Efektifitas Krim EMLA sebagai Tambahan Anti Nyeri Saat Tindakan ESWL pada Pasien Batu Saluran Kemih

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Terapi ESWL. (Sumber: Awal Bros)

Batu Saluran Kemih : Kapan harus ditangani dan Bagaimana Tatalaksana terkini?

Batu saluran kemih merupakan jumlah pasien terbanyak di klinik urologi. Insidensi puncak terjadi pada dekade ke-3 hingga ke-5. Penyakit batu saluran kemih dapat menyebabkan rasa sakit terutama nyeri pinggang, penyumbatan aliran urin, dan infeksi. Penyakit batu saluran kemih yang menyebabkan masalah seperti demam, penurunan fungsi ginjal dan nyeri yang terus menerus harus dikeluarkan untuk mencegah komplikasi yang lebih parah.

Pilihan tindakan untuk batu saluran kemih bermacam-macam tergantung dari ukuran dan lokasi batu. Salah satu prosedur untuk menghancurkan batu saluran kemih adalah ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy). Prosedur ESWL adalah pilihan pertama dan non invasif untuk terapi batu ginjal dengan ukuran ≤20mm dengan tingkat keberhasilan berkisar antara 33-91% .

Prinsip kerja dari ESWL adalah memecah batu saluran kencing dengan menggunakan gelombang kejut yang dihasilkan oleh mesin dari luar tubuh. Salah satu komplikasi ESWL adalah rasa sakit. Rasa sakit terjadi ketika gelombang kejut yang dipancarkan dari mesin mencapai struktur permukaan tubuh dan merangsang reseptor rasa sakit di daerah kulit dan atau pada struktur yang lebih dalam seperti otot dan organ viseral. Rasa nyeri tersebut kemudian diteruskan melalui saraf-saraf tepi dan akhirnya menuju ke saraf pusat atau otak.

Kontrol nyeri selama ESWL sangat penting untuk meminimalkan pergerakan pasien. Pasien yang kooperatif dan tenang penting untuk menjaga titik fokus ESWL tidak berubah dan pemecahan batu menjadi optimal sehingga angka bebas batu dapat meningkat. Prosedur ESWL yang nyaman akan memengaruhi kepatuhan pasien jika diperlukan sesi tambahan.

Anti nyeri diberikan sebelum ESWL bertujuan untuk mengurangi rasa nyeri selama ESWL. Anti nyeri dapat diberikan melaui pembuluh darah atau berupa tetasan infus, suntikan kedalam otot, obat minum, supositoria berupa obat padat yang dimasukan kedalam dubur, atau krim. Supositoria ketoprofen adalah anti nyeri yang rutin digunakan sebelum tindakan ESWL di Rumah Sakit Soetomo Surabaya.

Penambahan krim anti nyeri adalah salah satu alternatif tambahan anti nyeri selama ESWL. Krim Eutectic Mixture of Local Anesthetics(EMLA) merupakan krim anti nyeri yang mengandung 1:1 campuran lidokain dan prilokain. Krim EMLA dapat menjadi pilihan tambahan untuk mengurangi rasa sakit selama ESWL karena penggunaanya yang mudah dan efek samping yang ringan.

Penggunaan krim EMLA sebagai anti nyeri topikal akan menyumbat reseptor nyeri di saraf perifer seperti di kulit dan otot sehingga rangsangan nyeri tidak diteruskan ke sumsum tulang belakang. Masih belum ada data tentang efektifitas penggunaan krim EMLA sebagai anti nyeri tambahan untuk prosedur ESWL di RSUD Dr.  Soetomo Surabaya.

Desain Penelitian dan Hasil Penggunaan Krim Anti Nyeri sebelum ESWL

Studi ini bertujuan untuk menilai efektifitas krim anti nyeri EMLA saat tindakan ESWL. Terdapat dua kelompok pada penelitian ini yaitu kelompok yang diberikan krim EMLA sebelum ESWL dengan kelompok plasebo. Studi ini membandingkan onset nyeri dan skala nyeri menggunakan skala nyeri Wong Baker saat ESWL. Skala nyeri diukur pada menit ke-15, 30, 45, dan 60 menit saat ESWL. Data diolah dengan program SPSS.

Hasil dari penelitian kami didapatkan timbulnya rasa sakit pada kelompok yang diberi krim Anti nyeri EMLA lebih lama daripada plasebo. Namun demikian, hasil ini tidak signifikan secara statistik. Selama prosedur ESWL, tidak ada perbedaan skala nyeri yang signifikan pada 15 menit pertama. Hasil ini mungkin terkait dengan kekuatan ESWL selama periode tersebut. Tetapi pada menit ke-30, 45, dan ke-60 selama ESWL, skala nyeri pada kelompok yang diberi krim EMLA lebih rendah secara signifikan daripada kelompok plasebo.

Dalam 60 menit setelah prosedur ESWL, tidak ada skala nyeri yang signifikan pada kelompok EMLA dan kelompok plasebo. Hasil ini berhubungan dengan puncak onset kerja ketoprofen yang dicapai dalam 2,5 jam. Selain itu, selama periode ini stimulasi mekanik dan peradangan telah berhenti. Dalam penelitian ini, kami tidak menemukan komplikasi memar pada panggul pada semua pasien setelah prosedur ESWL dan iritasi karena penggunaan krim EMLA.

Efektifitas Krim Anti nyeri EMLA dalam mengurangi nyeri selama ESWL

Penggunaan krim EMLA sebelum tindakan ESWL terbukti efektif dan aman sebagai anti nyeri tambahan untuk mengurangi rasa sakit selama ESWL. Namun, penelitian lebih lanjut dengan jumlah sampel yang lebih besar masih diperlukan untuk menentukan kemanjuran krim EMLA dalam prosedur ESWL. Selain itu, untuk mendapatkan pilihan anti nyeri yang optimal, studi lebih lanjut yang membandingkan berbagai anti nyeri masih diperlukan. (*)

Penulis: Lukman Hakim

Informasi dari artikel ini dapat diakses melalui link di bawah ini:

http://juri.urologi.or.id/juri/article/view/509

Berita Terkait

Binti Q. Masruroh

Binti Q. Masruroh

Alumnus Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga

Leave Reply

Close Menu