Perawatan Ortodonti Merehabilitasi Kongenital Agenisi Insisivus Lateral dengan Diastema Multipel pada Gigi Anterior Rahang Atas

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Hellosehat.com

Agenesis gigi merupakan salah satu anomali perkembangan gigi yang paling umum pada manusia, yaitu tidak adanya benih dari satu atau lebih gigi. Kejadian agenesis gigi permanen yang dilaporkan bervariasi dari 1,6 hingga 9,6%, tidak termasuk molar ketiga, yang terjadi pada 20% populasi. Biasanya mempengaruhi gigi-geligi insisivus lateral rahang atas, gigi insisivus sentral dan lateral mandibula dengan gigi yang hilang pada populasi Asia adalah gigi seri rahang bawah. Agenesis insisivus lateral rahang atas mempengaruhi sekitar 2% dari populasi. Agenesis insisivus lateral rahang atas memiliki dampak estetika dan fungsional yang besar untuk pasien dengan anomali, serta bagi para seorang ortodontis membuat rencana perawatan menjadi tantangan besar.  

Agenesis insisivus lateral rahang atas (MLIA) adalah kondisi gigi permanen bawaan yang paling sering hilang di daerah anterior rahang atas (zona estetik). Telah ditemukan bahwa perempuan lebih terpengaruh daripada laki-laki dan MLIA bilateral lebih sering dilaporkan daripada kasus unilateral. Banyaknya teori agenesis gigi menunjukkan etiologi multifaktorial yang melibatkan regulasi genetik dan faktor lingkungan. Agenesis insisivus lateral maksila apakah unilateral atau bilateral dapat memengaruhi kepercayaan diri, estetika senyum dan hubungan sosial individu dapat terdamapk.

Agenesis insisivus lateral maksila dapat menyebabkan berbagai masalah estetik dan fungsional; hal tersebut dapat menyebabkan diastema antara gigi seri sentral, jarak antara gigi seri permanen dan gigi taring, migrasi mesial gigi taring, pergeseran garis tengah jika gigi hilang unilateral. Pilihan yang tersedia untuk ortodontis adalah dengan mengkoreksi ruang dengan reposisi mesial gigi kaninus, diikuti oleh gigi yang dikontur ulang; atau kombinasi pembukaan ruang dan penggantian prostetik gigi insisivus lateral yang hilang. Gigi yang hilang adalah alasan yang cukup signifikan untuk rehabilitasi oral yang luas yang membutuhkan prosedur ortodontik, restoratif dan prostodontik di klinik gigi, karena berbagai kombinasi estetika yang buruk dan disfungsi oklusal dapat terjadi.

Laporan Kasus

Seorang wanita 25 tahun dengan agenesis insisivus lateral maksila, diastema anterior rahang atas multipel, protrusi insisivus sentralis rahang atas dan pergeseran garis tengah gigi rahang bawah ke kiri sebesar 2 mm. Pemeriksaan ekstraoral menunjukkan profil wajah yang menyenangkan dengan bibir yang kompeten. Pemeriksaan intraoral menunjukkan hubungan molar Kelas I Angle, overjet 3 mm dan overbite dengan tidak adanya gigi seri lateral maksila. Setelah pemeriksaan radiografi (ortopantomogram), diagnosis agenisi insisivus lateral rahang atas dijumpai. Pemeriksaan intraoral orang tua juga mengungkapkan tidak adanya gigi insisivus lateral rahang atas yang mengkonfirmasi etiologi faktor keturunan yang berasal dari keluarga.

Perencanaan Perawatan dan Kemajuan Perawatan

Perawatan menggunakan teknik dengan MBT 0,022 merupakan langkah awal yang dilakukan. Sehingga membutuhkan penyelarasan dan leveling dengan 0,012, 0,014, 0,016 NiTi diikuti oleh 0,016×0,016, 0,016×0,022 NiTi dan 0,017×0,025 stainless steel selama lima bulan. Langkah kedua adalah frenektomi dan gingivektomi gingiva rahang atas untuk membuat pergerakan gigi yang baik, diikuti oleh penutupan diastema anterior pada insisivus sentral maksila. Langkah ketiga adalah persiapan ruang untuk gigi insisivus lateral rahang atas dengan menutup diastema anterior sentral rahang atas dan distalisasi kaninus rahang atas menggunakan power chain dan open coil spring (0,010 “x 0,030” NiTi). Persiapan ruang untuk gigi seri lateral maksila dan retraksi kaninus dilakukan dalam enam bulan. Langkah keempat adalah retraksi gigi insisivus rahang atas menggunakan mekanika geser. Langkah terakhir adalah kompatibilitas lengkungan.

Keberhasilan perawatan

Pasien dirawat selama 17 bulan oleh dokter gigi untuk mengkoreksi agenisi insisivus lateral rahang atas. Diastema anterior sentral maksila berhasil dikoreksi, ruang untuk insisivus lateral rahang atas tersedia, insisivus sentral maksila normal tanpa pergeseran garis median. Hasil yang memuaskan dari profil wajah. Pemeriksaan radiografi pasca perawatan (ortopantomogram) menunjukkan hasil yang baik dari kesejajaran gigi. Pada akhirnya, perawatan kombinasi ortodontik dan prostodontik dilakukan, ruang gigi insisivus lateral maksila digantikan oleh prostesis.

Perawatan agenisi insisivus lateral rahang atas cukup kompleks karena melibatkan pendekatan multidisiplin. Perencanaan perawatan yang tepat untuk setiap pasien harus dipertimbangkan. Secara umum, perawatan pilihan harus menjadi pilihan yang paling tidak invasif yang memenuhi tujuan estetika dan fungsional yang diharapkan. Perawatan kombinasi pada kasus agenisi insisivus lateral rahang atas dengan diastema anterior rahang atas multipel, dalam hal ini, melalui pendekatan ortodontik, periodontik dan prostodontik untuk mencapai hasil estetika dan fungsi yang dikehendaki.

Penulis:

Prof. Dr. Ida Bagus Narmada, drg., Sp. Ort (K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di

https://actamedicaphilippina.upm.edu.ph/index.php/acta/article/view/700/646

Bunga Fatimah and Ida Bagus Narmada. 2019. Orthodontic Treatment in the Rehabilitation of Congenitally Maxillary Lateral Incisors Agenesis with Multiple Maxillary Anterior Diastema. Acta Medica Philippina Vol. 53 No. 6.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu