Preservasi Soket Pasca Pencabutan Gigi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh sehatq.com

Diabetes mellitus atau yang lebih dikenal dengan nama kencing manis, merupakan salah satu penyakit sistemik yang diakibatkan kelebihan kadar gula darah. Penyakit diabetes mellitus terbagi menjadi beberapa tipe, yang paling sering didapati adalah diabetes mellitus tipe II. The International Diabetes  Federation (IDF) menyebutkan, sebanyak 8,8% dari populasi dunia (sekitar 425 juta orang) menderita diabetes mellitus pada tahun 2017. Indonesia, sebagai Negara yang menempati urutan ke-tujuh seluruh dunia dengan penderita diabetes sebanyak 10,3 juta, dan diperkirakan pada tahun 2045, jumlah penderita diabetes mellitus di Indonesia diperkirakan mencapai 16,7 juta orang.

Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit sistemik yang memiliki efek ke seluruh bagian tubuh, termasuk pada gigi dan tulang rahang. Pada umumnya, pencabutan gigi pada pasien dengan DM aman dilakukan asalkan gula darah terkontrol dan tidak ada kondisi penyulit lainnya. Setelah dilakukan pencabutan gigi, pasien yang akan dilakukan perawatan gigi tiruan yang memerlukan tulang rahang dengan kondisi baik sebagai basis untuk gigi tiruan nya. Akan tetapi, pada penderita DM, proses penyembuhan luka setelah pencabutan gigi seringkali mengalami hambatan, sehingga dapat memengaruhi proses pembuatan gigi tiruan.

Gangguan proses penyembuhan ini disebabkan oleh terganggunya fungsi sel-sel yang bertangggung jawab atas proses penyembuhan, khususnya makrofag dan netrofil. Kondisi tidak seimbang pada penderita DM  ini mengakibatkan naiknya ekspresi substansi pencetus radang pada tubuh (sitokin pro-inflamasi) seperti interleukin-1β, interleukin- 10, dan tumor nekrosis faktor-alfa (TNF-α). Naiknya kadar sitokin pro-inflamasi menakibatkan turunnyakadari sitokin anti-inflamasi sehingga proses inflamasi berlangsung lebih lama yang mengakibatkan kerusakan jaringan yang tidak terkontrol.

Terganggunya proses penyembuhan setelah pencabutan gigi pada pasien dengan DM dapat mengakibtkan terganggunya proses pembuatan gigi tiruan pengganti, khususnya apabila direncanakan akan dilakukan pemasangan implant gigi karena memerlukan kondisi tulang yang baik untuk mendapatkan hasil yang optimal. Pada kondisi tertentu, seperti pada pasien dengan kelainan sistemik seperti DM, tulang yang tersedia tidak cukup tinggi maupun padat, yang dikarenakan proses penyembuhan yang terganggu. Oleh karena itu, dikenal metode preservasi soket, yaitu penambahan bone graft (bubuk tulang) pada soket bekas pencabutan gigi untuk membantu proses regenerasi tulang. Selain penambahan bone graft, pada preservasi soket juga dapat ditambahkan bahan yang dapat membantu proses regenerasi tulang.

Saat ini banyak penelitian yang mengembangkan berbagai material herbal yang memiliki sifat anti-inflamasi dan dapat mempercepat proses penyembuhan, serta regenerasi tulang. Beberapa bahan tersebut diantaranya adalah Spirullina dan Chitosan yang kami teliti manfaatnya untuk preservasi soket. Spirullina merupakan alga berwarna biru-kehijauan yang sering digunakan pada industry  makanan karena kaya akan asam aino, asam lemak esensial, dan antioksidan. C-phycocyanin dan β-carotene yang terkandung pada Spiullina terbukti memiliki sifat anti-inflamasi, imunomodulator, anti-oksidan, serta anti-kanker. Chitosan merupakan turunan dari chitin, yaitu substansi yang menyusun komponen struktural dari cangkang kepiting, udang, serta dinding sel jamur. Bentuk terhidrolisa dari chitosan yang disebut N-acetyl-D-glucosamine oligomer (NACOS) dan D-glucosamine oligomer (COS) diketahui memiliki sifat anti-inflamasi dan anti-kanker. Sebelumnya, studi yang dilakukan oleh Salim dkk pada tahun 2015 menyebutkan bahwa kombinasi dari Spirullina 12% dan Chitosan 20%  dapat mempercepat proses penyembuhan soket setelah pencabutan gigi dengan meningkatkan osteoblast dan mengurangi produksi osteoklas.

Tim kami mengadakan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan efek kombinasi Spirullina 12% dan Chitosan 20% terhadap penyembuhan pasca pencabutan gigi. Pada penelitian ini, kami meneliti efeknya terhadap sitokin yang berperan dalam proses inflamasi, yaitu Interleukin Beta (IL-β), Tumor Necrosis Factor Alpha (TNF-α), dan Interleukin 10 (IL-10). Penelitian ini menggunakan hewan coba tikus Rattus norvegicus jantan, usia tiga bulan,berjumlah 36 ekor yang dibagi menjadi 6 kelompok. Hewan coba tersebut diberi medikasi sehingga menjadi DM, kemudian gigi insisif rahang bawahnya dilakukan pencabutan, dan di soket bekas pencabutannya diberi CMCNa sebagai kontrol.

Pada kelompok perlakuan diberi kombinasi gel Spirullina 12% dan chitosan 20% . Pada grup kontrol, grup K1 hewan coba dieksekusi satu hari setelahnya, grup K2 dieksekusi 3 hari setelahnya, dan grup K3 dieksekusi 7 hari setelahnya. Pada grup perlakuan, grup P1 dieksekusi 1 hari setelahnya, grup P2 dieksekusi 3 hari setelahnya, dan grup P3 dieksekusi 7 hari setelahnya. Setelah itu, hasil dianalisan secara statistic, kemudian didapatkan hasil bahwa kombinasi spirullina 12% dan chitosan 20% dapat menurunkan kadar sitokin pro-inflamasi seperti TNF-α dan IL-1β karena kedua material tersebut memiliki sifat anti-inflamasi melalui mekanisme blok NF-κβ. Selain itu, kombinasi spirullina 12% dan chitosan 20%  memiliki efek signifikan pada grup perlakuan hari pertama.

Kesimpulannya, kombinasi spirullina gel 12% dan chitosan 20% efektif menekan sitokin pro-inflamasi sehingga dapat menjadi bahan yang dipakai untuk prserevasi soket pasca pencabutan gigi sehingga meningkatkan kepadatan tulangnya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan alternatif bahan untuk preservasi soket untuk mempertahankan kepadatan tulang rahang sebelum pembuatan gigi tiruan.

Penulis: Dr. Nike Hendrijantini., drg., MKes., Sp.Pros (K)
nformasi detail dari penelitian ini dapat dilihat di:

https://doi.10.15562/bmj. https://www.balimedicaljournal.org/index.php/bmj/article/view/1625 v9.1625

Hendrijantini, Nike;Sitalaksmi, Ratri Maya; Ari, Muhammad Dimas Aditya; Hidayat, Tiffany Josephine; Putri, Prisca Agustina Nurcahyani; Sukandar, Daniel. (2019). The expression of TNF-α, IL-β, and IL-10 in the Diabetes Mellitus Condition Induced by the Combination of Spirullina and Chitosan. Bali Med J. 2020; 9(1): 22-26. https://doi.10.15562/bmj.v9.1625

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu