Hubungan Seropositivitas dengan Keparahan Gastritis pada Pasien Dispepsia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh SuaraJakarta.co

Dispepsia merupakan keluhan paling umum yang terjadi di Indonesia pada pusat kesehatan dengan prevalensi 15-40%. Gejala dyspepsia sering dikaitkan dengan kelainan pencernaan, salah satunya yaitu gastritis yang disebabkan oleh infeksi bakteri Helicobacter pylori dengan prevalensi sekitar 60-70%. Pasien yang terinfeksi H. pylori dengan CagA-positif cenderung mengalami ulserasi peptikum dan progresi mukosa lambung. Data menunjukkan bahwa infeksi H. pylori dengan CagA-positif muncul hampir 80-95% dari tukak lambung pasien, sedangkan pada pasien yang adenokarsinoma lambung dengan prevalensi infeksi H. pylori CagA-positif juga cukup tinggi dengan persentase sekitar 64%. Oleh sebab itu, deteksi protein menjadi sangat penting dalam pengelolaan pasien dispepsia untuk mencegah terjadinya komplikasi yang lebih parah. 

CagA merupakan protein berat molekul 128kD yang dikodekan oleh gen CagA dan ditemukan sekitar 50-60% dari strain H. pylori. Mekanisme protein ini dapat menyebabkan kerusakan sel perut yang dimulai sejak protein CagA memasuki sitoplasma sel epitel lambung melalui Sistem Sekresi Tipe Empat (TFSS), alat yang terbentuk dari kelompok protein yang dikodekan oleh cag-patogenecity (cagPAI).  Beberapa CagA dekat permukaan sel akan mengalami fosforilasi tirosin oleh enzim Scr dan Abl kinase, kemudian mengaktifkan SRC-homology 2 yang mengandung protein tyrosinephosphatase2 (SHP-2). Hal tersebut akhirnya dapat menginduksi, meradang, dan mengubah morfologi gaster sel epitel. Sementara itu, non-terfosforilasi protein CagA mempengaruhi E-cadherin dan partitioning defective 1 (PAR-1) yang dapat merusak persimpangn apikal kompleks dan mengurangi polaritas sel epitel gaster, sehingga menghancurkan hubungan antara sel epitel gaster dan menginduksi proses keganasan. 

Sampai saat ini, 2 investigasi telah dikembangkan untuk mendeteksi penggunaan genotipe protein CagA metode Polyerase Chain Reaction (PCR) dan serologi Immunoglobulin G (IgG). PCR dikatakan menjadi lebih sensitif dan spesifik daripada serologi. Sejumlah studi mengkonfirmasi bahwa tes serologis cukup baik untuk mendeteksi protein ini. Di Indonesia, pengujian serologi CagA H. pylori masih tidak dilakukan secara rutin. Data mengenai infeksi H. pylori dengan CagA seropositif juga tidak banyak, jika dikaitkan dengan keparahan gastritis. 

Berdasarkan dari gambaran di atas, peneliti dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, RSUD Dr. Soetomo, Universitas Airlangga berhasil mempublikasikan hasil penelitiannya di salah satu jurnal Internasional terkemuka, yaitu New Armenian Medical Journal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seropositivitas Cagop H. pylori dengan keparahan gastritis, khususnya di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Desain penelitian yang dipilih adalah observasional analitik cross-sectional yang dilakukan di unit Endoskopi Divisi Gastroenterohepatologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSUD Dr. Soetomo selama Januari-Mei 2013. Dalam penelitian ini, tingkat keparahan gastritis dinilai dengan menggunakan klasifikasi Sistem Sydney yang diperbarui, dan membedakan H. pylori ke dalam kelompok positif dan negatif. Penilaian keparahan gastritis dikelompokkan menjadi 4 kategori, yaitu peradangan kronis, PMN infiltrasi, atrofi, dan metaplasia usus. Setiap kategori kemudian dinilai menggunakan skor. 

Hasil dari penelitian ini adalah dari semua 34 pasien dengan dispepsia, 8 pasien (23,5%) dari pasien H. pylori dan 4 pasien (50%) dengan CagA H. pylori. Skor inflamasi dan infiltrasi neutrophil  pada kelompok CagA H. pylori positif secara signifikan lebih tinggi daripada yang negatif, kelompok H. pylori dan kelompok positif CagA negatif H. pylori. Sedangkan pada skor atrofi kelenjar dan metaplasia usus, tidak ada perbedaan antara ketiga kelompok tersebut. Hasil dari penelitian juga menyebutkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan secara statistik antara CagA H. pylori seropositif dengan skor inflamasi, infiltrasi neutrofil, atrofi kelenjar dan metaplasia usus.

Kesimpulan penting yang dapat diambil berdasarkan penelitian ini yaitu tidak ada korelasi yang signifikan secara statistik antara CagA H. pylori porosopositivity dan keparahan gastritis menurut Updated Sydney System di kedua kategori inflamasi, infiltrasi neutrofil, atrofi kelenjar dan metaplasia usus.

Penulis : Iswan Abbas Nusi dan Muhammad Miftahussurur

Hidayati P.H, Nusi I.A, Maimunah U, Setiawan P.B, Purbayu H, Sugihartono T, Kholili U, Widodo B, Thamrin H, Miftahussurur M, Vidyani A. 2019. The New Armenian Medical Journal. Correlation Between The Seropositivity Of Cytotoxin-Associated Gene A H. pylori And The Gastritic Severity Degree In Patient With Dyspepsia: 13(4); 6-12.

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di New Armenian Medical Journal berikut 

https://ysmu.am/website/documentation/files/084ea9a8.pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu