Perusahaan Keluarga, Koneksi Politik, dan Jangka Pendek Manajerial

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh ID Techinasia

Sejak dekade terakhir, para peneliti dan praktisi telah memberikan perhatian lebih dalam mempelajari jangka pendek manajerial atau miopia manajerial. Penelitian sebelumnya mendefinisikan jangka pendek manajerial sebagai bentuk meminimalkan investasi jangka panjang, misalnya penelitian dan pengembangan (litbang), untuk mencapai atau melewati target kinerja jangka pendek. Orang-orang percaya bahwa investasi litbang adalah kunci untuk keunggulan kompetitif perusahaan. Namun, terdapat risiko, kompleksitas, dan probabilitas yang sangat tinggi untuk gagal. Hasilnya tidak pasti dan hanya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, perusahaan berinvestasi lebih sedikit dalam litbang dan mengabaikan kepentingannya untuk kesejahteraan masa depan perusahaan, tetapi sebaliknya perusahaan lebih menyukai laba yang lebih tinggi saat ini untuk terlibat dalam jangka pendek manajerial.

Perusahaan keluarga dan koneksi politik banyak ditemukan di negara-negara berkembang yang ditandai dengan tingkat korupsi yang tinggi. Indonesia adalah salah satu dari 100 negara paling korup di dunia. 27 dari 116 perusahaan di Indonesia memiliki koneksi politik, 68% dari semua perusahaan di Indonesia adalah perusahaan keluarga. Perusahaan keluarga melibatkan kepercayaan yang menghasilkan kemauan untuk mengambil risiko seperti investasi litbang. Ada jauh lebih sedikit pergantian manajer di perusahaan keluarga, yang membuat manajer menggunakan sumber daya secara efisien dan untuk kepentingan perusahaan. Selain itu, koneksi politik dapat membawa manfaat bagi perusahaan (sumber daya, perlindungan hak properti, informasi, dan legitimasi produk), tetapi semuanya memiliki biaya. Hasil keseluruhan bisa berupa kerugian, bukan manfaat. 

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perusahaan keluarga dan litbang berhubungan negatif. Perusahaan keluarga lebih menolak risiko, cenderung menghindari perubahan dan mempertahankan kondisi saat ini karena itu keputusan mereka lebih konservatif. Khususnya, perusahaan keluarga akan meminimalkan biaya termasuk investasi litbang yang mengandung risiko dan pengembalian hanya dalam jangka panjang. Jika hasil litbang gagal, itu dapat merusak reputasi perusahaan serta keluarga yang terlibat di dalamnya. Litbang akan menyebabkan pengurangan arus kas di awal, dan hasilnya akan terasa dalam jangka panjang apakah manfaat atau kerugian. Oleh karena itu, manajemen keluarga juga dapat menjadi skeptis dan enggan mengambil risiko dalam memutuskan investasi litbang. 

Melalui koneksi politik, perusahaan dapat memperoleh informasi terbaru dan andal mengenai kebijakan pemerintah dan arah ekonomi. Selain itu, koneksi politik dapat memberikan akses yang lebih mudah ke sumber daya atau keistimewaan pemerintah seperti pinjaman terkait kebijakan, subsidi pemerintah, dan pemotongan pajak. Dengan demikian, koneksi politik sangat penting untuk pengembangan bisnis. Perusahaan yang terhubung secara politis memiliki lebih banyak keunggulan dan hak istimewa dibandingkan dengan yang tidak terkait secara politis dalam bentuk lebih banyak ketertarikan pada pembiayaan, posisi pekerjaan dan hak properti, dan dukungan dari pemerintah seperti pemotongan pajak, daan subsidi.

Menurut Miller dan Le Breton-Miller, perusahaan keluarga cenderung menginvestasikan waktu dan uang mereka dalam mempertahankan hubungan dengan pihak-pihak yang dapat menyediakan sumber daya atau manfaat seperti pemasok, pelanggan, penyedia pinjaman atau modal, dan politisi. Koneksi politik dapat mengurangi tekanan dan motivasi perusahaan untuk inovasi. Ada kepercayaan bahwa pemerintah, terutama di negara-negara berkembang, tidak baik dan tidak tertarik pada litbang. Di sisi lain, koneksi politik mungkin memerlukan biaya pencarian sewa untuk mendapatkan atau memelihara. Biaya ini dapat mengurangi alokasi untuk investasi litbang. Ini menunjukkan bahwa perusahaan yang terhubung secara politis cenderung memiliki investasi litbang yang lebih rendah.

Harymawan, Rizki, Nasih dan Dewi melakukan riset di tahun 2019 yang berjudul Perusahaan Keluarga, Koneksi Politik dan Jangka Pendek Manajerial dengan melibatkan 959 sampel perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode 2014 – 2016. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari ORBIS, ICMD (Direktori Pasar Modal Indonesia), dan Laporan Tahunan BEI.

Hasil analisis telah mengungkapkan bukti bahwa perusahaan dengan kepemilikan keluarga yang lebih rendah, cenderung lebih terlibat dalam jangka pendek manajerial. Dengan meningkatnya kepemilikan keluarga, perusahaan keluarga lebih baik menjaga kesejahteraannya di masa depan dan terbebas dari jangka pendek manajerial. Penelitian ini menemukan bahwa koneksi politik memoderasi perusahaan keluarga menjadi jangka pendek manajerial terlepas dari tingkat kepemilikan keluarga. Temuan ini menyiratkan bahwa tingkat kepemilikan keluarga mempengaruhi keputusan perusahaan dalam penelitian dan pengembangan (litbang) dan koneksi politik mampu membuat perusahaan keluarga menjadi lebih bersifat jangka pendek manajerial.

Penulis: Iman Harymawan, Ph.D. 
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: http://jssidoi.org/jssi/uploads/papers/35/Harymawan_Family_firms_political_connections_and_managerial_shorttermism.pdf

Harymawan, I., Rizki, A., Nasih, M., & Dewi, A. K. (2020). Family firms, political connections, and managerial short-termism. Journal of Security and Sustainability Issues. https://doi.org/10.9770/jssi.2020.9.J(14)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu