Popularitas Destinasi Wisata dan Tendensi Pamer Sebagai Penentu E-WOM Konsumen

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh dbs.com

Portofolio produk destinasi Indonesia khususnya wisata alam memiliki potensi sebesar 35 persen, yang terdiri dari wisata bahari sebesar 35 persen, ekowisata 45 persen dan untuk wisata petualangan (adventure tourisme) memiliki potensi sebesar 20 persen (www.kemenpar.go.id). Meskipun wisata petualangan memiliki potensi kuantitas yang lebih kecil dibandingkan portofolio destinasi alam yang hanya sebesar 20 persen,  namun wisata petualangan ini telah memiliki pertumbuhan paling cepat dibandingkan dengan industri pariwisata lain karena wisata ini telah memberikan kontribusi sebesar 67 persen pengeluaran wisatawan petualangan terjadi di daerah (destinasi) yang dikunjungi (Adventure Travel Trade Association; www.jawapos.com).

Potensi konsumsi tersebut juga didukung pergeseran pada sisi konsumsi, masyarakat saat ini yang lebih banyak membelanjakan uangnya pada leisure, pengalaman, hiburan dan wisata sehingga status gengsi seseorang bukan lagi persoalan memiliki barang mewah, tapi pengalaman dan petualangan apa saja yang pernah dia jalani.

Meskipun pertumbuhan industri pariwisata alam saat ini sangat menjanjikan dan didukung dengan pergeseran pola konsumsi dan kehadiran teknologi dalam bermedia sosial,  namun sedikit kajian yang dilakukan terkait faktor yang dapat meningkatkan aktivitas electronic word of mouth (E-WOM) wisatawan dalam konteks wisata petualangan. Dukungan akses bermedia sosial saat ini, menjadikan pilihan instan dalam menunjukkan kebutuhan pamer wisatawan begitu juga pilihan tempat tujuan wisata yang populer memberikan sinyal bagi wisatawan tentang kualitas tempat tujuan wisata.

Popularitas tempat tujuan wisata akan dapat menjadi rujukan atau sinyal bagi pengunjung bahwa tempat tujuan wisata tersebut mempunyai pengalaman yang  dapat dikonsumsi seperti karena keunikan, kebaruan, kualitas, nilai yang akan dirasakan pengunjung bahkan juga pengunjung menjadi bagian dari pengunjung lain (Dean 1999; Kim & Chung, 199,  Erdem et al., 2002).

Dengan demikian jika wisatawan mendapatkan informasi tentang destinasi yang didukung banyak orang  maka akan dianggap mencerminkan pilihan tempat tujuan wisata berkualitas, menjadi informasi berguna, wisatawan akan percaya diri jika mengunjungi tempat tujuan wisata yang populer. Sebaliknya jika wisatawan yang mengunjungi tempat tujuan wisata yang tidak populer merasa sebagai pilihan berisiko daripada yang populer, maka semakin populer tempat tujuan wisata akan dapat meningkatkan nilai yang akan dirasakan wisatawan

Dalam perspektif industri pariwisata, pengalaman wisatawan akan mempengaruhi aktivitas EWOM wisatawan. Penelitian mengenai EWOM yang dipengaruhi oleh nilai dari pengalaman sudah banyak dilakukan, Nina & Sara, (2016); Prebensen et al., (2013); Williams & Soutar, (2009), nilai pengalaman yang dirasakan tersebut adalah nilai fungsional, kondisional, sosial, emosional, dan nilai epistemik. Nilai atas pengalaman mencakup interaksi yang memberikan preferensi relative individu yang terlibat. Oleh karena itu, persepsi nilai pengalaman, khususnya mengenai liburan, melibatkan wisatawan yang ikut serta dalam penciptaan sebuah nilai. Penelitian Williams et al., (2017) bahwa nilai emosional dan nilai kebaruan menjadi prediktor kuat kepuasan wisatawan.

Nilai pengalaman yang diperoleh dalam melakukan aktivitas wisata akan dapat memengaruhi aktivitas EWOM jika mengunjungi tempat tujuan wisata. Wisatawan akan mendapatkan rasa bangga, rasa nyaman, rasa bahagia, dan rasa percaya diri. Mendapatkan pengalaman sesungguhnya, dapat memuaskan rasa ingin tahu, wisatawan  merasa menjadi seperti seorang petualang, mendapatkan pengalaman yang unik dan mendapatkan pengalaman baru. Dengan demikian aktivitas EWOM wisatawan akan semakin meningkat, berbeda jika wisatawan kecewa ketika berkunjung pada tempat tujuan wisata maka wisatawan enggan untuk berbagi informasi positif.

Berkembangnya platform media elektronik berbasis internet telah memberikan dampak perkembangan pada aktivitas masyarakat khususnya aktivitas EWOM dengan melakukan komentar, ulasan, berbagi gambar di media-media berbasis internet. Berdasarkan uraian yang telah disajikan, pentingnya pemahaman penyedia layanan destinasi terhadap peningkatan E-WOM. Seringkali  E-WOM dihubungkan dengan nilai yang dirasakan oleh sisi internal konsumen saja. Oleh karena itu, perspektif baru dalam sektor jasa tempat tujuan wisata. Penyedia layanan untuk dapat unggul dan berbeda dengan tempat tujuan wisata petualangan dengan menekankan pada sisi internal konsumen dan eksternal konsumen. Peningkatan aktivitas E-WOM wisatawan dapat popularitas destinasi, tendensi conspicuous, nilai pengalaman.

Hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi manajerial diantaranya adalah dengan adanya variabel aktivitas pamer wisatawan yang memiliki pengaruh paling besar baik terhadap nilai yang dirasakan oleh wisatawan maupun aktivitas electronic word of mouth, pengelola tempat tujuan wisatawan perlu mengelola tempat tujuan wisata petualangan yang dapat menimbulkan wisatawan ingin menunjukkan siapa dirinya atas dampak kunjungan wisata. Pada hubungan mediasi, pengelola wisata harus memperhatikan peran penting nilai yang akan diberikan kepada wisatawan. sebuah nilai yang akan dirasakan oleh wisatawan memiliki,  sehingga akan mampu menggerakan nilai yang akan dirasakan oleh pengunjung.

Penulis: Dien Mardhiyah

Detail tulisan ini dapat dilihat di:

https://www.ijicc.net/images/vol11iss1/11139_Hartini_2020_E_R.pdf

Sri Hartini, Dien Mardhiyah, Sukaris Sukaris. 2020. Determinant of E-WOM: Popularity Destination, Value and Conspicuous Tendency regarding Adventure Tourism. International Journal of Innovation, Creativity and Change. www.ijicc.net  Volume 11, Issue 1.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu