Sensitivitas Eritromisin Terhadap Strain Toksigenik Corynebacterium Diphtheriae

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Dovemed.com

Difteri merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Difteri masih menjadi masalah di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini terutama di wilayah Provinsi Jawa Timur yang mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri pada tahun 2011. Eritromisin merupakan antibiotik pilihan kedua bila pasien mengalami alergi terhadap penisilin dalam penanganan difteri, selain itu juga digunakan sebagai terapi karier dan profilaksis kontak difteri. Eritromisin telah digunakan dalam terapi difteri sejak zaman dahulu, namun tidak banyak data publikasi terkini mengenai sensitivitas eritromisin terhadap bakteri C. diphtheriae.

Penelitian ini menggunakan desain deskriptif yang mengamati pola sensitivitas eritromisin terhadap Corynebacterium diphtheriae dengan menggunakan teknik difusi epsilometer (Etest) eritromisin untuk uji sensitivitas. Sampel dari penelitian ini adalah 30 isolat Corynebacterium diphtheriae strain mitis dan gravis yang bersifat toksigenik bertempat di Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya dalam rentang waktu 2011 hingga 2014.

Hasil penelitian menunjukkan 27 isolat (90%) bersifat sensitif dengan rata-rata Konsentrasi Hambat Minimal (KHM) <0,016 μg/ml dan semuanya merupakan strain mitis, sementara 3 isolat (10%) memiliki sensitivitas intermediet dengan KHM 1 μg/ml dan semuanya merupakan strain gravis. Tidak ditemukan hasil resisten dalam uji sensitivitas ini. Hasil tersebut menunjukkan bahwa saat ini Eritromisin masih memiliki aktivitas antibakteri yang kuat terhadap C. diphtheriae.

Metodologi dan Hasil

Penelitian ini merupakan suatu studi deskriptif observasional dimana kami mengamati pola sensitivitas Eritromisin terhadap C. diphtheriae. Sebanyak 30 isolat yang digunakan dipilih berdasarkan metode stratified random sampling dari total populasi 216 isolat di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Kota (BBLK) Surabaya dari 2011 hingga 2014. Kami memilih 30 isolat berdasarkan asal wilayah kota/kabupaten di Jawa Timur dengan tingkat insidensi tertinggi pada saat itu. Wilayah tersebut yakni Bangkalan 18 isolat (60%), Jember 5 isolat (16,7%), Bondowoso 4 isolat (13,3%), Banyuwangi 1 isolat (3,3%), Bojonegoro 1 isolat (3,3%), dan Tuban 1 isolat (3,3%). Kriteria inklusi yaitu isolat yang bersifat toksigenik dibuktikan dengan uji elek. Berdasarkan karakteristik jenis kelamin dan usia, 20 merupakan wanita (66,7%) dan 10 merupakan pria (33,3%), sedangkan sebanyak 16 (53,3%) merupakan usia ≥ 15 tahun dan 14 (46,7%) merupakan usia < 15 tahun. Strain yang digunakan dari sampel merupakan 27 (90%) mitis dan 3 (10%) gravis, tidak ditemukan strain intermedius dan belfanti pada penelitian ini.   

Uji sensitivitas dilakukan dengan teknik difusi menggunakan tes epsilometer (Etest). Hasil dari uji ini dikelompokkan menjadi sensitif, intermediate, dan resisten. Parameter yang digunakan yakni Konsentrasi Hambat Minimal (KHM) yang terbaca pada titik perpotongan antara zona hambat dan skala pada etest. Interpretasi nilai KHM ini berdasarkan rekomendasi dari Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI) tahun 2007. KHM ≤ 0,5µg/ml adalah sensitif, KHM 1 µg/ml adalah intermediate, dan KHM ≥ 2 µg/ml adalah resisten.

Hasil uji sensitivitas Eritromisin terhadap 30 isolat C. diphtheriae menunjukkan bahwa 27 sensitif (90%) dengan KHM rata-rata <0,016 μg/ml dan 3 intermediate (10%) dengan KHM 1 μg/ml. Tidak ditemukan adanya hasil resisten dari uji ini. Dari data 27 sensitif semuanya merupakan strain mitis (100%), dan 3 intermediate merupakan strain gravis (100%).  

Difteri merupakan infeksi akut yang disebabkan bakteri Corynebacterium diphtheriae dimana penyakit ini sempat menimbulkan wabah KLB di beberapa wilayah di Indonesia salah satunya Jawa Timur pada 2011. Eritromisin saat ini merupakan alternatif lini ke-2 antibiotik pilihan untuk terapi spesifik difteri bila alergi terhadap penisilin, selain itu juga digunakan sebagai terapi karier maupun profilaksis untuk pasien kontak difteri. Data publikasi terkini mengenai sensitivitas Eritromisin terhadap C. diphtheriae masih sedikit. Berdasarkan hasil uji sensitivitas Eritromisin terhadap C. diphtheriae kami dapat simpulkan bahwa Eritromisin masih memiliki aktivitas antibakteri yang kuat.

Penulis: Alif Mutahhar, dr., Dwiyanti Puspitasari, dr, DTMH, MCTM, SpAK

Informasi detil penelitian ini dapat dilihat pada tulisan kami:

https://e-journal.unair.ac.id/IJTID/article/download/11654/9921

Mutahhar, Alif. Puspitasari, Dwiyanti. Husada, Dominicus. Kartina, Leny. Basuki, Parwati Setiono. Moedjito, Ismoedijanto. Sensitivity of Erythromycin Against Toxigenic Strain of Corynebacterium Diphtheriae. Indonesian Journal of Tropical and Infectious Disease, [S.l.], v.8, n.1, p.182-189, jan. 2020. ISSN 2085-1103. Available at: https://ejournal.unair.ac.id/IJTID/article/view/11654 

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu