Inilah Bukti Suplementasi Seng pada Mukosa Bronkus!

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi infeksi saluran pernapasan. (Foto:halodoc.com)
Ilustrasi infeksi saluran pernapasan. (Foto:halodoc.com)

Pada tahun 2019, UNICEF melaporkan sebanyak 36 persen kematian pada anak bawah 5 tahun (balita) disebabkan infeksi saluran pernapasan. Sejumlah studi menunjukkan peran seng sebagai mikronutrien untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas dari infeksi saluran pernapasan. Seng dianggap berperan dalam pembentukan sel mikrotubulus dan silia, fluks kalsium terkait dengan kinerja silia, serta penghambatan aktivasi dan oksidasi caspase 3, yang juga terlibat dalam apoptosis dan regenerasi sel dan silia, meskipun mekanisme ini belum sepenuhnya dimengerti. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui peran seng terhadap mukosa dan silia bronkus.

Penelitian ini dilakukan pada hewan coba, yaitu 11 tikus jantan putih galur Wistar (usia 5 minggu dan berat badan 60-100 gram). Sebanyak 2 tikus jantan putih dimasukkan ke dalam kelompok pra-perlakuan dan sisanya dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan, yaitu K1 (2 tikus pada kelompok kontrol, diet tanpa kandungan seng), K2 (4 tikus pada kelompok diet defisiensi seng) dan K3 (3 tikus pada kelompok diet normal seng). Pada kelompok K2 dan K3, sebanyak 1 tikus pada masing-masing kelompok tidak diberikan suplementasi seng sedangkan sisanya diberikan suplementasi seng (60,90 dan 120 ppm/hari pada kelompok K2 serta 45 dan 60 ppm/hari pada kelompok K3).

Ada perbedaan yang signifikan antara struktur epitel mukosa bronkus dari kelompok diet normal seng dan diet defisiensi seng. Epitel dan silia bronkus yang tegak dan tersusun rapi tampak pada tikus dengan diet normal seng, sedangkan epitel yang rusak dan silia yang lebih pendek tampak pada tikus dengan defisiensi seng. Efek suplementasi seng pada kelompok diet defisiensi seng menunjukkan rerata jumlah epitel, jumlah silia per sel dan panjang silia yang lebih baik secara signifikan dibandingkan tanpa suplementasi seng, sedangkan pada kelompok diet normal seng hanya menunjukkan perbedaan yang signifikan pada rerata panjang silia.

Kelompok diet defisiensi seng yang mendapatkan suplementasi seng menunjukkan rerata jumlah epitel yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok diet normal seng yang juga mendapatkan suplementasi seng. Seng memiliki faktor penting terhadap mekanisme pertahanan saluran pernapasan melalui permeabilitas epitel mukosa dan pembersihan mukosiliar. Kekurangan seng dapat menyebabkan kerusakan pada epitel tersebut dan menyebabkan apoptosis secara langsung sehingga meningkatkan faktor risiko terjadinya infeksi saluran pernapasan. Seng juga memiliki efek anti oksidan yang mencegah pembetukan radikal bebas. Suplementasi seng berperan penting dalam regenerasi sel dan silia bronkus setelah apoptosis.

Sebagai kesimpulan, suplementasi seng dapat diberikan baik pada kondisi defisiensi seng maupun normal seng. Suplementasi seng meningkatkan rerata jumlah epitel, jumlah silia per sel dan panjang silia pada kondisi defisiensi seng. Panjang silia yang lebih baik juga ditemukan pada kondisi normal seng yang mendapatkan suplementasi seng. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk membuktikan peran seng sebagai preventif dan terapi pada infeksi saluran pernapasan.

Penulis: Dr. Alpha Fardah Athiyyah, dr., Sp.A(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://inabj.org/index.php/ibj/article/view/998

Darma A, Athiyyah AF, Ranuh RG, Merbawani W, Setyaningrum RA, Hidajat B, Hidayat SN, Endaryanto A, dan Sudarmo SM. The Indonesian Biomedical Journal, 2020. 12, 78-84 Published 2020 Jan 23. doi: 10.18585/inabj.v12i1.998

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu