Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Perbaiki Perilaku dan Gaya Hidup Remaja

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Kesehatan reproduksi remaja. (Sumber: Hipwee)

Siapa yang tidak mengenal remaja? Minimal semua orang dewasa pernah mengalami dan merasakan menjadi seorang remaja. Organisasi kesehatan dunia WHO menerangkan bahwa remaja adalah orang yang berusia 12 hingga 24 tahun. Dan pada masa remaja ini manusia mengalami masa peralihan dari kanak-kanak menjadi dewasa. Artinya, secara fisik mereka sudah bisa menjadi manusia dewasa yang bisa bereproduksi akan tetapi psikologis, sosial dan ekonomi mereka masih tergantung trerhadap orang tua mereka. Remaja harusnya mengalami proses pengenalan dan mulai mendapatkan pengetahuan kesehatan reproduksi.

Melihat keadaan remaja maka menjaga kesehatan reproduksi mereka adalah hal yang sangat penting. Pada masa remaja kita mendapatkan waktu terbaik untuk membangun kebiasaan yang baik sehingga mereka bisa bertumbuh dengan kebiasaan baik dalam menjaga kebersihan dan kesehatan mereka yang nantinya akan menjadi aset dalam jangka panjang.

Reproduksi bisa diartikan sebagai proses kehidupan manusia dalam menghasilkan kembali keturunan. Sebagian orang sangat tabu dalam melihat reproduksi, karena mereka berpikir bahwa reproduksi hanya berkaitan dengan masalah seksual atau hubungan intim. Reproduksi sangat luas, menyiapkan mental mereka agar mereka berperilaku yang baik juga termasuk di dalamnya.

Keadaan yang salah dalam mengartikan reproduksi membuat banyak pihak seperti orang tua yang merasa tidak nyaman untuk membicarakan masalah tersebut pada remaja. Kesehatan reproduksi sangat luas hingga mencakup kondisi sehat yang meliputi sistem, fungsi, dan proses reproduksi.

Keadaan yang seperti itu membuat edukasi masalah kesehatan reproduksi mendapatkan hambatan dan tantangan, hal ini bisa memicu terjadinya hal-hal yang tak diinginkan. Salah satu hal yang sering terjadi karena kurangnya sosialiasi dan edukasi adalah penyakit seksual menular, kehamilan di usia muda, hingga aborsi yang berakibat pada hilangnya nyawa remaja. Semua ini dikarenakan remaja tidak mendapatkan sumber informasi yang baik dan benar yang akan bermanfaat bagi mereka.

Banyak pihak yang harusnya terjun bersama untuk membuat remaja menjadi cukup melek akan informasi kesehatan reproduksi. Pemerintah melalui Departemen Kesehatan, Pemuda dan Olahraga, Pendidikan, bahkan Agama mendapatkan tanggung jawab yang sama akan hal ini.

Selain itu, banyak pihak di luar pemerintah yang juga ditunggu perannya seperti LSM, organisasi kemasyarakatan, PKK dan juga media massa. Ketika semua mau menyuarakan hal yang sama dan memberikan perannya dalam menyediakan informasi yang benar dan mengedukasi remaja terutama dalam hal kesehatan reproduksi, maka remaja akan ditempatkan pada zona yang aman.

Peran legislatif juga memberikan kontribusi yang sangat penting dalam membuat kebijakan yang mendukung pengembangan kesehatan reproduksi remaja. Legislatif yang menempatkan aturan hukum yang memberikan ruang, kesempatan, serta kemungkinan remaja dalam mendapatkan informasi, pendidikan dan pelayanan di bidang kesehatan reproduksi.

Peran orangtua merupakan satu hal yang penting dalam edukasi seksual pada remaja, karena remaja kebanyakan masih berada dalam lingkungan keluarga sebagai pelindung, pendidik dan penyedia kebutuhan mereka.

Mengapa pengetahuan kesehatan reproduksi pada remaja sangat penting? Karena dengan memiliki pengetahuan yang tepat terhadap proses reproduksi, serta cara menjaga kesehatannya, maka akan membuat remaja mampu lebih bertanggung jawab dalam memilih perilaku dan gaya hidup yang tidak beresiko, terutama mengenai proses reproduksi.

Saat ini banyak stakeholder yang menempatkan tanggung jawab kesehatan reproduksi remaja hanya pada sektor kesehatan saja. Hal itu tentu salah besar karena remaja mempunyai kehidupan dalam kelompok sosial yang banyak, misal keluarga, sekolah, kampung, kelompok minformal, keagamaan dan masih bnayak lagi. Dengan semua stakeholder mau berjuang bersama dan mengampil peran yang sesuai, maka kesehatan reproduksi yang baik bukanlah sebuah keniscayaan.

Saat ini semua sebenarnya sudah berperan. Tinggal mengoptimalkan apa yang sudah dilakukan untuk remaja, tentunya kita bisa berjuang bersama. Remaja kana bisa mempelajari kesehatan reproduksi dengan baik dan nyaman sehingga mereka akna mendapatkan pengetahuan yang cukup dan menjadi bekal mereka kelak. (*)

Penulis: Pulung Siswantara

Artikel lengkapnya dapat diakses melalui jurnal berikut ini

https://www.ijicc.net/images/Vol11iss6/11625_Muthmainnah_2020_E_R.pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu