Studi Antibakteri Ekstrak Daun Mahkota Dewa pada Aeromonas Hydhropilla

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh dokter sehat

Penyakit merupakan kendala utama untuk keberhasilan produksi. Timbulnya penyakit dapat terjadi karena kepadatan ikan tinggi saat pemeliharaan, transportasi benih, penanganan dan kualitas air yang buruk. Metode yang digunakan saat ini untuk menanggulangi penyakit pada ikan budidaya adalah pengobatan dengan zat kimia atau antibiotik. Cara ini sangat beresiko karena dapat menimbulkan resistensi terhadap bakteri, memerlukan biaya yang cukup mahal serta dapat mencemari lingkungan. Antibiotik biasanya diberikan melalui pakan, perendaman, atau penyuntikan sehingga residu antibiotik dapat terakumulasi pada ikan.

Upaya manajemen penyakit Aeromonas hydhropilla pada budidaya ikan umumnya menggunakan antibiotik seperti streptomisin, kanamisin, tetrasiklin dan kloramfenikol dengan dosis 5 – 7 gram dalam 100 kg pakan. Hasil pengukuran zona hambatan yang ditimbulkan oleh antibiotikterhadap A. hydrhopilla menunjukkan bahwa kloramfenikol dapat menghambat pertumbuhan bakteri dengan baik terhadap A. hydrophilla, sedangkan tetrasiklin, streptomisin, dan kanamisin bersifat resistan. Pemakaian antibiotik harus dilakukan secara hati-hati karena antibiotik yang ampuh mempunyai efek samping terhadap organ tubuh seperti ginjal, selain itu penggunaan dosis yang tidak tepat dapat menimbulkan resistensi terhadap antibiotik tersebut.

Buah mahkota dewa telah diketahui oleh sebagian masyarakat bermanfaar sebagai antibiotik, tetapi belum banyak yang mengetahui kegunaan dari daunnya, padahal daun mahkota dewa dapat dihasilkan sepanjang tahun sedangkan buahnya tidak berbuah sepanjang tahun dan buahnya dapat digunakan setelah masak atau berwarna merah. Daun mahkota dewa mengandung senyawa fenolik, saponin dan flavonoid yang diketahui memiliki aktivitas antibakteri seperti Pseudomonas aeruginosa,Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermis, Aeromonas hydrophilla, Streptococcus mutans, dan Eschericha coli. Senyawa yang terdapat dalam daun mahkota dewa merupakan senyawa yang tidak tahan panas dan pada suhu > 60°C dapat mengalami perubahan struktur serta menghasilkan ekstrak yang rendah dengan pelarut organik menggunakan metode ekstraksi konvensional.

Pemilihan metode ekstraksi sangat penting dilakukan karena hasil ekstraksi akan mencerminkan tingkat keberhasilan metode tersebut. Metode konvensional memiliki kekurangan karena membutuhkan waktu ekstraksi yang lama, membutuhkan banyak pelarut serta hasil ekstrak yang didapatkan kurang maksimal. Optimasi ekstraksi daun mahkota dewa dapat dilakukan dengan metode ekstraksi ultrasonik. Metode ultrasonik menggunakan gelombang ultrasonik yaitu gelombang akustik dengan frekuensi lebih besar dari 16 – 20 kHz.

Ekstrak daun mahkota dewa mampu menghambat pertumbuhan bakteri Aeromonas hydrophilla karena mengandung senyawa antibakteri. Keefektifan senyawa antibakteri tergantung dari jenis bakteri dan karakteristik bakteri. Bakteri A. hydrophila termasuk gram negatif, oksidasi positif dan mampu memfermentasikan beberapa jenis gula seperti glukosa, fruktosa, maltose dan trehalosa. Pengujian aktivitas antibakteri adalah teknik untuk mengukur berapa besar potensi atau konsentrasi suatu senyawa dapat memberikan efek bagi mikroorganisme. Metode pengujian antibakteri suatu zat, metode yang sering digunakan diantaranya metode difusi dan metode dilusi.

Metode difusi adalah suatu uji aktivitas antibakteri dengan menggunakan suatu cakram kertas saring, yaitu suatu cawan yang berliang renik dan suatu silinder tidak beralas yang mengelilingi obat dalam jumlah tertentu ditempatkan pada pembenihan padat yang telah ditanami dengan biakan tebal bakteri yang diperiksa setelah pengeraman. Garis tengah daerah hambatan jernih yang mengelilingi obat dianggap sebagai ukuran kekuatan hambatan terhadap bakteri yang diperiksa. Metode dilusi adalah suatu uji aktivitas antibakteri dimana sejumlah zat antimikroba dimasukkan ke dalam medium bakteriologi padat atau cair, biasanya digunakan       pengenceran    dua kali lipat. Metode dilusi bermanfaat untuk mengetahui seberapa banyak jumlah zat antimikroba yang diperlukan untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri yang diuji. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode difusi. Metode difusi dilakukan dengan menggunakan disk atau sumuran yang ke dalamnya dimasukkan antimikroba dalam gelas tertentu dan ditempatkan dalam media padat yang telah diinokulasikan dengan bakteri indikator setelah diinkubasi akan terjadi daerah jenuh di sekitar sumuran atau disk dan diameter hambatan merupakan ukuran kekuatan hambatan dari substansi antimikrobia. Lebarnya zona yang terbentuk, yang juga ditentukan oleh konsentrasi senyawa efektif yang digunakan merupakan dasar pengujian kuantitatif, hal ini mengindikasikan bahwa senyawa tersebut bisa bebas berdifusi ke seluruh medium.

Penulis: Sudarno

Department of Fish Health Management and Aquaculture, Faculty of Fisheries and Marine, Universitas Airlangga, Mulyorejo Street, Surabaya 60115, Indonesia

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: 

https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/441/1/012043

Antibacterial activity test of mahkota dewa leaf extract (Phaleri amacrocarpa) against bacteria Aeromonas hydrophilla by in vitro

R A Sarendah, Sudarno and R Kusdarwati

IOP Conference Series: Earth and Environmental Science 441

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu