita dan Tantangan Tenaga Farmasi selama Pandemi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ACARA Halalbihalal dan Talkshow ALFAS UNAIR yang dilakukan secara daring via Zoom. (Foto: Istimewa)
ACARA Halalbihalal dan Talkshow ALFAS UNAIR yang dilakukan secara daring via Zoom. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Pandemi Covid-19 tidak menghentikan alumni Fakultas Farmasi UNAIR (ALFAS) untuk tetap menjalin silaturahmi. ALFAS menggelar halalbihalal lintas angkatan yang bertajuk Kumpul Konco Dewe: Semacam Halal Bihalal dan Talkshow pada Senin (1/6/2020). Tidak hanya menjalin silaturahmi, acara tersebut juga menghadirkan cerita-cerita serta tantangan tenaga farmasi alumni UNAIR pada masa pandemi Covid-19.

Dalam acara yang digelar via Zoom tersebut, keseluruhan peserta sepakat bahwa sektor farmasi menjadi salah satu sektor terdampak dan paling berperan dalam usaha penanganan Covid-19. “Kami yang menjalankan usaha apotek harus memutar otak karena mobilisasi masyakat yang dibatasi. Makanya sekarang kami sedang gencar melakukan digital marketing,” tutur Rulli, farmasi angkatan 2003 yang menjalankan usaha apotek.

Menurutnya, kini pengusaha apotek harus mulai merambah platform media sosial seperti halodoc, gojek, maupun whatsapp untuk lebih menjaring konsumen. Selain itu, pengusaha farmasi juga harus lebih memperhatikan karyawan dan sumber daya manusia mereka.

“Di masa seperti ini hendaknya, SDM farmasi kita berikan perlindungan, pelatihan, motivasi, dan reward. Karena mereka ujung tombak pelayanan di masa-masa sulit ini.” ungkapnya

Tantangan pada sektor farmasi hadir dalam lingkup rumah sakit. Selama pandemi ini, apoteker dan tenaga farmasi di rumah sakit tengah menghadapi tekanan kerja yang begitu tinggi.

“Perencanaan pengadaan APD dan masker di rumah sakit itu sangat rumit. Bahkan kadang rebutan stok dengan rumah sakit lain. Kita tenaga farmasi selama berbulan-bulan seperti tak pernah istirahat, mulai dari yang bagian pelayanan farmasi klinis, alat kesehatan, sampai HRD,” kata Mira, alumnus farmasi angkatan 2001 yang tengah aktif bekerja di rumah sakit rujukan Covid-19.  

Menurut Mira, hal tersebut terjadi karena belum ada pedoman atau guideline tetap dalam prosedural penanganan Covid-19. Sehingga sering guideline yang digunakan berubah-ubah. Hingga kini rumah sakit di Indonesia mayoritas mengikuti pedoman yang dikeluarkan oleh perhimpunan dokter paru-paru.

Hal lain yang menjadi tantangan tenaga farmasi di rumah sakit adalah stok APD dan masker yang terbatas. Maka dari itu, donasi dari masyarakat selama ini selalu menjadi bantuan yang begitu berarti bagi penanganan Covid-19.

“Pengadaan alat kesehatan sekarang susah banget. Kita tenaga farmasi harus putar otak gimana memanajemen anggaran biar terus dapat stok cukup. Untungnya ada donasi yang terus mengalir dari masyarakat. Itu benar-benar membantu,” ungkapnya.

Mira di lain sisi juga bercerita bahwa terkadang donasi APD maupun masker yang diberikan masyarakat atau institusi ternyata tidak terstandar. Sehingga Mira menghimbau para donator lebih memperhatikan lagi standardisasi agar sumbangan yang diberikan tidak sia-sia.

Selain itu, cerita lain juga datang dari alumni Farmasi UNAIR yang tengah bekerja dan menuntut ilmu di luar negeri. Mereka adalah Fadhil, Fajar, dan Evhy yang masing-masing tengah menghadapi pandemi di Belanda, Kanada, dan Tiongkok. Meski, juga tengah mengalami keterbatasan dan physical distancing, mereka berusaha untuk memberikan semangat kepada alumni Farmasi UNAIR yang tengah bekerja menghadapi Covid-19 di Indonesia.

Dalam acara yang dihadiri 170 orang tersebut, juga diadakan donasi bagi penanganan Covid-19. “Donasi hingga akhir acara terkumpul 25 juta rupiah yang ditujukan pada RS Airlangga dan RSUD Dr. Soetomo,” kata Retno Sari selaku dosen Fakultas Farmasi dan pengisi acara. (*)

Penulis: Intang Arifia

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu