Cara Atasi Resistensi pada Perubahan bagi Pembuat Kebijakan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Radio Idola Semarang

Di tengah lingkungan bisnis yang sangat dinamis, para pemimpin perusahaan saat ini menghadapi sebuah paradoks. Perusahaan harus fleksibel, adaptif, dan mampu melakukan transformasi berkelanjutan untuk mencapai keberhasilan dalam persaingan dalam lingkungan bisnisnya. Namun, dalam kenyataannya perubahan yang dilakukan oleh perusahaan tidak dapat dipisahkan dari risiko yang muncul. Di antara kisah sukses perusahaan yang membuat perubahan, ada juga beberapa kegagalan yang dialami oleh perusahaan lain. Hal ini membuktikan bahwa perubahan yang dilakukan oleh organisasi dapat menjadi hal yang berisiko bagi perusahaan jika manajemen perubahan tidak dilakukan dengan baik, terlebih karena perusahaan akan selalu menghadapi perubahan tanpa akhir. 

Banyak penelitian terdahulu yang mengkaji penyebab kegagalan dan keberhasilan inisiasi perubahan. Hasilnya, menunjukkan bahwa keberhasilan tergantung pada “people factor” serta komitmen mereka terhadap perubahan yang dilakukan oleh perusahaan. Dalam beberapa penelitian, ditemukan bahwa kontribusi resistensi karyawan pada kegagalan dalam upaya perubahan perusahaan sangat besat. Temuan ini menegaskan bahwa resistensi karyawan menjadi tantangan ketika perusahaan memiliki inisiatif untuk berubah. Resistensi terhadap perubahan, secara umum banyak dijumpai pada perusahaan, termasuk di Indonesia.

Di Indonesia, adanya tekanan akibat kenaikan Upah Minimum Kabupaten (UMK) bagi dunia usaha Indonesia menjadi salah satu pemicu eksternal perusahaan untuk melakukan perubahan perusahaan. Hal ini karena, peningkatan nilai UMK tentu akan memengaruhi biaya tenaga kerja.
Berdasarkan survey yang dilakukan pada perusahaan manufaktur yang berlokasi di Indonesia. Akibat dari perubahan lingkunagn ekstenal perusahaan ini kemudian memicu perusahaan untuk membuat kebijakan. Beberapa kebijakan baru yang mulai diterapkan pada perusahaan membawa tanggapan berbeda dari karyawan, dan tentu saja ada yang melakukan resistensi pada perubahan ini. Lantas, Bagaimana perusahaan dapat mengatasi hal ini?  

Perlu dipahami, resistensi terhadap perubahan dapat terjadi karena karyawan melihat perubahan sebagai ancaman bagi kepentingan mereka di perusahaan. Mereka menganggap perubahan sebagai sesuatu yang mengganggu, dan mengancam stabilitas dan kontinuitas pekerjaan mereka serta berpotensi mengambil sesuatu yang bermanfaat bagi mereka (conflict of interest). Merujuk pada yang dipaparkan diatas, keberhasilan perubahan yang dibuat oleh organisasi sangat tergantung pada orang-orang di dalam organisasi. Sehingga tantangan selanjutnya yang dihadapi oleh pembuat kebijakan adalah menemukan dan mengelola faktor apa pun yang membuat karyawan anti terhadap perubahan.

Ada beberapa penelitian yang menemukan kebebasan, atau dalam istilah umumnya dikenal dengan job autonomy yang diberikan perusahaan dapat mengurangi resistensi karyawan terhadap perubahan. Lebih lanjut, jika perusahaan memberikan lebih banyak kebebasan bagi karyawan untuk melakukan pekerjaan mereka, penolakan mereka terhadap perubahan akan berkurang, dan sebaliknya, jika perusahaan membatasi kebebasan karyawan, resistensi mereka terhadap perubahan akan meningkat. Kebebasan yang dimaksud ini contohnya  adalah dengan memberikan keleluasaan karyawan dalam menetukan cara mereka bekerja. Kedua, perusahaan juga dapat memberikan keleluasaan karyawan untuk membuat, mempertimbangkan dan mengambil keputusan terkait pekerjaan. Selain itu, perusahaan juga dapat memperluas kesempatan karyawan untuk menggunakan skill yang mereka miliki dalam menyelesaikan pekerjaan.

Selain dengan memberikan kebebasan dalam bekerja, ternyata karyawan dengan kepercayaan diri yang tinggi juga akan membuat mereka menerima peruabahn yang terjadi. Hal ini berarti, dengan meningkatkan kepercayaan diri, atau self-efficacy, karyawan menghadapi peruabahan akan membantu perusahaan mengatasi resistensi yang terjadi akibat perubahan kebijakan. Tentu saja, dengan adanya kepercayaan diri, mereka akan lebih mudah mengelola stres kerja yang mereka alami, terutama yang terjadi akibat perubahan. Karyawan dengan kepercayaan diri yang tinggi akan selalu optimis, bahwa meskipun ada perubahan, mereka tetap akan dapat menyelesaikan pekerjaan mereka dengan baik.

Kedua solusi diatas, yaitu memberikan kebebasan dalam pekerjaan dan meningkatkan kepercayaan diri karyawan diharapkan dapat mengatasi karyawan yang anti pada peruabahan. Dengan demikian, akan membantu meningkatakan produktivitas karyawan ditengah kebijakan perusahaan yang harus berubah menghadapi tuntutan lingkungan eksternal. Meskipun begitu, kedua solusi diatas juga perlu diimbangi dengan paket kebijakan yang menitikberatkan kepada efisiensi, keefektifan dan produktivitas dari perusahaan tentunya agar perubahan perusahaan dapat mencapai keberhasilan.

Penulis: Dr. Praptini Yulianti
Informasi detail dari riset ini bisa di lihat pada:   https://www.ijicc.net/images/vol9iss8/9809_Arina_2019_E_R.pdf

Arina, Nidya Ayu, Praptini Yulianti, Tri Siwi Agustina, Luky Bagas Prakoso. 2019. Sovereignty in Working and Self-Efficacy in Company Change Initiatives: A Perspective from an Indonesian Manufacturing Company. International Journal of Innovation, Creativity and Change. Volume 9, Issue 8, 2019

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu