Heboh! Kasus Pembunuhan Oleh Remaja, Ini Tanggapan Pakar Psikologi UNAIR

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dr. Nurul Hartini, S.Psi., M.Kes., Psikolog pakar Psikologi Keluarga dan Kesehatan Mental Univesitas Airlangga. (Foto: Andri Hariyanto)

UNAIR NEWS – Baru-baru ini, masyarakat digemparkan dengan kasus anak berusia 15 tahun yang membunuh teman bermainnya yang masih berusia lima tahun. Kasus seperti ini jarang terjadi dan tidak bisa disamakan dengan kasus-kasus pembunuhan pada umumnya.

Melihat kasus tersebut, Dr. Nurul Hartini, S.Psi., M.Kes., Psikolog sebagai pakar Psikologi Keluarga dan Kesehatan Mental Univesitas Airlangga (UNAIR) meyakini bahwa terdapat banyak faktor yang mempengaruhi kejadian pembunuhan ini terjadi, seperti hubungan anak dengan situasi lingkungan sekitar.

“Secara psikologis, bagaimana anak ini berperilaku, berfikir, dan berperasaan, sehingga mampu melakukan perilaku kejahatan, jika merujuk pada paradigma psikoanalisis, maka kita selalu yakin ada suatu pengalaman belajar, serta pengalaman masa lalu yang mampu memberikan dasar-dasar pemikiran yang membuat dia membangun proses kecemasan dalam dirinya,” ujar Nurul, Rabu (11/3/2020)

Dosen yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Psikologi tersebut melanjutkan, proses kecemasan pada anak dapat dibentuk oleh hal-hal yang pernah terjadi dan tidak bisa lepas dari relasi dengan orang-orang yang ada di sekitar lingkungan. Dalam hal ini, kecemasan tersebut berkembang menjadi dua dalam diri seorang individu. Yakni berbentuk agresif yang bersifat ke luar dan agresif yang bersifat ke dalam.

“Agresif keluar ini memunculkan perilaku kekerasan menyakiti orang lain, dan kalau ke dalam akan membentuk perilaku untuk menyakiti diri sendiri. Dua duanya sangatlah berbahaya,” lanjutnya.

Maka, lanjut Nurul, perilaku pada kasus pembunuhan anak ini termasuk bentuk agresifitas yang keluar. Individu seperti ini biasanya mempunyai sosialisasi yang lemah, sehingga cenderung senang berteman dengan anak-anak yang usianya jauh di bawahnya, karena dengan begitu ia mampu menunjukkan power dirinya.

Nurul juga menambahkan, kurang harmonisnya komunikasi antara anak dengan orang tua juga diyakini menjadi faktor utama anak melakukan kejahatan ini. Karena dasar pembentukan kepribadian anak ditentukan pada umur lima tahun pertama. Kebutuhan yang tidak terpenuhi pada usia awal ini menyebabkan anak membutuhkan kebutuhan afeksi yang sangat kuat.

“Kurangnya kasih sayang, sentuhan, dekapan, ataupun berbagai hal yang memang sangat diperlukan untuk anak-anak untuk membangun dasar-dasar kepribadian yang sangat penting untuk membentuk kepercayaan kepada orang lain bahwa dunia ini adalah dunia yang menyenangkan, damai, dan aman untuk ditinggali,” ujarnya.

Banyak pihak yang menyimpulkan bahwa kasus pembunuhan anak oleh remaja 15 tahun itu adalah kasus psikopat. Menurut Nurul, penyimpulan kasus seperti ini tidak bisa gegabah untuk disimpulkan bahwa subjek adalah psikopat, karena dibutuhkan assessment yang mendalam dan falid, sehingga tidak menimbulkan stigma negatif dari masyarakat.

“Dengan labeling stigma negatif yang ditujukan untuk anak ini akan dapat membunuh masa depan anak,” tambahnya.

Nurul mengungkapkan bahwa semua kejadian seperti itu basisnya pada keluarga. Karena keluarga merupakan sekolah yang pertama dan utama untuk anak. Utamanya dari keluarga inilah orang tua akan memberikan pola asuh yang tepat kepada anak, yang kemudian akan membentuk kepribadian pada seorang anak.

“Setiap anak memiliki pola asuh yang berbeda, dan orang tualah yang paling tau karakteristik anaknya seperti apa,” terang Nurul.

“Yang jelas bahwa relasi antara orang tua dan anak diperlukan adanya intensitas, kuantitas, serta kualitas yang akan meletakkan dasar-dasar kepribadian pada anak tersebut,” tutupnya.

Penulis: Febrian Tito Zakaria Muchtar

Editor: Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu