Efek Daun Sereh Terhadap Pembentukan Sel Makrofag

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh alodokter

Pencabutan gigi merupakan proses yang menggabungkan prinsip pencabutan dan teknik yang digunakan. Pencabutan gigi yang diharapkan adalah pencabutan gigi yang dapat mengeluarkan gigi atau akar secara utuh dengan minimal trauma dan tanpa rasa sakit. Proses penyembuhan luka terdiri dari tiga fase, yaitu inflamasi, proliferasi dan remodeling. Pada saat terjadi luka, tubuh merespon secara cepat dengan hemostasis yang kemudian dilanjuti dengan proses inflamasi. Terjadinya hemostasis bertujuan untuk mencegah terjadinya perdarahan. Ketika mengalami luka, maka di daerah luka terjadi koagulasi dan hemostasis. Adanya mekanisme tersebut bertujuan untuk mencegah terjadinya pendarahan. Dengan mekanisme ini, maka akan melindungi vaskularisasi dan menjaganya tetap utuh, sehingga dapat mencegah trauma/kerusakan pada organ vital. Ketika homeostasis terjadi, koagulasi diaktifkan melalui jalur intrinsik dan ekstrinsik, yang menyebabkan agregasi trombosit dan gumpalan sehinga mampu membatasi kehilangan darah.

Fase inflamasi penting dalam proses penyembuhan luka. Pada fase inflamasi ini terjadi akumulasi sel-sel radang pada daerah luka akibat respon vaskuler dan seluler. Salah satu sel radang yang berperan penting pada proses penyembuhan luka adalah makrofag. Makrofag juga bertanggung jawab untuk menginduksi dan membersihkan sel apoptosis (termasuk neutrofil), sehingga peradangan dapat terjadi. Dengan membersihkan sel apoptosis, maka makrofag mengalami transisi fenotopik ke keadaan reparatif yang kemudian merangsang keratinosit, fibroblast dan angiogenesis untuk meningkatkan regenerasi jaringan.

Salah satu bahan alternatif yang dapat digunakan untuk membantu proses penyembuhan luka adalah dengan menggunakan tanaman obat tradisional.  Di negara-negara sedang berkembang, sebagian besar penduduknya masih terus menggunakan obat tradisional, terutama untuk pemenuhan kebutuhan kesehatan dasarnya. Menurut resolusi Promoting the Role of Traditional Medicine in HealthSystem: Strategy for the African Region, sekitar 80% masyarakat di negara–negara anggota WHO (World Health Organization) di Afrika menggunakan obat tradisional untuk keperluan kesehatan. Beberapa negara Afrika melakukan pelatihan obat tradisional kepada farmasis, dokter dan para medik. Demikian pula penggunaan obat tradisional di Asia, terus meningkat meskipun banyak tersedia dan beredar obat-obat entitas kimia. Salah satu obat herbal yang sering digunakan adalah sereh. 

Sereh umum digunakan sebagai wewangian sabun, obat herbal, dan kosmetik. Salah satu kandungan utama dari ekstrak daun sereh adalah citral. Penelitian laboratorium menunjukkan bahwa citral dapat menghambat terjadinya inflamasi yaitu dengan menghambat ekspresi iNOS. iNOS adalah enzim yang memproduksi nitric acid (NO). NO merupakan molekul yang mengaktivasi inflamasi vasodilatasi pembuluh darah. Hal ini terkait dengan proses keradangan. Beberapa penelitian menunjukkan kemampuan citral untuk menghambat produksi IL-1 dan IL-6 yang merupakan pro-inflammatory, menunjukkan kemampuan anti-inflamasi dari sereh.

Hewan coba tikus wistar yang terdiri dari 3 kelompok kontrol dan 3 kelompok perlakuan. Replikasi sampel dihitung menggunakan rumus Federer dan didapatkan jumlah minimal sampel adalah 4 ekor, pada penelitian menggunakan 5 ekor tikus wistar pada setiap kelompok. Kelompok kontrol dilakukan tindakan pencabutan gigi insisif rahang bawah tanpa pemberian ekstrak sereh dan pada soket paska pencabutan gigi dilakukan penjahitan, kemudian didekapitasi pada hari ke-1, ke-3 dan ke-5. Kelompok perlakuan dilakukan pencabutan gigi insisif rahang bawah dan diberi ekstrak daun sereh sebanyak 0,6 ml kemudian soket paska pencabutan gigi dijahit, lalu didekapitasi pada hari ke-1, ke-3 dan ke-5. Pemberian ekstrak sebanyak 0,6 ml berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Yoyada menunjukkan dosis ekstrak yang efektif. Penelitian mengunakan ekstrak daun sereh dengan pertimbangan daun sereh mudah didapatkan dan memiliki kandungan fitokimia yang berperan sebagai anti-inflamasi. Pada penelitian ini, pengamatan jumlah makrofag dilakukan dengan pembacaan preparat histologi dari hewan coba, menggunakan mikroskop cahaya dengan pembesaran 1000x.

Jumlah makrofag kelompok perlakuan menunjukkan penurunan yang signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol membuktikan ekstrak daun sereh memiliki efek anti-inflamasi. Beberapa peneliti melaporkan bahwa kandungan ekstrak daun sereh yang memiliki kemampuan sebagai anti-inflamasi adalah citral dan polyphenols. Selain itu, menurut Lee efek anti inflamasi pada daun sereh disebabkan oleh kandungan citral, flavonoid dan alkaloid. Kandungan citral dan flavonoid yang menghambat pembentukan nitric oxide yang dimana nitric oxide dapat meningkatkan oksidan yang berperan dalam proses penyembuhan luka dan penurunan keradangan. Fraksi flavonoid dan tannin memiliki potensi anti-inflamasi yang lebih baik karena mengandung luteolin glycosides. Citral pada sereh dalam penelitian in-vivo menunjukkan kemampuan sebagai anti-inflamasi dengan menghambat produksi IL-1 dan IL-6. Citral dengan dose dependant mampu mengurangi COX-2 mRNA, ekpresi protein dan mengaktivasi peroxisome proliferator-activated receptor (PPARα and γ) di LPS induced U937 human macrophage-like cells.

Penulis: Andra Rizqiawan

Department of Oral and Maxillofacial Surgery, Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia

Judul Asli : Effects of Lemongrass Leaf on Macrophages After Tooth Extraction of Wistar Rat. Identitas Jurnal : Acta Medica Philippina, Vol 53, No 5, 2019 Link Jurnal : https://www.actamedicaphilippina.org/issue/1691-vol-53-issue-5-2019

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu